Pemerintah OKU Hidupkan Kembali Tradisi Nyambai Ugan di Festival Literasi Sumsel 2025

Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) kembali menghidupkan tradisi kuno Nyambai Ugan melalui Festival Literasi Sumatera Selatan 2025, upaya melestarikan warisan leluhur.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Pemerintah OKU Hidupkan Kembali Tradisi Nyambai Ugan di Festival Literasi Sumsel 2025
Pemkab OKU melalui Disarpus menghidupkan kembali adat Nyambai Ugan dalam Festival Literasi Sumsel. Upaya ini dilakukan untuk melestarikan budaya lokal dari gerusan zaman. (AntaraNews)

Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) di Sumatera Selatan tengah berupaya keras melestarikan warisan budaya. Mereka menghidupkan kembali upacara adat Nyambai Ugan melalui Festival Literasi Sumatera Selatan 2025. Inisiatif ini bertujuan menjaga tradisi leluhur agar tidak tergerus kemajuan teknologi modern dan memastikan kelangsungan budaya di kalangan generasi muda.

Upaya pelestarian ini dipimpin oleh Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Disarpus) OKU. Mereka memamerkan berbagai seni tradisional, adat istiadat, dan warisan budaya lokal di Asrama Haji Palembang. Festival tersebut mempertemukan peserta dari 17 kabupaten dan kota se-Sumatera Selatan, menunjukkan komitmen bersama dalam memajukan literasi dan budaya.

Melalui pameran ini, Disarpus OKU menampilkan beberapa artefak budaya yang terdokumentasi dengan baik. Salah satunya adalah upacara adat Nyambai Ugan yang memiliki sejarah panjang dan kaya makna. Langkah ini diharapkan dapat menjamin kelangsungan tradisi di kalangan generasi muda serta memperkenalkan kekayaan budaya OKU kepada khalayak luas.

Sejarah dan Makna Mendalam Tradisi Nyambai Ugan

Tradisi Nyambai Ugan merupakan warisan budaya berusia berabad-abad yang berasal dari era Majapahit di wilayah Ulu Ogan. Keberadaannya tercatat dalam manuskrip sejarah kuno, yaitu Kitab Remas Undan Selake. Hal ini menunjukkan akar sejarah yang kuat dan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.

Ahmad Azhar, Kepala Disarpus OKU, menjelaskan bahwa Nyambai Ugan telah dikenal setidaknya sejak tahun 1843, berdasarkan dokumentasi dalam publikasi penelitian Belanda pada tahun tersebut. Ini membuktikan bahwa tradisi ini bukan hanya cerita lisan, melainkan memiliki bukti tertulis yang kuat.

Secara umum, Nyambai Ugan adalah prosesi upacara yang biasa dilakukan dalam berbagai acara komunitas. Misalnya, saat panen buah, upacara pernikahan, atau ketika menyambut tamu-tamu kehormatan. Bagi masyarakat Ogan Komering Ulu, tradisi ini melambangkan rasa syukur kepada Sang Pencipta dan berfungsi sebagai media untuk mempererat ikatan sosial.

Pada awalnya, Nyambai Ugan adalah tarian sakral yang ditampilkan dalam perayaan besar sebagai ungkapan terima kasih atas berkah ilahi dan kemakmuran. Tradisi ini juga menjadi platform komunal yang menyatukan pemuda, pemudi, dan masyarakat luas untuk memupuk keharmonisan serta rasa saling menghormati di tengah kehidupan bermasyarakat.

Prosesi dan Simbolisme Upacara Adat Nyambai Ugan

Ritual Nyambai Ugan dimulai dengan "adang-adangan", yaitu penghadangan simbolis terhadap tamu menggunakan kain atau tombak. Tahap ini melambangkan penyambutan dengan penghormatan dan pengujian kesiapan. Setelah itu, dilanjutkan dengan pertukaran pantun yang penuh makna, menunjukkan kekayaan sastra lisan masyarakat setempat.

Puncak dari prosesi ini adalah tarian "Bakhi Nyambai Ogan" yang memukau. Selama festival, Disarpus OKU juga menampilkan narasi visual yang diiringi musik tradisional, kain, dan benda-benda upacara yang digunakan dalam ritual tersebut. Ini memberikan gambaran lengkap tentang bagaimana upacara ini dilaksanakan.

Di antara artefak budaya yang dipamerkan adalah Kain Dudut Pria (panjang 103 cm, lebar 84 cm) yang dibuat pada tahun 1960, dan Kain Dudut Wanita (panjang 144 cm, lebar 102 cm) dengan tepi berwarna hitam dan merah. Pameran juga menampilkan Kain Pelangi, kain multiwarna yang secara tradisional disampirkan di leher tamu kehormatan saat upacara penyambutan.

Setiap gerakan, pola tarian, kostum, dan aksesori upacara dalam Nyambai Ugan memiliki makna simbolis yang mendalam. Semua itu mencerminkan penghormatan terhadap leluhur dan kepatuhan pada norma-norma tradisional. Lebih dari sekadar pertunjukan budaya, Nyambai Ugan adalah pilar penting dalam menjaga kohesi sosial dan melestarikan kearifan lokal Ogan Komering Ulu di tengah perubahan modern yang pesat.

Peran Festival Literasi dalam Pelestarian Budaya OKU

Partisipasi OKU dalam Festival Literasi Sumatera Selatan diharapkan dapat membantu mempromosikan tradisi Nyambai Ugan secara lebih luas. Ahmad Azhar menekankan pentingnya menjaga warisan budaya yang telah diarsipkan dengan cermat oleh Disarpus OKU. Ini adalah langkah strategis untuk memastikan tradisi ini dikenal dan dihargai oleh generasi mendatang.

Festival ini bukan hanya ajang pameran, tetapi juga platform edukasi yang efektif. Dengan menampilkan kekayaan budaya seperti Nyambai Ugan, masyarakat, khususnya generasi muda, dapat lebih memahami dan mencintai identitas lokal mereka. Ini juga menjadi kesempatan untuk menarik minat peneliti dan budayawan agar lebih mendalami tradisi ini.

Melalui upaya kolektif ini, Pemerintah Kabupaten OKU menunjukkan komitmennya dalam menjaga kelestarian budaya. Nyambai Ugan berfungsi sebagai jembatan antara masa lalu dan masa kini, memastikan bahwa nilai-nilai luhur leluhur tetap relevan dan hidup dalam masyarakat modern. Ini adalah investasi budaya yang tak ternilai harganya bagi masa depan Ogan Komering Ulu.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi