Ternyata Bernutrisi, Ikan Sapu-Sapu Juga Mengandung Risiko Logam Berat
Meskipun ikan sapu-sapu memiliki kandungan protein, risiko kesehatan yang ditimbulkan akibat mengonsumsinya lebih tinggi.
Ahli kesehatan lingkungan, dr. Dicky Budiman, M.Sc.PH., Ph.D., menyatakan bahwa ikan sapu-sapu memiliki kandungan protein yang tinggi dan lemak yang rendah. Meskipun demikian, ia tidak merekomendasikan konsumsi ikan ini karena risiko kesehatan yang lebih besar.
"Memang secara nutrisi proteinnya relatif tinggi dengan lemak rendah, tapi ini bukan isu utama, risiko kesehatannya lebih dominan," ujar Dicky saat dihubungi Health Liputan6.com, Minggu (19/4).
Menurutnya, berdasarkan bukti ilmiah, ikan ini dapat mengakumulasi logam berat yang berbahaya bagi kesehatan.
Di beberapa negara tropis, ikan sapu-sapu diketahui mengandung merkuri, timbal, dan kadmium dalam jumlah yang signifikan.
"Apalagi jika ikannya ada di sungai perkotaan atau industri, ya risikonya semakin meningkat," tambahnya.
Oleh karena itu, dampak dari mengonsumsi ikan sapu-sapu dapat mengganggu sistem saraf, serta menyebabkan masalah pada ginjal dan darah, bahkan meningkatkan risiko kanker.
Selain itu, ikan ini juga sering terpapar mikroorganisme patogen seperti virus, jamur, parasit, dan bakteri, sehingga berpotensi mengandung bakteri seperti E. coli yang dapat menyebabkan infeksi saluran pencernaan yang ditandai dengan gejala seperti diare parah, kram perut, mual, muntah, dan demam.
Ledakan populasi ikan sapu-sapu dapat dianggap sebagai indikator yang jelas dari degradasi kualitas air di suatu perairan.
"Karena dia hidup di dasar dan mengonsumsi sedimen, jadi dia berpotensi mengakumulasi logam berat seperti timbal, juga menyerap polutan organik yang persisten. Ini menjadi jembatan penting ke isu kesehatan manusia yang serius," tutup Dicky.
Dengan demikian, penting untuk mempertimbangkan risiko kesehatan yang mungkin ditimbulkan sebelum mengonsumsi ikan ini.
Mempelajari karakteristik ikan sapu-sapu
Ikan sapu-sapu merupakan spesies yang bersifat invasif dan dapat mengganggu keseimbangan ekosistem. Asal habitat ikan ini adalah Sungai Amazon di Amerika Selatan, sehingga bukan merupakan spesies asli Indonesia. Ikan sapu-sapu memiliki kemampuan untuk bertahan hidup dalam kondisi ekstrem, termasuk di lingkungan dengan kadar oksigen rendah dan air yang tercemar.
Selain itu, ikan ini memiliki tingkat reproduksi yang cepat dengan sedikit predator alami yang dapat mengendalikannya.
"Dampaknya secara ekologis, kompetisi dengan ikan lokal akhirnya menyebabkan penurunan keanekaragaman hayati. Dan ini yang bisa mengganggu juga rantai makanan, akhirnya monopoli ekosistem," jelas Dicky.
Selain dampak ekologis, ikan sapu-sapu juga berpotensi menyebabkan degradasi fisik pada sungai. Ikan ini seringkali membuat lubang di tebing sungai yang bisa menyebabkan kerusakan lebih lanjut.
"Jadi ada potensi erosi tebing dan sedimentasi bertambah juga kekeruhan air meningkat. Artinya, ini akan menurunkan kualitas habitat ikan yang lain," tambahnya.
Dengan kondisi tersebut, penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan mencegah penyebaran ikan sapu-sapu lebih lanjut.
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5554429/original/033312200_1776070649-Infografis_Ikan_Sapu-Sapu_CMS.jpg)