Tradisi Rayo Anam di Pasaman Barat Berpotensi Jadi Destinasi Wisata Religi Internasional

Bupati Pasaman Barat Yulianto melihat Tradisi Rayo Anam di Lubuak Landua sebagai potensi besar wisata religi, bahkan hingga kancah internasional, yang perlu terus dilestarikan.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Tradisi Rayo Anam di Pasaman Barat Berpotensi Jadi Destinasi Wisata Religi Internasional
Bupati Pasaman Barat Yulianto melihat Tradisi Rayo Anam di Lubuak Landua sebagai potensi besar wisata religi, bahkan hingga kancah internasional, yang perlu terus dilestarikan. (AntaraNews)

Bupati Pasaman Barat Yulianto menyatakan bahwa tradisi peringatan hari raya keenam atau "Rayo Anam" di Lubuak Landua, Kecamatan Pasaman, memiliki potensi besar. Tradisi ini tidak hanya sekadar ritual keagamaan, tetapi juga bisa dikembangkan menjadi destinasi wisata religi yang menarik. Peringatan ini secara rutin dilaksanakan setiap tahun pada hari keenam setelah perayaan Idulfitri.

Pada Sabtu (28/3), peringatan Tradisi Rayo Anam diisi dengan kegiatan "manjalang buya" atau mengunjungi ulama di Lubuak Landua. Selain itu, masyarakat juga mengunjungi surau atau musala yang sejak dahulu kala telah menjadi pusat pengembangan ajaran agama Islam. Kegiatan ini merupakan bagian penting dari upaya menjaga warisan budaya dan spiritual.

Tradisi ini juga menjadi bentuk penghormatan kepada Syekh Lubuak Landua, sosok yang berperan penting dalam penyebaran Islam di wilayah tersebut. Pemerintah daerah berharap Lubuak Landua dapat berkembang menjadi tujuan wisata religi yang dikenal luas, tidak hanya di tingkat lokal tetapi juga internasional, dengan dukungan semua pihak.

Bupati Yulianto menegaskan bahwa Tradisi Rayo Anam merupakan aset berharga bagi Pasaman Barat. Ia melihat perayaan ini sebagai peluang untuk menarik wisatawan yang tertarik pada nilai-nilai spiritual dan budaya lokal yang kaya. Pengembangan ini diharapkan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar.

Lubuak Landua, khususnya di Jorong Lubuk Landur, telah lama dikenal sebagai pusat penyebaran Islam di Nagari Aua Kuniang. Keberadaan surau yang didirikan oleh Buya Lubuk Landur menjadi bukti sejarah yang kuat. Surau ini tidak hanya digunakan untuk ibadah harian, tetapi juga untuk kegiatan suluk pada waktu-waktu tertentu, menunjukkan kedalaman spiritual masyarakatnya.

Peringatan Tradisi Rayo Anam mencakup kunjungan ke surau-surau bersejarah tersebut, yang memperkuat narasi wisata religi. Tradisi "manjalang buya" juga menjadi daya tarik tersendiri, menampilkan kearifan lokal dalam menghormati para ulama. Sinergi antara pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan generasi muda sangat krusial untuk mewujudkan visi ini.

Pelestarian Tradisi Rayo Anam membutuhkan partisipasi aktif dari berbagai elemen masyarakat. Bupati Yulianto menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah, para tokoh adat, serta generasi muda dalam menjaga dan mengembangkan potensi daerah. Kebersamaan ini menjadi kunci utama untuk mencapai cita-cita pembangunan Pasaman Barat yang lebih maju.

Prosesi Tradisi Rayo Anam diawali dengan iringan jalan kaki yang melibatkan "bundo kanduang" atau kaum perempuan, yang menjunjung "jamba" atau makanan. Mereka diikuti oleh Bupati, Wakil Bupati, anggota DPRD, ninik mamak, KAN, alim ulama, serta berbagai unsur masyarakat adat lainnya. Prosesi ini menunjukkan kekayaan budaya dan kebersamaan yang kuat.

Indra, perwakilan keluarga Buya Lubuak Landua, menyampaikan apresiasi atas kehadiran dan dukungan pimpinan daerah. Ia menilai bahwa dukungan ini merupakan bentuk komitmen terhadap pelestarian tradisi dan kearifan lokal. Indra juga mengajak seluruh masyarakat untuk senantiasa menjaga kedamaian dan keharmonisan di nagari, menyelesaikan setiap dinamika dengan kepala dingin dan bersandar pada nilai-nilai agama.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi