Kesenian Mengmleng yang Melegenda di Ciamis, Kisahkan Anak Raja saat Dikhitan
Mengmleng merupakan pementasan tradisional dengan menampikan hewan macan tiruan.
Mengmleng merupakan pementasan tradisional dengan menampikan hewan macan tiruan.
Kesenian Mengmleng yang Melegenda di Ciamis, Kisahkan Anak Raja saat Dikhitan
Ingin melihat kesenian khas Ciamis yang berbeda? Datanglah ke Desa Winduraja, Kecamatan Kawali. Di sini terdapat kebudayaan warisan Kerajaan Galuh bernama Mengmleng.
Mengmleng merupakan pementasan tradisional dengan menampikan hewan macan tiruan. Selanjutnya akan ada seseorang yang bertingkah layaknya kucing besar itu saat ngamuk.
Kesenian ini turut diiringi musik tradisional seperti kendang, gong, dan karinding. Nada yang dimainkan terkesan magis dan menggambarkan sosok macan besar yang menemani anak raja sebelum dikhitan pada masa silam.
Dulunya Teman Anak Raja yang Disunat
Mengutip laman galuhvirtual.ciamiskab.go.id, mengmleng ini memiliki arti kucing besar atau macan yang dahulu jadi teman anak raja Kerajaan Galuh, Pangeran Mahadikusumah, Prabu Maharaja Sakti Kerajaan Sunda yang akan disunat.
Anak tersebut sebelumnya mengajukan permintaan agar dirinya mau disunat, yakni menaiki macan yang besar. Namun pihak keluarga tidak bisa memenuhinya karena sangat beresiko, akhirnya pihak kerajaan membuat tiruannya dari kayu dan kain hingga mirip hewan macan.
Konon, mengmleng ini sudah kental dengan aura magis sejak awal dipentaskan oleh pihak kerajaan tersebut.
Seperti Mengamuk
Dalam kanal YouTube Sundawa TV, ditampilkan kesenian mengmleng yang atraktif sekaligus menghibur. Di sana, terdengar alunan musik tradisional dengan nada yang kelam.
Gong digunakan sebagai bass, dan kendang serta karinding sebagai melodinya. Karinding sendiri merupakan alat musik yang dimainkan menggunakan mulut. Suaranya mirip getaran, dengan nada yang tinggi.
Musik yang mengiringi mengmleng bertempo sedang hingga cepat, dan diikuti oleh gerakan macan seperti kesurupan.
Tak Boleh Dimainkan Sembarangan
Kekuatan magis memang kental di balik kesenian ini. Pementasannya pun konon tak boleh dilakukan sembarangan dan harus diawali melalui ritual serta doa.
Kesenian mengmleng biasa ditampilkan di acara-acara kebudayaan, macam pesta panen, hari jadi wilayah, sampai hajatan khitan.
Mengmleng masih terus dilestarikan oleh warga di Kecamatan Kawali sebagai bagian dari warisan nenek moyang zaman Kerajaan Galuh di masa silam.
Hanya Bisa Ditunggangi Keturunan Raja Kerajaan Galuh
Dalam laman Visit Ciamis, dikatakan bahwa hewan mengmleng yang dipentaskan saat ini tidak boleh sembarangan ditunggangi. Ini terkait fungsi sakralnya di masa silam yang hanya bisa ditunggangi anak raja.
Mengmleng pun sampai sekarang hanya boleh dinaiki oleh keturunan raja dari Kerajaan Galuh di setiap penampilannya.
Karena masih terjaga keasliannya sejak zaman kerajaan, kesenian mengmleng ini bisa masuk ke dalam warisan budaya tak benda (WBTB).
Gambar: galuhvirtual.ciamiskab.go.id