Fakta Baru: Mumi Tertua di Dunia Bukan dari Mesir, tapi Asia Tenggara
Apa penjelasan mengenai kesamaan yang ditemukan pada mumi tertua di berbagai daerah di Asia Tenggara?
Ketika mendengar istilah mumi, pikiran kita sering kali langsung mengarah pada Mesir kuno. Sejak sekitar tahun 2600 SM hingga abad ke-7 Masehi, masyarakat Mesir melakukan rangkaian ritual yang rumit untuk mengawetkan tubuh para bangsawan dan menguburkannya dalam makam yang dipenuhi harta emas.
Namun, ternyata praktik pengawetan tubuh ini tidak hanya terjadi di Mesir. Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa tradisi ini sudah ada jauh lebih awal di Asia Tenggara, sebagaimana dilansir oleh Mental Floss pada Jumat (19/9/2025).
Penemuan ini memberikan gambaran bahwa peradaban kuno yang terpisah oleh lautan mungkin memiliki hubungan budaya yang lebih dalam.
Temuan yang Mengejutkan
Tim peneliti dari Australian National University bersama beberapa lembaga lainnya melakukan penelitian terhadap 54 sisa jasad manusia yang berasal dari China, Indonesia, dan wilayah Asia Tenggara lainnya, yang diperkirakan berasal dari 12.000 hingga 4.000 SM.
Dengan menggunakan teknologi canggih seperti difraksi sinar-X, mereka menemukan bahwa jasad-jasad tersebut sengaja diawetkan melalui proses pengasapan di atas api.
Sebelumnya, para arkeolog menganggap bahwa budaya Chinchorro di Peru dan Chile merupakan yang pertama kali melakukan mumifikasi sekitar 5.000 SM.
Namun, temuan baru ini menunjukkan bahwa praktik tersebut sudah ada jauh lebih awal, bahkan sejak era Neolitikum.
"Pola-pola ini menunjukkan adanya kerangka kerja yang disengaja dalam memperlakukan orang mati, yang kemungkinan tertanam dalam sistem kepercayaan sejak 10.000 tahun lalu," ungkap para peneliti dalam publikasi mereka.
Tradisi yang Mirip
Sisa-sisa jasad yang ditemukan di Asia Tenggara menunjukkan kesamaan dengan penemuan arkeologi di Australia dan Papua Nugini, baik dalam hal teknik pengasapan maupun posisi tubuh yang ditekuk.
Menariknya, hingga tahun 1950-an, sebagian masyarakat di Papua Nugini masih memanfaatkan asap sebagai metode untuk mengawetkan jasad.
Kesamaan ini memberikan petunjuk yang signifikan mengenai kemungkinan adanya tradisi budaya yang serupa di antara kelompok manusia purba yang terpisah secara geografis.
Para peneliti mencatat bahwa kemiripan mumi asap yang ditemukan di China selatan, Papua Nugini, dan Australia mungkin terkait dengan migrasi awal Homo sapiens dari Afrika lebih dari 60.000 tahun yang lalu. Namun, mereka juga mengingatkan bahwa kesamaan ini bisa jadi hanyalah kebetulan semata.