Pemerintah Kota (Pemkot) Pariaman, Sumatera Barat, mengambil langkah proaktif dalam melestarikan warisan budaya Minangkabau yang kian tergerus zaman. Mereka secara intensif melatih siswa sekolah dasar (SD) untuk menguasai tradisi 'Malingka Carano jo Arai Pinang'. Inisiatif ini bertujuan untuk memastikan kelangsungan salah satu kebudayaan penting yang digunakan dalam setiap kegiatan adat.
Pelatihan khusus ini diselenggarakan di Pariaman dan melibatkan puluhan sekolah dasar, baik negeri maupun swasta. Kegiatan ini merupakan respons terhadap semakin sedikitnya individu yang memiliki kemampuan untuk melakukan tradisi 'malingka carano jo arai pinang' dengan benar. Tanpa upaya regenerasi, dikhawatirkan tradisi ini akan punah.
Melalui program pendidikan budaya ini, Pemkot Pariaman tidak hanya berupaya menjaga kearifan lokal. Mereka juga ingin memastikan bahwa generasi mendatang tetap menghargai dan mampu melaksanakan ritual adat yang menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas Minangkabau.
Advertisement
Advertisement
'Malingka Carano jo Arai Pinang' merupakan sebuah tradisi adat Minangkabau yang memiliki makna mendalam dan simbol penghormatan. Carano, wadah yang dihias dengan arai pinang, selalu hadir dalam setiap kegiatan adat. Keberadaannya menjadi lambang kehormatan dan kelengkapan dalam upacara-upacara penting.
Namun, keterampilan untuk 'malingka carano jo arai pinang' ini tidak dimiliki oleh semua orang. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Pariaman, Hertati Taher, mengungkapkan kekhawatirannya. "Yang khusus Malingka Carano jo Arai Pinang ini tidak semua orang bisa, ketika kita tidak ajarkan kepada peserta didik kita, tentu mereka tidak bisa," ujarnya.
Kondisi ini mendorong Pemkot Pariaman untuk segera bertindak dengan melibatkan generasi muda. Dengan melatih siswa SD sejak dini, diharapkan akan lahir pelestari-pelestari baru. Ini akan memastikan bahwa masyarakat tidak akan kesulitan lagi mencari individu yang mahir dalam tradisi penting ini di masa depan.
Advertisement
Advertisement
Guna memotivasi para peserta didik dan memperkuat semangat pelestarian, Pemkot Pariaman menyelenggarakan Lomba Malingka Carano jo Arai Pinang. Lomba ini diikuti oleh 82 SD dari Pariaman dan tujuh sekolah lainnya dari luar kota. Antusiasme peserta menunjukkan potensi besar dalam menjaga tradisi ini.
Kegiatan ini bukan yang pertama kali diselenggarakan; ini adalah kali ketiga setelah sukses dilaksanakan pada tahun 2022 dan 2023. Rencananya, lomba serupa akan kembali diadakan pada tahun 2025. Ini menunjukkan komitmen jangka panjang Pemkot Pariaman dalam melestarikan kearifan lokal.
Selain 'Malingka Carano jo Arai Pinang', Pemkot Pariaman juga aktif mengadakan berbagai kegiatan kearifan lokal lainnya. Pada Mei 2025, misalnya, telah dilaksanakan perlombaan permainan olahraga tradisional. Selanjutnya, di akhir Oktober akan ada lomba bahasa ibu, November lomba rabana, dan Desember lomba berpidato adat serta puisi. Serangkaian acara ini dirancang untuk memperkaya dan menjaga budaya daerah.
Advertisement
Advertisement
Inisiatif pelestarian budaya yang dilakukan Pemkot Pariaman ini membawa dampak positif yang luas. Selain menjaga identitas dan warisan leluhur, kegiatan-kegiatan ini juga berkontribusi pada penggerakan roda perekonomian masyarakat. Meskipun daerah menghadapi keterbatasan anggaran, komitmen untuk melestarikan budaya tetap menjadi prioritas.
Melalui penyelenggaraan lomba dan pelatihan, terjadi perputaran ekonomi lokal. Misalnya, kebutuhan akan bahan-bahan adat, kostum, hingga akomodasi bagi peserta dari luar kota. Hal ini secara tidak langsung membantu pelaku usaha kecil dan menengah di Pariaman.
Dengan demikian, program 'Malingka Carano Pariaman' dan kegiatan budaya lainnya menjadi contoh nyata bagaimana pelestarian tradisi dapat berjalan seiring dengan pembangunan ekonomi. Ini menciptakan ekosistem yang berkelanjutan bagi budaya dan kesejahteraan masyarakat.
Advertisement
Sumber: AntaraNews