Bangladesh Diambang Krisis BBM Imbas Perang AS-Iran, Naikkan Harga Eceran hingga 15 Persen
Para pejabat secara terbuka mengakui bahwa kenaikan harga BBM sudah tidak dapat dihindari lagi.
Bangladesh telah mengumumkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) eceran antara 10 persen hingga 15 persen. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap lonjakan harga minyak mentah global dan pengetatan pasokan yang disebabkan oleh konflik di Timur Tengah.
Kementerian Energi Bangladesh mengumumkan perubahan harga tersebut pada Sabtu (18/4). Menurut laporan resmi yang dikutip dari CNA, harga bensin kini menjadi 135 taka (USD 1,10 atau sekitar Rp18.900) per liter, meningkat dari 116 taka sebelumnya. Sementara itu, harga solar ditetapkan pada 115 taka per liter, dan minyak tanah menjadi 130 taka per liter.
Tergantung Impor BBM
Pejabat setempat menyatakan bahwa kenaikan harga ini tidak dapat dihindari karena beberapa faktor, seperti meningkatnya harga minyak mentah, gangguan dalam rantai pasokan, serta kenaikan biaya pengiriman dan asuransi yang berdampak pada biaya impor. Keadaan ini semakin memburuk setelah harga minyak melonjak akibat perang Iran yang berlangsung selama tujuh minggu.
Kenaikan biaya BBM di Bangladesh, yang sangat bergantung pada impor energi, kini memberikan tekanan pada cadangan devisa negara tersebut yang sudah dalam kondisi kritis. Sebelumnya, pemerintah telah berupaya melindungi konsumen melalui subsidi, penundaan penyesuaian harga, serta pengendalian stok yang lebih ketat, tetapi langkah-langkah ini semakin sulit untuk dipertahankan seiring dengan terus meningkatnya harga global.
Dhaka juga telah mengajukan lebih dari USD 2 miliar untuk pembiayaan eksternal guna mengamankan impor energi. Kelangkaan BBM telah menyebabkan antrean panjang di stasiun pengisian, di mana pejabat menyalahkan aksi pembelian panik dan penimbunan yang semakin memperburuk situasi.
Kenaikan harga terbaru ini diperkirakan akan menambah tekanan inflasi, terutama di sektor transportasi dan pertanian yang sangat bergantung pada solar, sehingga berpotensi mendorong kenaikan harga pangan dan biaya hidup secara keseluruhan. Bangladesh kini menjadi salah satu dari banyak negara yang menyesuaikan harga BBM domestik sebagai respons terhadap lonjakan harga minyak global.