Ketangkasan Domba Sumedang: Merawat Tradisi, Menggerakkan Ekonomi Peternakan Rakyat
Ajang Ketangkasan Domba Sumedang bukan sekadar tradisi, melainkan pendorong utama ekonomi dan silaturahmi peternakan rakyat di Jawa Barat, menarik perhatian hingga puluhan ribu pengunjung.
Riuh Arena Domba dan Asa dari Peternakan Rakyat Sumedang
Di tengah rimbunnya perbukitan Rancakalong, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, sebuah tradisi kuno kembali menggema. Arena ketangkasan domba dan kambing menjadi saksi bisu perhelatan yang berlangsung selama dua hari penuh. Acara ini berhasil menarik perhatian masyarakat luas, khususnya para peternak dari berbagai wilayah Jawa Barat.
Kegiatan yang digelar pada Minggu (21/12) pagi ini bukan hanya sekadar kompetisi hewan ternak. Lebih dari itu, ia menjelma menjadi ruang silaturahmi yang kuat bagi masyarakat Sunda dan wadah untuk meningkatkan kualitas budidaya ternak. Jajang Suryana, Ketua Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia (HPDKI) Sumedang, menegaskan hal ini.
Perhelatan ini secara signifikan berkontribusi pada perputaran ekonomi lokal, mengubah pandangan terhadap peternakan rakyat. Dari sekadar sektor pinggiran, peternakan rakyat kini menjadi penggerak sosial dan ekonomi daerah yang patut diperhitungkan.
Dari Kandang ke Pasar: Meningkatkan Nilai Jual Ternak Rakyat
Tradisi ketangkasan domba di Sumedang terus diperbarui untuk memastikan para peternak tidak hanya bergantung pada kehidupan di kandang. Tujuannya adalah untuk menaikkan level usaha mereka dan menembus pasar yang lebih luas. Pendekatan edukatif menjadi kunci dalam mencapai tujuan tersebut.
Edukasi meliputi penyuluhan kesehatan hewan, teknik pemeliharaan yang baik, serta strategi untuk meningkatkan kualitas ternak. Hewan yang dirawat dengan standar tinggi terbukti memiliki daya saing yang lebih kuat di pasaran. Ini membuka peluang bagi domba dan kambing unggulan dari peternakan rakyat.
Kualitas ternak yang dipamerkan dalam ajang Ketangkasan Domba Sumedang ini secara langsung berkorelasi dengan peningkatan harga jual. Ternak berkualitas tertentu bahkan dapat mencapai harga puluhan hingga ratusan juta rupiah. Hal ini secara signifikan membantu ekonomi kerakyatan di sektor peternakan.
Tia (28), salah satu peserta, turut memamerkan kambing jenis pygmy yang meskipun berukuran mini, memiliki nilai jual tinggi, mencapai belasan juta rupiah. Kegiatan ini menjadi wadah komunikasi, koordinasi, dan berbagi pengalaman antar-peternak, sekaligus memperluas jejaring mereka.
Magnet Wisata dan Penggerak Ekonomi Lokal
Dengan kemasan yang tepat, Ketangkasan Domba Sumedang memiliki potensi besar untuk menjadi daya tarik wisata yang unik. Tradisi lokal bertemu dengan minat publik, menciptakan pengalaman khas yang tidak dimiliki daerah lain. Ini bukan hanya tontonan, tetapi juga peluang ekonomi yang menjanjikan.
Dampak ekonomi langsung terlihat dari pemberdayaan masyarakat lokal, seperti petugas Linmas yang mendapatkan pemasukan dari parkir Rp5 ribu. Lebih dari 25 kios UMKM dan puluhan pedagang kaki lima (PKL) turut memadati lokasi, menunjukkan geliat ekonomi di perbukitan Rancakalong.
Seorang pengunjung dari Cimahi, Citra Dewi, mengaku sengaja datang untuk menyaksikan acara ini, membuktikan daya tarik wisata yang kuat. Lebih dari 200 peserta dengan ratusan ekor domba terlibat, menunjukkan skala acara yang besar dan ekosistem peternakan yang hidup. Pembagian susu kambing juga menjadi bagian dari kegiatan sosial.
Penyelenggaraan acara dirancang bertahap, dengan hari pertama dikhususkan untuk peserta lokal Sumedang, sebelum dibuka untuk umum. Pendekatan ini memperkuat silaturahmi dan meningkatkan hasil budidaya, menjadikan hewan yang tampil sebagai contoh peningkatan kualitas ternak.
Data dari Dinas Perikanan dan Peternakan (Diskanak) Sumedang per Februari 2025 menunjukkan populasi domba mencapai 82.040 ekor. Disusul kambing sebanyak 34.690 ekor, sapi potong 29.400 ekor, dan sapi perah 4.215 ekor. Angka-angka ini menegaskan bahwa peternakan rakyat adalah kekuatan nyata bagi perekonomian daerah.
Sumber: AntaraNews