Mengintip Gemasnya Dua Bayi Harimau Benggala Mandi Cahaya Matahari Pagi di Bandung Zoo
Bandung Zoo masih belum dibuka untuk umum imbas konflik internal pengelola.
Pagi ini tak ada riuh langkah pengunjung atau teriakan anak-anak yang antusias berebut melihat satwa dari dekat di Bandung Zoo. Kebun binatang itu, masih belum terbuka buat publik sejak 6 Agustus 2025 lalu, imbas kisruh konflik internal pengelola.
Kendati kawasan eduwisata seluas hampir 14 hektar itu masih sepi, momen menggemaskan 2 ekor anak Harimau Benggala yang berjemur di bawah siraman cahaya pagi bikin suasana hening tak begitu terasa pada Senin (22/9).
Pukul 09.30 WIB, dua orang keeper satwa Bandung Zoo menggendong dua bayi jantan dari induk betina bernama Jelita dan pejantan Shahrukh Khan ke area di mana siraman cahaya matahari menembus celah rimbun dedaunan pohon. Kedua ‘kucing’ yang umurnya baru tujuh puluh delapan hari itu tampak anteng, baik saat berada di pangkuan keeper maupun saat sesekali merangkak.
Humas Bandung Zoo dari Manajemen Lama Sulhan Syafi'i, mengungkapkan kepiawaian para keeper dalam merawat dua anak harimau jantan itu.
“Perawatannya keeper-keeper kita sangat keren, Pak Usup dan teman-temannya itu ini udah kelahiran yang sekian dari induknya Jelita, jantannya Sahruk Khan dan lahirnya itu sangat sehat dan alami. Jadi kita kemudian setelah memasuki sebulan setengah kita jemur, karena biar dia mendapatkan matahari yang lebih banyak,” katanya saat dijumpai di Bandung Zoo pada Senin (22/9).
Tak hanya berjemur, dua anak harimau yang diberi nama sementara Huru dan Hara itu juga diberi pakan pada momen tersebut. Santapannya, berupa daging ayam yang telah lebih dahulu dilembutkan.
Porsi pakan itu seberat sekitar 1 ons diletakan pada mangkuk stainless. Huru dapat satu dan Hara juga demikian.
“Karena ini makanannya harus lembut dulu nanti setelah ini nanti masuk 3 atau 4 bulan baru kita berikan daging ayam yang tidak dicincang atau daging sapi yang lebih keras lagi bisa dia makan,” jelas Aan, sapaan akrab Sulhan.
Aan pun mengungkap bahwa kedua bayi harimau yang lahir dengan keadaan sehat dan normal pada 12 Juli 2025 lalu itu kini beratnya sekitar 9 kilogram. Meski telah diberi makan ayam, keduanya, kata dia masih menyusu kepada sang induk. Namun, intensitasnya telah berkurang dari baru lahir.
“Sekarang sudah 3 jam sekali menyusu pada induknya. Pada saat lahir dia menyusunya lebih sering,” ujarnya.
Sementara itu, salah satu keeper Usup Supriatna (51) mengatakan, dua bayi harimau ini menyusu ke induknya saban sore, sekitar pukul 16.00 WIB. Itu berbarengan dengan salah satu jadwal si induk mendapat jatah makan.
Ia mengatakan para keeper menghindari kontak langsung dengan 2 bayi harimau itu bila sedang menyusu. Sebab, induknya bisa jadi sensitif.
“Takutnya ada apa-apa sama induknya, anaknya. Takutnya nggak mau ngurus, gitu,” ujar Usup.
Ia pun bercerita, telah menjadi keeper dari hewan karnivora sejak 15 tahun lalu. Selain harimau Benggala, ia juga pernah merawat anakan harimau Sumatera yang lahir di Bandung Zoo.
“Sudah banyak, sih. Kurang lebih ada 10 lah,” akunya.
Cari Orang Tua Asuh
Sulhan memastikan bahwa kendati Bandung Zoo tutup untuk publik, perawatan Huru dan Hara itu berjalan baik dengan cadangan dana Yayasan Margasatwa Tamansari, selaku pengelola. Bahkan ia mengaku ada belasan hewan lain yang lahir selama penutupan.
Kendati begitu, ia bilang pihaknya saat ini tengah mencari orang tua asuh buat Huru dan Hara.
“Yes, kita memberikan kesempatan untuk publik untuk memberikan nama untuk menjadi orang tua angkat dari dua harimau benggala jantan ini. Silakan kontak di Instagram kita atau bisa juga kontak ke Humasnya,” katanya.
“Nanti kita akan coba interview untuk memperlihatkan keseriusan dan kesiapan orang tua asuhnya,” imbuh dia.
Harapkan Bandung Zoo Kembali Beroperasi
Di sisi lain, Aan mengungkapkan harapannya agar Bandung Zoo bisa lekas buka untuk publik kembali. Sebab tak hanya soal pemasukan yang terganggu, tetapi juga sejumlah agenda kerja sama dengan pihak lain.
“Dan jangan salah, kita ada puluhan program studi yang akan melaksanakan penelitian di sini itu menjadi terdampak. Kemudian bukan itu saja, kemudian ada hal-hal lain-lain kerjasama kita dengan pihak luar juga terganggu. Jadi penutupan ini sangat mengganggu aktivitas, terutama satwa,” tuturnya.