Kebakaran yang terjadi di gedung terra drone dan Seorang pria yang Selamatkan 15 Nyawa
Jakarta kembali berduka. Di tengah kesibukan kota yang tak pernah tidur, di sebuah sudut kawasan industri yang padat, asap dan api tiba-tiba menjelma menjadi mimpi buruk pada siang yang harusnya biasa saja.
Gedung Terra Drone yang biasanya hanya menjadi tempat orang bekerja, bercanda, dan mengejar target namun mendadak berubah menjadi labirin kepanikan.
Pada siang hari, langit cerah, tapi suasana di sekitar gedung terasa muram. Bau hangus masih menyengat ketika merdeka.com menelusuri lokasi kejadian. Garis polisi membentang rapat mengelilingi bangunan. Di sudut halaman, sebuah posko darurat berdiri, dijaga polisi dan sejumlah petugas lainnya. Tumpukan puing-puing dan kaca yang retak menjadi saksi bisu betapa cepatnya api melahap bangunan bertingkat itu.
Warga dan pengendara lain berhenti sejenak untuk bercerita lirih satu sama lain dan mendokumentasikan dengan Handphone nya masing-masing, Beberapa orang menatap ke arah lantai tiga dan lima dua titik yang menjadi tempat terperangkapnya 22 korban jiwa.
Di tengah kepiluan itu, ada satu nama yang menjadi sorotan publik dengan aksinya yang menolong para korban, Rian, seorang security di Tempat tersebut yang memanjat, merangkak, dan menantang maut demi menyelamatkan orang lain.
Keputusan Nekat
Rian seorang security pernah membayangkan akan menjadi bagian dari kisah heroik. Ketika kebakaran terjadi, ia hanya terpanggil oleh satu hal yaitu menyelamatkan siapa pun yang masih hidup.
"Waktu itu saya enggak mikir apa-apa lagi," ujarnya. "Yang saya lihat cuma orang-orang yang masih teriak minta tolong. Jadi mau takut atau tidak, saya harus naik," ujarnya Rian.
Untuk bisa naik ke titik teratas bangunan, ia bahkan harus meminta izin perusahaan karena ada kabel listrik yang masih aktif. Di sana juga terdapat tralis dan tower air.
Ia juga memanjat, merangkak, menahan panas asap yang terus naik ke langit. Tangga yang tersedia ternyata tak cukup tinggi untuk menjangkau para korban yang berkumpul di pinggir atap.
"Saya lihat ada dua tangga, tapi tetap enggak nyampe," ujarnya Rian.
Namun saat itulah ia melihat seorang perempuan gemetar, berdiri di antara kepulan asap, seperti tak lagi tahu harus ke mana. Lebih menegangkan lagi, perempuan itu bersama seorang laki-laki nyaris nekat ingin melompat.
Ia sendiri mengakui tubuhnya ikut gemetaran. Namun, kecemasan itu harus ia tekan jauh ke dalam dada.
Advertisement
Detik-Detik Api Membesar
Waktu masih menunjukkan jam makan siang ketika insiden bermula. Banyak karyawan yang sudah berada di luar gedung. Namun tidak demikian dengan penghuni lantai tiga dan lima.
Api yang mulanya kecil, dalam hitungan menit menjadi besar. Asap pekat naik lebih cepat dari api, membungkus seluruh lantai atas.
"Baterainya Panas terus keluar asap lama lama keluar api,tapi awalnya apinya juga kecil lama-lama membesar," ungkap Rian.
Api yang mulanya kecil, dalam hitungan menit menjadi besar. Asap pekat naik lebih cepat dari api, membungkus seluruh lantai atas. Pada saat itu yang berada di lantai satu dan dua sempat melarikan diri, sebagian lagi berhasil menuruni tangga. Namun mereka yang berada lebih tinggi justru semakin terdesak.
"Mungkin yang 15 orang itu lari ke atas, tapi yang 22 orang itu meninggal. Kejebak asap," ujarnya.
Advertisement
Korban Terjebak
Rian menyebutkan lokasi pasti para korban pada lantai tiga dan lima, tempat asap mengepung tanpa ampun. Di bawah, warga berusaha menyelamatkan motor-motor karyawan yang terparkir di depan gedung sekitar 50-an motor agar tidak ikut terbakar.
Ketika petugas pemadam kebakaran tiba, tercatat hanya butuh waktu sebentar pemadam tiba.
Di atap gedung, Rian tidak menunggu siapa pun. Bersama seorang rekannya, ia mengangkat tangga yang panjangnya tidak mendapat atap gedung tersebt. Namun Dengan tenaga seadanya, ia memeluk tubuh tangga itu, menahannya dengan badan agar tidak goyah.
"Satu-satu saya turunin mereka saya menahan dibawah tangga agar mereka yang 15 orang itu selama untuk turun," ujarnya Rian.
Merdeka.com mengamati kondisi gedung tersebut dari dekat. Dengan cat dinding yang menghitam, jendela-jendela pecah, dan bau hangus. Di lantai dasar, batas garis polisi membentang di tempat kejadian tersebut untuk membatasi akses siapa pun yang ingin masuk tanpa izin.
Posko evakuasi berdiri sejak awal kejadian hingga sekarang untuk Polisi berjaga. Posko kecil berdiri di samping gedung, tempat petugas berkumpul, menandai kejadian sebagai tragedi yang sedang diselidiki.
Warga dan pengemudi motor yang lewat berhenti sebentar untuk mendokumentasikan gedung tempat tersebut.
Di balik garis polisi, di antara dinding menghitam dan tangga besi yang pernah ia panjat, keberanian Rian tersisa sebagai bagian dari cerita besar hari itu. Keberanian yang tidak meledak-ledak, tapi lahir dari naluri sederhana untuk menyelamatkan nyawa seseorang.
"Saya enggak mikir apa-apa. Yang penting orang bisa selamat," katanya Rian.
Reporter Magang: Ahmad Subayu