DPRD Kota Bandung mendesak adanya evaluasi komprehensif terhadap pengelolaan Kebun Binatang Bandung (Bandung Zoo). Desakan ini muncul menyusul insiden kematian dua anak harimau Benggala yang bernama Huru dan Hara pada akhir Maret 2026. Wakil Ketua DPRD Kota Bandung, Edwin Senjaya, menekankan pentingnya respons serius terhadap kejadian ini.
Kematian kedua satwa langka tersebut, yang terjadi pada Kamis (26/3) dan Selasa (24/3), disebabkan oleh virus Panleukopenia. Namun, Edwin menilai bahwa meskipun penyebabnya adalah virus, potensi kelalaian dalam manajemen pengelolaan tidak dapat diabaikan begitu saja. Situasi ini memicu kekhawatiran mendalam dari pihak legislatif.
Edwin Senjaya menegaskan bahwa kematian harimau, sebagai satwa yang terancam punah dan dilindungi, bukanlah kejadian biasa yang bisa diabaikan. Ia menyerukan agar Pemerintah Kota Bandung, Kementerian Kehutanan, serta pengelola Bandung Zoo segera mengambil langkah nyata. Hal ini penting untuk mencegah terulangnya insiden serupa di masa mendatang.
Advertisement
Advertisement
Kasus kematian dua anak harimau Benggala, Huru dan Hara, di Bandung Zoo telah menjadi sorotan publik dan memicu desakan evaluasi. Kedua harimau tersebut, yang baru berusia delapan bulan, dilaporkan mati karena terinfeksi virus Panleukopenia. Edwin Senjaya menyatakan keprihatinannya yang mendalam atas insiden tragis ini, mengingat status harimau sebagai satwa dilindungi.
Evaluasi menyeluruh terhadap standar operasional dan perawatan satwa menjadi sangat krusial, meskipun penyebab kematian adalah virus. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa semua satwa mendapatkan lingkungan yang sehat dan aman, serta mengidentifikasi potensi kelalaian dalam pengelolaan kebun binatang.
DPRD Kota Bandung mengingatkan bahwa insiden ini harus menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak terkait. Kematian satwa langka tidak bisa dianggap enteng dan memerlukan tindakan preventif yang lebih baik. Peningkatan pengawasan dan perbaikan sistem pengelolaan diharapkan dapat menjaga kelangsungan hidup satwa di Bandung Zoo.
Advertisement
Advertisement
Edwin Senjaya juga menyoroti bahwa konflik berkepanjangan terkait pengelolaan Bandung Zoo turut memperburuk kondisi satwa di dalamnya. Situasi ini menciptakan ketidakpastian dan potensi terabaikannya aspek penting dalam perawatan hewan. Konflik internal atau eksternal dapat mengganggu fokus pada kesejahteraan satwa.
Kondisi satwa yang memprihatinkan akibat konflik pengelolaan tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. DPRD menilai bahwa kasus kematian harimau ini adalah indikator serius dari masalah yang lebih besar. Solusi permanen untuk konflik pengelolaan sangat dibutuhkan demi keberlanjutan operasional kebun binatang dan kesehatan satwanya.
Wakil Ketua DPRD berharap Pemerintah Kota Bandung dan pihak terkait dapat segera menyelesaikan permasalahan pengelolaan ini. Langkah konkret diperlukan untuk memastikan bahwa seluruh satwa mendapatkan perawatan yang layak. Perhatian serius harus diberikan pada pakan, kesehatan, serta kebersihan kandang secara optimal.
Advertisement
Advertisement
Untuk mencegah terulangnya kejadian serupa, Edwin Senjaya meminta peningkatan standar pemberian pakan, kebersihan kandang, dan pemeriksaan kesehatan satwa. Standar ini harus diterapkan secara optimal dan berkala untuk menjamin kesejahteraan hewan. Perawatan yang layak adalah hak setiap satwa yang berada di kebun binatang.
Pemerintah seharusnya dapat mengantisipasi dan memastikan seluruh satwa mendapatkan perawatan yang memadai. Ini termasuk ketersediaan pakan berkualitas, fasilitas kesehatan yang lengkap, dan lingkungan kandang yang bersih. Pengawasan ketat dari pihak berwenang juga diperlukan untuk memastikan implementasi standar tersebut.
DPRD menegaskan bahwa tidak ada toleransi untuk kelalaian dalam perawatan satwa, terutama yang dilindungi. Kolaborasi antara pengelola, Pemerintah Kota Bandung, dan Kementerian Kehutanan menjadi kunci. Tujuannya adalah menciptakan lingkungan yang aman dan sehat bagi semua koleksi satwa di Bandung Zoo.
Advertisement
Sumber: AntaraNews