Trivia: Sofa dan Meja Dikeluarkan, Ini Alasan di Balik Aksi Mahasiswa Serang Geruduk Polpos Ciceri
Ratusan mahasiswa di Serang meluapkan kekecewaan dengan menggeruduk Polpos Ciceri. Apa yang memicu Aksi Mahasiswa Serang ini hingga mengeluarkan perabotan?
Ratusan mahasiswa di Kota Serang, Banten, meluapkan kemarahan mereka pada hari Sabtu, 30 Agustus, dengan menggeruduk pos polisi (polpos) di simpang Ciceri. Aksi ini merupakan puncak kekecewaan terhadap tindakan represif aparat keamanan serta kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak pada kepentingan publik.
Dalam demonstrasi besar ini, para mahasiswa tidak hanya berorasi menyampaikan tuntutan, tetapi juga melakukan tindakan simbolis yang menarik perhatian. Mereka mengeluarkan sejumlah perabotan dari dalam pos polisi, seperti sofa dan meja, lalu menempatkannya di ruas jalan sebagai bentuk protes keras.
Massa aksi yang kompak mengenakan pakaian serba hitam ini memulai unjuk rasa dengan berjalan kaki dari Kampus 1 UIN Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten. Unjuk rasa ini menjadi sorotan publik karena menunjukkan akumulasi frustrasi mahasiswa terhadap kondisi sosial dan politik yang terjadi.
Puncak Kekecewaan: Mengapa Mahasiswa Geruduk Polpos?
Insiden penggerudukan Polpos Ciceri oleh ratusan mahasiswa di Serang menjadi manifestasi dari kekecewaan mendalam yang telah terakumulasi. Tindakan mengeluarkan perabotan seperti sofa dan meja ke jalan bukan sekadar aksi vandalisme, melainkan simbol penolakan terhadap institusi yang dianggap tidak lagi menjalankan fungsinya sebagai pelindung masyarakat.
Fokus utama kecaman dalam Aksi Mahasiswa Serang ini ditujukan pada aparat kepolisian. Mahasiswa secara spesifik mengutuk keras insiden kekerasan yang diduga dilakukan oknum polisi terhadap seorang pengemudi ojek online di Jakarta beberapa waktu lalu, yang menjadi salah satu pemicu utama kemarahan mereka.
Kekecewaan terhadap aparat ini, menurut salah seorang orator aksi bernama Ali, berkelindan dengan rasa frustrasi pada pemerintah dan wakil rakyat. Kebijakan yang selalu dianggap tidak berpihak pada kepentingan publik semakin memperburuk kepercayaan masyarakat, termasuk mahasiswa, terhadap sistem pemerintahan.
Para mahasiswa menegaskan bahwa tindakan mereka merupakan akumulasi kekecewaan atas aparat dan pemerintah yang hidup dari pajak rakyat, namun tidak pernah mengakomodasi aspirasi dan kebutuhan masyarakat luas. Mereka merasa suara rakyat tidak didengar, sehingga harus turun ke jalan untuk menyuarakan protes.
Suara Orator: Kritik Pedas untuk Aparat dan Wakil Rakyat
Ali, salah seorang orator kunci dalam Aksi Mahasiswa Serang, dalam orasinya secara tegas menyoroti tindakan aparat yang dianggap telah sewenang-wenang. Ia menyebutkan bahwa tindakan represif ini tidak hanya menyasar mahasiswa, tetapi juga insan pers dan masyarakat sipil lainnya, menciptakan iklim ketakutan dan ketidakadilan.
Kritik pedas juga dilayangkan kepada para wakil rakyat yang dianggap telah mengkhianati kepercayaan publik. "Sungguh tidak mungkin hari ini masih percaya pada wakil rakyat," tegas Ali, mencerminkan hilangnya kepercayaan terhadap lembaga legislatif yang seharusnya menjadi jembatan aspirasi rakyat.
Aksi ini, lanjut Ali, membawa tuntutan yang jelas agar aparat menghentikan segala bentuk tindakan represif dan kembali pada tugasnya untuk mengayomi masyarakat. Mahasiswa menginginkan penegakan hukum yang adil dan perlindungan bagi seluruh warga negara tanpa pandang bulu.
Tuntutan ini menjadi sangat krusial mengingat fungsi aparat yang seharusnya adalah pelayan dan pelindung masyarakat. Aksi Mahasiswa Serang ini menjadi pengingat bahwa kekuasaan harus digunakan untuk kesejahteraan rakyat, bukan untuk menindas atau mengabaikan aspirasi publik yang sah.
Sumber: AntaraNews