Riset UI: Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Berdampak Positif pada Kelompok Ekonomi Rendah
Riset kolaborasi Kemendikdasmen dan Labsosio UI menunjukkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berdampak positif pada peningkatan gizi dan semangat belajar siswa dari kelompok ekonomi rendah.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terbukti memberikan dampak positif yang signifikan. Hal ini terungkap dari riset kolaborasi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dan Laboratorium Sosiologi Universitas Indonesia (Labsosio UI). Studi ini dilakukan sepanjang tahun 2025 dan hasilnya dirilis pada Jumat, 20 Februari 2026. Penelitian tersebut menyoroti manfaat program ini bagi kelompok sosial ekonomi rendah di Indonesia.
Program MBG dinilai sangat membantu pemenuhan kebutuhan pangan bergizi bagi anak-anak. Terutama bagi mereka yang berasal dari latar belakang sosial ekonomi rendah. Inisiatif ini bertujuan meningkatkan asupan gizi untuk mendukung proses belajar mengajar. Pelaksanaannya melibatkan distribusi makanan bergizi di satuan pendidikan.
Dampak positif program ini tersebar luas di 29 provinsi di Indonesia. Lebih dari 43 juta peserta didik telah merasakan manfaat langsung dari MBG. Capaian ini menunjukkan jangkauan program yang luas dan signifikan secara nasional. Hasil riset menegaskan pentingnya keberlanjutan program ini.
Peningkatan Gizi dan Semangat Belajar Siswa
Hasil riset Labsosio UI menunjukkan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memiliki skor persepsi positif mencapai 4,30. Angka ini mencerminkan keberhasilan program dalam memenuhi kebutuhan pangan bergizi, khususnya bagi anak-anak dari kelompok sosial ekonomi rendah. Asupan gizi yang memadai merupakan fondasi penting bagi tumbuh kembang anak dan kemampuan belajar mereka.
Dampak MBG juga terlihat jelas pada proses belajar siswa. Sebanyak 66,4 persen murid mengaku lebih bersemangat mengikuti pelajaran setelah mengonsumsi makanan bergizi. Peningkatan energi, konsentrasi, dan motivasi belajar menjadi indikator kuat keberhasilan program ini. Fokus siswa di kelas menjadi lebih baik, mendukung pencapaian akademik yang optimal.
Kajian evaluasi Kemendikdasmen sepanjang 2025 memperkuat temuan ini. Studi yang melibatkan 334.128 murid dari 11.143 satuan pendidikan di 29 provinsi menunjukkan hasil serupa. Sebanyak 69 persen siswa merasakan perbaikan pola makan dan kualitas gizi mereka. Ini menegaskan bahwa MBG tidak hanya memberikan makanan, tetapi juga edukasi gizi secara tidak langsung.
Manfaat Sosial dan Kesehatan yang Komprehensif
Selain manfaat gizi dan akademik, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga menciptakan pengalaman sosial yang menyenangkan. Sebanyak 85,8 persen murid menyatakan bahwa kegiatan makan bersama di sekolah sangat menyenangkan. Ini mencakup kualitas produk makanan serta interaksi sosial yang terjalin antar siswa.
Momentum makan bersama ini turut memperkuat kebersamaan di lingkungan sekolah. Kebiasaan makan yang lebih teratur juga terbentuk melalui program ini. Aspek sosial ini penting untuk perkembangan karakter dan interaksi positif antar siswa. MBG menjadi lebih dari sekadar program pemberian makanan.
Dari sisi kesehatan, program ini juga menunjukkan hasil positif yang signifikan. Sebanyak 12,5 persen murid dilaporkan menjadi lebih jarang sakit setelah rutin mengonsumsi makanan dari MBG. Peningkatan daya tahan tubuh siswa berkontribusi pada penurunan angka absensi karena sakit. Ini mendukung kehadiran siswa yang lebih baik di sekolah.
Jangkauan Luas dan Komitmen Keberlanjutan Program
Data terbaru Kemendikdasmen per 18 Februari 2026 menunjukkan jangkauan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sangat luas. Sebanyak 43,17 juta peserta didik telah menjadi penerima manfaat MBG. Angka ini mendekati total 53,4 juta peserta didik yang terdata dalam Dapodik secara nasional.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan komitmen pemerintah terhadap keberlanjutan program ini. Beliau memastikan bahwa anggaran pendidikan tahun 2026 tidak akan dipangkas untuk MBG. Bahkan, anggaran tersebut akan ditambah oleh Presiden, sehingga Kemendikdasmen mengajukan anggaran biaya tambahan (ABT).
Mu’ti juga menyatakan, “MBG juga mendukung program ketujuh dalam Indonesia hebat, yaitu makan makanan sehat dan bergizi.” Program ini tidak hanya memberikan asupan gizi, tetapi juga semangat belajar dan penguatan karakter siswa. Keberlanjutan dan kualitas pelaksanaan MBG, mulai dari distribusi hingga pengawasan standar gizi, perlu terus dijaga.
Sumber: AntaraNews