SMA YPPK Adhi Luhur Kolese Le Cocq Gelar Workshop Interkulturalitas Bangun Kepercayaan di Tengah Keberagaman
Workshop difasilitasi oleh Roberto Vale, peneliti asal Brasil yang sebelumnya melakukan riset doktoral di Nabire.
SMA YPPK Adhi Luhur Kolese Le Cocq d’Armandville menggelar Workshop–Rekoleksi Interkulturalitas pada 11–17 Mei 2026 sebagai upaya membangun kesadaran sosial, kemampuan komunikasi, dan rasa saling percaya di tengah keberagaman budaya Papua dan Indonesia.
Kegiatan yang diikuti siswa kelas X dan XI tersebut dirancang sebagai pengalaman belajar lintas budaya di tengah tantangan relasi sosial, polarisasi, dan krisis kepercayaan dalam masyarakat modern.
Workshop difasilitasi oleh Roberto Vale, peneliti asal Brasil yang sebelumnya melakukan riset doktoral di Nabire mengenai Interpersonal Capacity for Trustworthiness atau kapasitas interpersonal untuk menjadi pribadi yang layak dipercaya.
Dalam kegiatan tersebut, para siswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga terlibat dalam berbagai aktivitas reflektif, percakapan mendalam, permainan kelompok, seni, gerak tubuh, hingga latihan komunikasi. Sekitar 80 persen kegiatan dilakukan secara partisipatif agar siswa mengalami langsung dinamika perjumpaan lintas budaya.
Salah satu fokus utama workshop adalah membantu siswa mengenali identitas budaya masing-masing. Para peserta berasal dari berbagai latar belakang budaya seperti Mee, Moni, Jawa, Toraja, Ambon, Kei, Batak, Serui, Biak, dan sejumlah daerah lainnya.
Mereka berbagi cerita mengenai tradisi keluarga, rumah adat, bahasa daerah, hingga nilai-nilai yang diwariskan orang tua.
Dari proses tersebut, para siswa menemukan adanya nilai universal yang sama di tengah keberagaman budaya, seperti gotong royong, penghormatan terhadap keluarga, solidaritas, dan rasa hormat terhadap sesama manusia.
Workshop juga menyoroti pentingnya komunikasi lintas budaya. Para siswa diajak membangun percakapan yang bermakna melalui pertanyaan yang baik dan penuh empati.
Roberto mengatakan kemampuan membuat pertanyaan yang baik merupakan keterampilan hidup yang penting di masa depan.
"Jika kalian mampu membuat pertanyaan yang baik, kalian tidak mudah kesepian, kalian mampu belajar dari siapa saja, dan kalian lebih mampu menyelesaikan konflik secara manusiawi," ungkapnya.
Puncak kegiatan berlangsung dalam suasana reflektif di sekitar api unggun pada malam hari. Dalam suasana tersebut, para siswa melakukan examen bersama dan merefleksikan pengalaman mereka selama satu minggu.
Para siswa yang sebelumnya berada dalam kelompok pertemanan tertentu mulai berbaur dan membangun relasi baru.
Pada hari terakhir, workshop mengangkat tema trust across cultures atau membangun rasa saling percaya di tengah keragaman. Para siswa mengikuti walking meditation, berbicara dari hati ke hati dengan "teman Emaus", serta merefleksikan pertanyaan mengenai hal-hal yang membuat seseorang merasa aman, diterima, dan dipercaya.
Sesi Khusus
Selain siswa, para guru juga mendapatkan sesi khusus mengenai cara membangun kepercayaan di ruang kelas yang beragam secara budaya, sosial-ekonomi, maupun kemampuan belajar.
Bagi Kolese Le Cocq, kegiatan tersebut menjadi bagian dari pendidikan karakter dan penguatan kesadaran sosial di tengah berbagai tantangan yang dihadapi Papua.
Pribadi Mampu Hidup Bersama
Sekolah berharap para siswa dapat bertumbuh menjadi pribadi yang mampu hidup bersama, berdialog, dan membangun komunitas yang sehat.
Program tersebut juga menunjukkan bahwa Papua bukan hanya ruang persoalan dan konflik, tetapi juga ruang pembelajaran mengenai kemanusiaan, keberagaman, dan solidaritas.