Mengapa Banyak Korban Kebakaran Gedung PT Terra Drone? Begini Kata Polisi
Menurut Susatyo, akibat tidak adanya peringatan dini, karyawan di lantai dua hingga lantai empat tetap berada di area kerja hingga asap pekat menutup.
Fakta baru terungkap dari hasil penyidikan kebakaran gedung PT Terra Drone Indonesia. Polisi memastikan bangunan enam lantai itu jauh dari standar keselamatan, hingga 22 karyawan terjebak dan meregang nyawa tanpa sempat menyelamatkan diri.
Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Susatyo Purnomo Condro mengungkapkan, gedung tersebut nyaris tak memiliki perlindungan dasar. Tidak ada alarm peringatan, tidak tersedia pintu darurat, dan jalur evakuasi pun nihil. Ketika api mulai membesar di lantai bawah, tak ada sistem yang memberi sinyal bahaya.
Menurut Susatyo, akibat tidak adanya peringatan dini, karyawan di lantai dua hingga lantai empat tetap berada di area kerja hingga asap pekat menutup seluruh ruangan.
"Seandainya alarm warning sistem awal Ketika di bawah itu mungkin terbakar, mungkin lantai 2, 3, 4 mungkin bisa segera menyelamatkan diri. Tetapi ini tidak ada, sehingga memang korbannya jatuh begitu besar," kata dia kepada wartawan, Jumat (12/12).
Dia menyatakan, pihaknya telah memeriksa Dinas Cipta Karya terkait penerbitan IMB dan SLF gedung tersebut. Pemeriksaan lanjutan akan dilakukan untuk mengetahui apakah ada kelalaian dalam hal tersebut. "Kami berharap agar kejadian ini, atau kejadian serupa tidak terjadi lagi," kata dia.
Gedung Tak Ada Alarm Kebakaran
Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat, AKBP Roby Heri Saputra menambahkan, berdasarkan keterangan saksi, gedung sama sekali tidak memiliki alarm kebakaran.
Satu-satunya peringatan datang dari seorang karyawan yang berlari ke lantai atas sambil berteriak memberi tahu bahwa gedung terbakar.
"Oh, alarm kebakaran juga berdasarkan keterangan Saksi tidak ada. Jadi, itu yang tahu kebakaran karena ketika sudah terbakar di bawah, ada yang lari ke atas sambil memberi tahu bahwa ada kebakaran (di) lantai 2, terus kemudian dia sempat membawa salah satu APAR ini ke bawah," ujar dia.
"Nah jadi itu yang menjadi alarm-nya. Maksudnya alarm itu disampaikannya melalui mulut, manual. Jadi tidak ada alarm dari sistemnya sendiri. Saya kira itu," sambung dia.
Ruangan Tumpukan Baterai
Selain itu, dari identifikasi, terdapat empat ruang inventaris yang dipisah sekat, salah satunya digunakan untuk menyimpan tumpukan baterai drone.
Dari lantai dua hingga lantai enam, seluruh sisi gedung tertutup kaca tebal tanpa ventilasi. Dia menduga banyak korban ditemukan di pingggir kaca karena berusaha memecahkannya untuk mendapatkan udara.
Namun kaca tidak bisa dihancurkan dengan tangan kosong, dan tidak ditemukan alat pemecah kaca di lokasi.
"Indikasinya tidak ada pemecah kaca, karena tidak berhasil memecahkan kaca untuk mengambil udara atau oksigen," ucap dia.