DPRD Jabar Soroti Tata Kelola Bandung Zoo Usai Kematian Dua Harimau Benggala
Kematian dua anak harimau Benggala di Bandung Zoo memicu sorotan DPRD Jabar terhadap tata kelola kebun binatang yang dinilai bermasalah, bukan sekadar insiden biasa.
Wakil Ketua DPRD Jawa Barat, Ono Surono, menyoroti serius tata kelola Kebun Binatang Bandung (Bandung Zoo) menyusul kematian dua anak harimau Benggala. Insiden tragis ini melibatkan Huru dan Hara, dua harimau berusia delapan bulan yang baru diperkenalkan ke publik. Peristiwa ini terjadi di Bandung, memicu keprihatinan mendalam dari berbagai pihak.
Menurut Ono, kematian satwa langka tersebut bukan sekadar insiden biasa, melainkan dampak dari konflik pengelolaan yang telah berlangsung lama. Ia menilai kurangnya kepedulian dari pemerintah pusat maupun daerah turut memperparah kondisi ini. Konflik internal di Bandung Zoo diduga menjadi akar masalah utama yang belum terselesaikan.
Ono mendesak seluruh pihak terkait, baik pemerintah daerah, kementerian, maupun pengelola, untuk segera berkoordinasi. Tujuannya adalah meningkatkan kualitas perawatan satwa demi mencegah terulangnya kejadian serupa. Hal ini menjadi krusial untuk memastikan kesejahteraan hewan di kebun binatang tersebut.
Konflik Pengelolaan dan Keterlibatan Yayasan Lama
Ono Surono mengungkapkan bahwa konflik pengelolaan di Bandung Zoo telah berlangsung berlarut-larut tanpa penyelesaian yang konkret. Situasi ini, menurutnya, telah diprediksi jauh-jauh hari akan berdampak buruk pada satwa. Kematian harimau Benggala Huru dan Hara menjadi bukti nyata dari permasalahan tersebut.
Salah satu poin krusial yang disoroti adalah masih terlibatnya yayasan lama dalam pengelolaan Bandung Zoo. Padahal, izin pengelolaan yayasan tersebut telah dicabut oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Keterlibatan pihak yang tidak berwenang ini diduga menjadi faktor utama di balik buruknya tata kelola.
Kondisi ini menciptakan ketidakjelasan dalam struktur manajemen dan tanggung jawab. Akibatnya, fokus pada kesejahteraan satwa menjadi terabaikan. DPRD Jabar menekankan perlunya penataan ulang manajemen secara menyeluruh.
Kritik Terhadap Pengawasan Pemerintah
Pemerintah Kota Bandung dinilai seharusnya dapat mengantisipasi kondisi buruk di Bandung Zoo sejak awal. Ono Surono mengkritik Pemkot Bandung karena kurangnya tindakan proaktif dalam memastikan kesejahteraan hewan. Aspek kesehatan dan ketersediaan pakan yang memadai menjadi fokus utama kritik ini.
Selain itu, kementerian terkait juga tidak luput dari sorotan tajam DPRD Jawa Barat. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dianggap belum optimal dalam menjalankan fungsi pengawasan. Standar pemeliharaan satwa yang seharusnya dipenuhi justru terabaikan.
Ono sempat menawarkan kerja sama dengan Kebun Binatang Ragunan dan Kebun Binatang Surabaya untuk penanganan satwa. Namun, tawaran tersebut tidak mendapatkan respons serius dari Wali Kota Bandung Muhammad Farhan. Kurangnya koordinasi ini memperlihatkan adanya celah dalam penanganan masalah.
Desakan Peningkatan Kualitas Perawatan Satwa
DPRD Jawa Barat mendesak seluruh pihak terkait untuk segera berkoordinasi dan mengambil langkah konkret. Peningkatan kualitas perawatan satwa di Bandung Zoo menjadi prioritas utama. Hal ini mencakup berbagai aspek penting dalam pemeliharaan hewan.
Standar makanan yang memadai, kebersihan kandang yang terjaga, dan pemeriksaan kesehatan rutin harus dilakukan dengan sebaik-baiknya. Langkah-langkah ini krusial untuk memastikan satwa hidup dalam kondisi optimal. Tujuannya adalah mencegah terulangnya kematian satwa langka lainnya di masa mendatang.
Kematian Huru dan Hara, anak harimau Benggala yang lahir pada 12 Juli 2025 dari induk Shah Rukh Khan dan Jelita, menjadi pelajaran berharga. Mereka sempat diperkenalkan kepada publik pada September 2025 sebagai harapan baru. Tragedi ini menegaskan urgensi perbaikan tata kelola dan perawatan satwa.
Sumber: AntaraNews