Festival Alek Anak Nagari: Pemprov Sumbar dan Bukittinggi Lestarikan Permainan Tradisional
Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dan Pemerintah Kota Bukittinggi menggelar Festival Alek Anak Nagari, sebuah upaya strategis melestarikan permainan tradisional sebagai warisan budaya dan membentuk karakter generasi muda.
Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Pemprov Sumbar) bersama Pemerintah Kota (Pemkot) Bukittinggi kembali menggelar Festival Alek Anak Nagari. Acara ini merupakan inisiatif penting untuk mempertahankan tradisi permainan tradisional yang kaya sebagai warisan budaya tak benda.
Festival yang dipusatkan di Lapangan Kantin Wirabraja, Bukittinggi, pada Sabtu, 16 Mei, ini menarik perhatian ratusan pelajar. Mereka antusias mengikuti berbagai lomba permainan tradisional yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas Minangkabau.
Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, menegaskan pentingnya peran masyarakat dalam menjaga kelestarian budaya. "Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan mempertahankan budaya bersama. Ini bukan hanya sekadar penampilan permainan, tapi juga semangat kebersamaan," ujarnya saat membuka kegiatan.
Membangun Karakter Generasi Muda Melalui Budaya
Gubernur Mahyeldi Ansharullah bersama Wakil Wali Kota Bukittinggi Ibnu Asis secara resmi membuka Festival Alek Anak Nagari. Pembukaan ini ditandai dengan menyalakan "Mariam Batuang", sebuah meriam tradisional yang terbuat dari pohon bambu, didampingi tokoh adat Kurai dan legislator Sumbar Nurna Eva Karmila.
Kegiatan ini tidak hanya sekadar ajang hiburan, melainkan juga sarana edukasi untuk menanamkan nilai-nilai luhur kepada generasi muda. Melalui permainan tradisional, anak-anak diajarkan tentang kerja sama, sportivitas, dan pentingnya menjaga kearifan lokal.
Nurna Eva Karmila, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumatera Barat sekaligus inisiator kegiatan, menyoroti urgensi festival ini. Ia menekankan bahwa Festival Alek Anak Nagari bertujuan membentuk karakter generasi muda yang berbudaya, beradat, dan mampu bekerja sama.
"Anak-anak muda harus mengenal tradisi mereka sendiri baik berupa permainan atau makanan asal kampung halamannya, sekaligus menangkis gempuran pengaruh negatif perkembangan teknologi," kata Nurna Eva.
Aneka Permainan Tradisional dan Dampak Positifnya
Ratusan pelajar dari berbagai sekolah di Bukittinggi berpartisipasi aktif dalam berbagai jenis permainan tradisional. Antusiasme terlihat jelas saat mereka berkompetisi dalam lomba-lomba yang menguji ketangkasan dan kekompakan.
Beberapa permainan tradisional yang dilombakan antara lain:
Permainan-permainan ini tidak hanya menghibur, tetapi juga melatih fisik dan mental peserta. Gubernur Mahyeldi menilai kegiatan ini sangat positif di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.
"Ini positif di tengah perkembangan zaman serba digital. Bukittinggi sudah tiga kali mengadakan. Kami mendorong nanti kegiatan budaya berkelompok dilombakan akhir tahun tingkat provinsi," ungkap Gubernur.
Komitmen Pelestarian Budaya dan Peningkatan Pariwisata
Wakil Wali Kota Bukittinggi, Ibnu Asis, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya Festival Alek Anak Nagari. Ia menekankan bahwa kegiatan ini memberikan pengaruh positif yang signifikan terhadap anak-anak.
Festival ini juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan 100 Tahun Jam Gadang, ikon kota Bukittinggi. Hal ini menunjukkan integrasi antara pelestarian budaya dengan promosi pariwisata daerah.
Pemerintah Kota Bukittinggi berkomitmen kuat untuk terus menjaga pelestarian adat dan budaya Minangkabau. Komitmen ini diwujudkan melalui sinergi yang erat dengan tokoh adat Kurai, memastikan tradisi tetap hidup dan relevan bagi generasi mendatang.
Festival Alek Anak Nagari diharapkan dapat menjadi agenda rutin yang tidak hanya melestarikan budaya lokal, tetapi juga menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke Sumatera Barat, khususnya Bukittinggi. Dengan demikian, warisan budaya dapat terus terjaga sekaligus memberikan dampak ekonomi positif.
Sumber: AntaraNews