Mengenal Lukah Gilo, Kesenian Tradisional Suku Minangkabau Berunsur Magis Mirip Jailangkung
Sebuah kesenian tradisional dari Minangkabau ini sangat kental dengan unsur magis dan supranatural.
Sebuah kesenian tradisional dari Minangkabau ini sangat kental dengan unsur magis dan supranatural.
Mengenal Lukah Gilo, Kesenian Tradisional Suku Minangkabau Berunsur Magis Mirip Jailangkung
Tiap daerah di Indonesia tentunya memiliki kesenian tradisional yang tak lepas dari unsur magis ataupun kekuatan supranatural. Bagi mereka, kesenian tersebut masih bagian dari kepercayaan dan menjadi bagian dari seni budaya. (Foto: indonesiakaya.com)
Lukah Gilo merupakan sebuah kesenian tradisional yang populer di kalangan masyarakat Minangkabau. Secara umum, kesenian ini tak jauh berbeda dengan Jailangkung yang dikendalikan oleh seorang pawang.
Seperti apa kesenian tradisional Lukah Gilo dari Suku Minangkabau tersebut? Simak informasi selengkapnya yang dihimpun dari berbagai sumber berikut ini.
Asal-usul Lukah Gilo
Beberapa unsur dari kesenian tradisional masih sangat berkaitan erat dengan hal-hal yang berbau mistis dan magis, begitu juga halnya dengan Lukah Gilo ini.
Istilah Lukah Gilo sendiri berasal dari bahasa Minang yaitu "Lukah" yang artinya alat tangkap yang terbuat dari anyaman rotan. Sedangkan "Gilo" berarti gila. Maka, arti keseluruhan dari Lukah Gilo ini adalah alat tangkap ikan yang terbuat dari rotan dan mampu bergerak seperti orang gila.
Kesenian ini diperkirakan sudah muncul sejak masa kerajaan Raja Adityawarman. Saat itu, setiap upacara ritual kerajaan pasti menggunakan kekuatan yang berunsur animisme dan dinamisme. Seiring berjalannya waktu, Lukah Gilo berubah menjadi kesenian rakyat yang populer.
Tarian Unik nan Sakral
Faktor yang menjadikan kesenian ini unik dan sangat kental dengan unsur sakral ada pada gerakan Lukah yang akan kerasukan jin. Biasanya Lukah diberi mantra oleh Kulipah agar kerasukan oleh makhluk halus.
Bagi masyarakat Minangkabau, pagelaran seni ini akan semakin sakral apabila dari salah satu atau dua penonton yang kerasukan jin dari dalam Lukah Gilo. Lukah sendiri berbentuk seperti boneka yang nanti akan bergerak sembarangan tetapi mengikuti iringan musik tradisionalnya.
Pelaksanaan Lukah Gilo
Dalam pelaksanaannya, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, seperti menghidangkan sesaji berupa makanan dan minuman, ramuan jeruk, kembang, darah ayam, dupa, dan berbagai jenis makanan lainnya.
Sesajen ini nantinya sangat diperlukan oleh Kulipah dalam memanggil jin. Selama pertunjukan berlangsung akan diiringi dengan alat-alat musik serta nyanyian tradisional Minang.
Untuk waktunya, biasanya Lukah Gilo akan berlangsung malam hari. Karena menurut Kulipah jika malam hari itu memudahkan dirinya untuk memanggil jin. Selain itu, pemilihan waktu malam hari juga menyebabkan pertunjukan ini semakin terasa magis dan sakral.