Guru Besar Untad: Program Makan Bergizi Gratis Ciptakan Kesetaraan Antarsiswa
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai mampu menciptakan kesetaraan di antara siswa dari berbagai latar belakang ekonomi, sekaligus memberikan dampak psikologis positif.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus menjadi sorotan publik, memicu beragam tanggapan dari berbagai kalangan. Guru Besar Universitas Tadulako (Untad) Palu, Nur Sangadji, memberikan pandangannya yang menyoroti aspek kesetaraan yang ditawarkan program ini. Menurutnya, MBG berpotensi besar untuk menyetarakan posisi siswa, baik dari keluarga kaya maupun miskin, melalui pengalaman makan bersama yang seragam.
Penegasan ini disampaikan Sangadji sebagai respons terhadap kritik yang mempertanyakan mengapa MBG tidak hanya ditujukan kepada kelompok tertentu, seperti siswa dari keluarga kurang mampu atau pada jenjang pendidikan tertentu saja. Ia berpendapat bahwa penyediaan makanan gratis secara universal akan menghilangkan potensi perbedaan status sosial di antara para siswa. Hal ini diharapkan dapat membangun lingkungan belajar yang lebih inklusif dan harmonis bagi seluruh peserta didik.
Lebih lanjut, Sangadji juga memaparkan bahwa konsep program makan gratis bagi siswa bukanlah hal baru. Berbagai negara seperti Brasil, Prancis, India, Jepang, hingga China telah mengimplementasikan program serupa sejak lama, bahkan ada yang sejak tahun 1940-an. Inisiatif ini menunjukkan komitmen global dalam menyiapkan generasi penerus yang sehat dan berdaya saing, dengan pemerintah China bahkan menambahkan program tidur siang untuk siswa.
Dampak Psikologis dan Sosial Program Makan Bergizi Gratis
Nur Sangadji menyoroti dampak psikologis yang signifikan dari Program Makan Bergizi Gratis. Ia menyatakan bahwa jika program ini diberikan kepada semua siswa, akan ada dampak psikologis yang baik karena tidak ada yang merasa lebih kaya atau lebih miskin. Kesetaraan ini terwujud ketika mereka bersama-sama menikmati makanan yang sama dari wadah yang serupa.
Pandangan ini muncul sebagai jawaban atas pertanyaan mengapa MBG tidak difokuskan pada kelompok tertentu saja, misalnya anak-anak sekolah yang kurang mampu. Sangadji percaya bahwa pendekatan universal ini lebih efektif dalam membangun rasa kebersamaan dan mengurangi kesenjangan sosial di lingkungan sekolah. Program ini menunjukkan adanya kesamaan dan kesetaraan, saat mereka bersama-sama makan dengan makanan yang sama dan dari omprengan yang sama.
Pengalaman makan bersama dengan menu yang seragam dapat menumbuhkan empati dan solidaritas antar siswa, terlepas dari latar belakang ekonomi keluarga mereka. Ini adalah langkah penting untuk menciptakan lingkungan sekolah yang mendukung perkembangan sosial dan emosional anak-anak, di mana setiap siswa merasa dihargai dan setara.
Realitas di Lapangan: Antusiasme Peserta Didik
Di tingkat sekolah, Program Makan Bergizi Gratis disambut antusias oleh para peserta didik. Mohammad Ikra, PIC MBG SMA 6 Palu, menegaskan bahwa program ini sangat positif dan sangat diharapkan oleh peserta didik. Ia menjelaskan bahwa secara ekonomi, sebagian besar peserta didik di SMA 6 Palu berasal dari klaster kelas menengah ke bawah, dengan total 800 penerima manfaat program ini.
Tingginya antusiasme siswa tidak terlepas dari kondisi perekonomian keluarga yang terbatas, di mana beberapa anak bahkan tidak memiliki uang jajan untuk makan siang. Bagi mereka, MBG bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga jaminan nutrisi yang mungkin sulit didapatkan di rumah. Program ini secara langsung mengatasi masalah kelaparan dan kekurangan gizi yang dapat mempengaruhi konsentrasi belajar siswa.
Dukungan terhadap program ini juga datang dari fakta bahwa asupan gizi yang cukup sangat krusial bagi perkembangan fisik dan kognitif anak-anak. Dengan adanya MBG, diharapkan siswa dapat belajar lebih fokus dan berprestasi optimal tanpa terbebani masalah perut kosong.
Menjawab Kritik dan Harapan Perbaikan Program
Meskipun mendapat sambutan positif, Nur Sangadji memaklumi adanya sorotan dan kritikan dari berbagai pihak terkait implementasi Program Makan Bergizi Gratis. Namun, ia juga meyakini bahwa pemerintah akan terus melakukan perbaikan dari waktu ke waktu. Kritik yang konstruktif dianggap sebagai masukan berharga untuk penyempurnaan program agar lebih tepat sasaran dan efisien.
Sangadji menekankan bahwa tujuan utama program ini adalah menyiapkan generasi yang hebat, dan untuk itu, pemerintah berupaya keras. Perbaikan berkelanjutan akan mencakup evaluasi efektifitas, penyesuaian anggaran, serta peningkatan kualitas dan distribusi makanan. Dengan demikian, MBG diharapkan dapat memberikan manfaat maksimal bagi seluruh peserta didik di Indonesia.
Pemerintah diharapkan dapat terus berdialog dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk para ahli gizi, pendidik, dan masyarakat, untuk memastikan program ini berjalan optimal. Kolaborasi ini penting untuk mengatasi tantangan yang mungkin muncul dan memastikan bahwa Program Makan Bergizi Gratis benar-benar menjadi investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa.
Sumber: AntaraNews