Kemenhut Tingkatkan Biosekuriti Pascakematian Harimau di Bandung Zoo

Kemenhut dan pengelola Eks Kebun Binatang Bandung memperketat biosekuriti setelah kematian dua anak harimau benggala akibat Feline Panleukopenia Virus (FPV), memicu kekhawatiran akan Kematian Harimau Bandung Zoo.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Kemenhut Tingkatkan Biosekuriti Pascakematian Harimau di Bandung Zoo
Kemenhut dan pengelola Eks Kebun Binatang Bandung memperketat biosekuriti setelah kematian dua anak harimau benggala akibat Feline Panleukopenia Virus (FPV), memicu kekhawatiran akan Kematian Harimau Bandung Zoo. (AntaraNews)

Jakarta, 28 Maret – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) bersama pengelola Eks Kebun Binatang Bandung (Bandung Zoo) mengambil langkah serius untuk meningkatkan biosekuriti. Tindakan ini dilakukan menyusul Kematian Harimau Bandung Zoo, tepatnya dua anak harimau benggala, yang disebabkan oleh infeksi Feline Panleukopenia Virus (FPV) yang sangat menular. Plt. Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat, Ammy Nurwaty, menjelaskan bahwa koordinasi dan penanganan terpadu telah dilakukan sejak laporan awal diterima.

Kematian tragis dua anak harimau bernama Hara dan Huru, yang masing-masing berusia delapan bulan, terjadi pada Kamis (26/3) dan Selasa (24/3) lalu. Virus FPV diketahui menyerang sel-sel yang aktif membelah, terutama pada saluran pencernaan, menyebabkan kerusakan mukosa usus secara masif. Penyakit ini memiliki tingkat kematian yang sangat tinggi, khususnya pada satwa muda dengan sistem kekebalan yang belum sempurna.

Sebagai respons, BBKSDA Jawa Barat dan pengelola Eks Kebun Binatang Bandung akan memperketat pengawasan. Mereka berencana meningkatkan langkah biosekuriti, melakukan desinfeksi lingkungan secara intensif, dan memperketat pengawasan lalu lintas orang serta peralatan. Selain itu, pemantauan kesehatan seluruh satwa karnivora, khususnya dari famili Felidae, juga akan ditingkatkan guna mencegah penyebaran virus lebih lanjut.

Dua anak harimau benggala (Panthera tigris tigris) yang menjadi koleksi di Eks Kebun Binatang Bandung, bernama Hara dan Huru, dilaporkan mati pada akhir Maret. Hara dan Huru, yang lahir pada 12 Juli 2025 dari pasangan induk Sahrulkan (jantan) dan Jelita (betina), masing-masing berusia delapan bulan saat kematiannya. Kematian ini menimbulkan duka mendalam bagi pihak pengelola dan pecinta satwa.

Berdasarkan rangkaian pemeriksaan klinis, uji diagnostik, dan hasil nekropsi yang dilakukan oleh tim dokter hewan, penyebab kematian kedua anak harimau tersebut telah teridentifikasi. Tim medis menyimpulkan bahwa Hara dan Huru mati akibat infeksi Feline Panleukopenia Virus (FPV). Virus ini diketahui sangat berbahaya dan menular di antara satwa famili Felidae.

Ammy Nurwaty dari BBKSDA Jawa Barat menegaskan bahwa berbagai upaya pengobatan dan pencegahan penularan telah dilakukan secara maksimal. Ini termasuk pemisahan kandang dan pemberian terapi intensif kepada satwa yang terinfeksi. Namun, keganasan virus FPV pada satwa muda yang rentan tidak dapat diatasi.

Feline Panleukopenia Virus (FPV) merupakan penyakit yang sangat menular dan mematikan bagi satwa famili Felidae, baik yang domestik maupun liar, termasuk harimau. Virus ini memiliki karakteristik unik karena menyerang sel-sel yang aktif membelah dalam tubuh inang. Target utamanya adalah saluran pencernaan, di mana FPV menyebabkan kerusakan mukosa usus secara masif.

Penularan FPV dapat terjadi melalui beberapa cara, menjadikannya ancaman serius di lingkungan kebun binatang. Kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi menjadi jalur utama penyebaran. Selain itu, lingkungan yang terkontaminasi oleh feses atau cairan tubuh hewan sakit juga dapat menjadi sumber penularan. Benda perantara atau fomite, seperti peralatan kandang atau pakaian petugas yang tidak steril, juga berperan dalam penyebaran virus ini.

Pada satwa muda, seperti anak harimau Hara dan Huru, FPV memiliki tingkat kematian yang sangat tinggi. Hal ini disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh mereka yang belum berkembang sempurna, membuat mereka sangat rentan terhadap infeksi virus yang agresif ini. Oleh karena itu, langkah pencegahan dan biosekuriti yang ketat menjadi sangat krusial untuk melindungi populasi satwa Felidae lainnya.

Menyikapi Kematian Harimau Bandung Zoo, Kemenhut melalui BBKSDA Jawa Barat, telah berkoordinasi erat dengan pengelola Eks Kebun Binatang Bandung. Koordinasi ini bertujuan untuk melakukan penanganan terpadu dan mencegah penyebaran FPV lebih lanjut. Ammy Nurwaty menyatakan bahwa langkah-langkah darurat seperti pemisahan kandang dan terapi intensif telah diterapkan sejak awal.

Sebagai tindak lanjut, BBKSDA Jawa Barat dan pengelola kebun binatang akan meningkatkan langkah biosekuriti secara komprehensif. Desinfeksi lingkungan secara intensif akan dilakukan di seluruh area yang berpotensi terkontaminasi virus. Selain itu, pengawasan lalu lintas orang dan peralatan akan diperketat untuk meminimalkan risiko masuknya patogen dari luar atau penyebarannya di dalam area kebun binatang.

Peningkatan pemantauan kesehatan juga menjadi fokus utama, khususnya untuk seluruh satwa karnivora, terutama dari famili Felidae. Hal ini penting untuk mendeteksi dini gejala penyakit dan memberikan penanganan cepat jika ada indikasi infeksi. Upaya ini diharapkan dapat melindungi satwa lain dari ancaman FPV dan memastikan kesejahteraan koleksi satwa di Bandung Zoo.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi