Proyek Gapura: Digitalisasi Budaya Sunda Targetkan Pendanaan Rp22 Miliar, Selamatkan Warisan dari Ancaman Digital
Proyek Gapura Digitalisasi Budaya Sunda, inisiasi PSS dan Aryadhara Foundation, bertujuan melestarikan dan menciptakan peluang ekonomi bagi pelaku budaya, didukung teknologi Web3 dan potensi pendanaan hingga Rp22 Miliar.
Pusat Studi Sunda (PSS) bersama Aryadhara Foundation Limited meluncurkan Proyek Gapura, sebuah inisiatif ambisius untuk mendigitalisasi Budaya Sunda. Proyek ini tidak hanya berfokus pada pelestarian warisan budaya, tetapi juga berupaya menciptakan peluang ekonomi baru bagi para pelaku budaya di tengah derasnya arus digitalisasi global. Inisiatif ini diharapkan dapat menjembatani identitas budaya lokal dengan masa depan digital yang regeneratif, partisipatif, dan berlandaskan nilai-nilai.
Proyek Gapura merupakan inisiatif strategis yang berfokus pada pelestarian warisan budaya Sunda melalui literasi, digitalisasi, dan tata kelola berbasis komunitas. Seluruh upaya ini didukung penuh oleh pemanfaatan teknologi Web3 (Web 3.0), yang menawarkan transparansi dan partisipasi lebih luas. Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) pada 11 September 2025 menjadi tonggak penting kolaborasi antara PSS dan Aryadhara Foundation di Bandung.
Inisiatif ini lahir sebagai respons terhadap dua ancaman kritis yang dihadapi warisan budaya lokal di era digital, yaitu keterputusan antar generasi dan dominasi konten global. Ancaman tersebut, menurut Ketua Pusat Studi Sunda, Burhanuddin Abdullah, mengikis nilai-nilai asli budaya. Proyek ini diharapkan dapat mencegah hilangnya situs keramat, bahasa, tradisi, dan sejarah lisan yang tidak memiliki jejak digital.
Ancaman Budaya di Era Digital dan Respon Proyek Gapura
Warisan budaya lokal saat ini menghadapi tantangan serius di tengah gelombang digitalisasi yang semakin cepat. Burhanuddin Abdullah, Ketua Pusat Studi Sunda dan inisiator Proyek Gapura, menyoroti bahwa keterputusan antar generasi menjadi salah satu ancaman utama. Generasi muda semakin terlepas dari akar budaya mereka karena dominasi konten global yang digerakkan oleh algoritma.
“Situs keramat, bahasa, tradisi, dan sejarah lisan menghilang tanpa jejak digital, sementara generasi muda semakin terlepas dari akar budaya mereka,” kata Burhanuddin dalam keterangannya. Kondisi ini mendesak adanya upaya konkret untuk melestarikan dan menghidupkan kembali nilai-nilai budaya yang terancam punah.
Sebagai respons atas ancaman tersebut, PSS berinisiatif meluncurkan Proyek Gapura dengan dukungan Aryadhara Foundation (Singapura). Kolaborasi strategis ini ditegaskan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) pada 11 September 2025. MoU ini menjadi dasar bagi kerja sama di bawah program unggulan Aryadhara, Arya Kultura, yang bertujuan menjembatani identitas budaya lokal dengan masa depan digital.
Inovasi Pendanaan dan Teknologi Web3 untuk Pelestarian Budaya
Komitmen Aryadhara Foundation terhadap dukungan teknologi dan inovasi pendanaan menjadi tulang punggung Proyek Gapura Digitalisasi Budaya Sunda. Aryadhara akan menggabungkan tokenisasi aset dunia nyata (Real-World Asset/RWA) dengan prinsip ESG (environmental, social, governance) melalui penerbitan koleksi NFT (Non-Fungible Token) budaya. NFT budaya ini adalah produk kebudayaan yang dijadikan aset digital unik dan disimpan di blockchain.
Mekanisme pendanaan inovatif ini dirancang untuk mengaktifkan potensi pendanaan hingga 1,4 juta dolar AS selama tiga tahun ke depan. Dana tersebut akan mendukung pelaksanaan Proyek Gapura yang inklusif dan berkelanjutan. Pendanaan ini penting untuk memastikan keberlanjutan program-program yang telah direncanakan demi pelestarian budaya Sunda.
Pendanaan tersebut akan diarahkan untuk empat program utama, yaitu:
- Mendigitalkan elemen budaya Sunda, baik yang berwujud, tidak berwujud, maupun memori kolektif melalui metode partisipatif.
- Menerbitkan NFT budaya sebagai sarana pelestarian dan kontribusi global terhadap warisan lokal.
- Mengembangkan sistem DAO (organisasi otonom terdesentralisasi) Budaya untuk memastikan tata kelola komunitas yang transparan dan adil.
- Pendidikan publik dan penciptaan peluang ekonomi bagi pelaku budaya, komunitas adat, dan generasi muda.
Pada fase awal, Proyek Gapura memiliki target ambisius untuk mendigitalkan lebih dari satu juta halaman literatur Sunda di blockchain. Selain itu, proyek ini juga akan memfasilitasi lima inisiatif riset budaya. Proyek Gapura berencana melibatkan komunitas global yang sudah berpartisipasi dalam ekosistem token RWA, yang saat ini terdiri dari lebih dari 211.000 pemegang token di seluruh dunia.
Kolaborasi Strategis dan Harapan untuk Masa Depan Budaya Sunda
MoU penting ini ditandatangani oleh Burhanuddin Abdullah, yang juga merupakan mantan Kepala BI, bersama Pendiri dan Ketua Aryadhara Foundation, R Widyanto. Acara penandatanganan tersebut dihadiri oleh pimpinan regional Aryadhara dari Malaysia, Singapura, dan Filipina, serta tim Proyek Gapura yang dipimpin oleh Sekretaris Yayasan PSS, Rachmat Taufiq Hidayat, menunjukkan skala kolaborasi internasional.
Chief Operating Officer Aryadhara Foundation, Fitria Lutfiyana, menegaskan bahwa program Arya Kultura melalui Proyek Gapura menawarkan respons yang regeneratif. “Sehingga bukan hanya konten atau komodifikasi,” ucapnya, menekankan bahwa inovasi ini tidak hanya melestarikan warisan tetapi juga menghidupkannya kembali melalui inovasi yang berakar pada nilai-nilai.
MoU ini akan berlaku selama tiga tahun dan akan diikuti dengan perjanjian teknis yang lebih rinci. Selain itu, peluncuran platform digital www.gapura.org akan menjadi pusat dokumentasi, pendidikan, dan partisipasi publik. Dengan semua upaya ini, Proyek Gapura berharap dapat memberikan sumbangsih Budaya Sunda untuk dunia, sebagaimana ditegaskan oleh Burhanuddin Abdullah, “Sunda untuk Dunia!”
Sumber: AntaraNews