Hasil Riset: Program MBG Ringakan Beban Ekonomi Keluarga dan Hemat Uang Jajan Anak
Sebanyak 72 persen orang tua melaporkan anak menjadi rutin mengonsumsi makanan bergizi, dan 55 persen menyatakan anak lebih mudah menerima variasi makanan.
Riset Pusat Kajian Sosiologi Universitas Indonesia (LabSosio UI) yang dirilis pada bulan Maret 2026, serta kajian dari Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) yang dirilis pada Februari 2026 menunjukkan bahwa program MBG atau Makan Bergizi Gratis memiliki berbagai aspek positif bagi siswa dan masyarakat.
Penelitian tersebut memotret peran MBG ternyata lebih dari sekadar pemenuhan gizi. Dalam salah satu hasil penelitian tersebut menyebutkan bahwa, program MBG ini mampu meringankan beban orang tua dan menyehatkan siswa.
Ketua LabSosio-LPPSP FISIP UI, Hari Nugroho menjelaskan, salah satu temuan paling dari riset ini adalah tingginya penerimaan masyarakat, terutama dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. Para orang tua siswa yang ditemui di lapangan umumnya memberikan penilaian yang sangat positif terhadap program ini.
Menurut hasil riset tersebut, kehadiran MBG dinilai membantu meringankan beban ekonomi keluarga dan menghemat uang jajan anak. Bagi orang tua yang sibuk bekerja di pagi hari, program ini menjadi solusi praktis yang memastikan anak-anak mereka tidak kelaparan dan tetap mendapatkan akses makanan bergizi di sekolah.
Hampir separuh murid, 48,5 persen siswa, mengaku jarang atau bahkan tidak pernah sarapan sebelum berangkat ke sekolah. Dengan begitu 85,8 persen siswa selalu menghabiskan makanan MBG yang disajikan.
Hal ini sejalan dengan hasil temuan RISED, terkait MBG yang berdampak terhadap pengeluaran rumah tangga dan anak penerima manfaat. "Sebanyak 81 persen orang tua dari rumah tangga rentan menyatakan mendukung keberlanjutan MBG. Menariknya, dukungan ini bukan semata soal penghematan uang, tetapi lebih pada rasa aman dan kepastian bahwa anak mereka mendapat akses makanan bergizi selama di sekolah,” ungkap Peneliti RISED, M. Fajar Rakhmadi.
Perubahan Kebiasaan Makan Anak
Hasil penelitian RISED menunjukkan adanya pola perubahan pada kebiasaan makan anak. Sebanyak 72 persen orang tua melaporkan anak menjadi lebih rutin mengonsumsi makanan bergizi, dan 55 persen menyatakan anak lebih mudah menerima variasi jenis makanan.
Lebih dari sekadar mengenyangkan dan memberi nutrisi, MBG ternyata berdampak terhadap peningkatan semangat belajar siswa. Kesaksian seorang orang tua siswa bernama Adriana Hedmunrewa, warga Desa Kalinawano, Sumba Barat Daya, NTT, memperkuat perubahan positif yang diamatinya pada anaknya Antonio Adrian Stefanus, siswa kelas VI SD Negeri Weetabula II.
Adriana mengaku sangat terbantu dengan program MBG karena anaknya kini jadi lebih aktif dan semangat dalam proses belajar.
"Kalau menurut saya ini membantu sekali. Sambil menunggu jam istirahat mereka sudah makan MBG. Aktivitas belajarnya di sekolah juga jadi lebih aktif. Sekarang dia belajar matematika sudah bisa sendiri, tidak dibantu lagi. Ketika anak saya menerima rapor, nilainya meningkat rata-rata delapan. Fisik juga jadi terlihat lebih segar dan berenergi," terang Adriana.