Kementan Buka Suara soal Polemik Aturan Pembatasan Nikotin

Pengembangan varietas tembakau berkadar nikotin rendah membutuhkan waktu hingga 30 tahun.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Kementan Buka Suara soal Polemik Aturan Pembatasan Nikotin
Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 (PP 28/2024) berpotensi memberikan tekanan terhadap berbagai sektor, termasuk industri hasil tembakau (IHT). (CHAIDEER MAHYUDDIN/AFP)

Kementerian Pertanian (Kementan) menyebut pengembangan varietas tembakau berkadar nikotin rendah membutuhkan waktu hingga 30 tahun. Karena itu, pemerintah diminta mempertimbangkan dampak terhadap petani sebelum menerapkan pembatasan kadar nikotin dan tar pada produk tembakau.

Ketua Kelompok Tanaman Semusim Direktorat Tanaman Semusim Kementan, Yudi Wahyudi, mengatakan Kementan tidak dilibatkan secara menyeluruh dalam pembahasan rancangan aturan tersebut karena regulasi mengacu pada Undang-Undang Kesehatan yang mengatur aspek hilir atau konsumsi.

"Kementerian Pertanian tidak dilibatkan secara menyeluruh dalam pembahasan ini karena rancangan aturan ini berlandaskan pada mandat Undang-Undang Kesehatan, bukan Undang-Undang Pertanian. Walaupun demikian, Kementerian Pertanian tetap memberikan dukungan berupa data-data terkait komoditas tembakau yang diperlukan," ujar Yudi dilansir Antara, Senin (27/7/2026).

Menurut Yudi, menghasilkan varietas tembakau berkadar nikotin rendah bukan pekerjaan yang bisa dilakukan dalam waktu singkat. Proses pemuliaan tanaman membutuhkan puluhan generasi untuk memperoleh varietas yang tetap tahan terhadap hama, sesuai dengan kondisi lahan tropis Indonesia, dan memiliki nilai ekonomi bagi petani.

"Tanpa waktu transisi sepanjang ini, industri lokal dipastikan kolaps lebih dulu sebelum benih ideal tersebut selesai diteliti," katanya.

Yudi memaparkan secara agronomis dan ilmiah, menurunkan nikotin hingga ke tingkat ekstrem tersebut dapat ditempuh melalui tiga jalur utama yakni melalui Pemuliaan Persilangan Konvensional (Breeding) yaitu mengawinkan varietas lokal unggul yang berkarakteristik fisik kuat dengan varietas luar negeri yang secara genetik berkadar nikotin sangat rendah.

Kedua, Rekayasa Genetika Modern (Gene Editing CRISPR) yaitu mematikan atau menonaktifkan gen pembuat enzim spesifik di akar tempat nikotin diproduksi sebelum dialirkan ke daun.

Ketiga, Modifikasi Teknik Budidaya (Agronomi) yaitu mengubah total cara tanam tradisional, seperti mengurangi pupuk Nitrogen (N), tidak melakukan pemangkasan pucuk (topping), serta menjaga kecukupan air secara tepat dapat menekan akumulasi kadar nikotin di daun secara signifikan.

"Secara umum, belum ada varietas lokal murni Indonesia yang berada di bawah 1 persen. Mayoritas tembakau rajangan dan kretek kita (seperti Temanggung, Boyolali, atau Garut) secara alamiah berkisar antara 3 persen hingga 8 persen,” ungkap Yudi.

Ia menjelaskan kadar nikotin pada tembakau lokal dipengaruhi faktor genetik serta kondisi lingkungan seperti jenis tanah, iklim, dan intensitas sinar matahari. Karena itu, menurunkan kadar nikotin hingga di bawah 1 persen menjadi tantangan ilmiah dan agronomis yang tidak mudah dicapai.

Selain aspek teknis, Yudi menilai pemerintah juga perlu memperhitungkan dampak ekonomi. Jika pembatasan kadar nikotin menyebabkan berkurangnya produksi tembakau, jutaan petani memerlukan waktu panjang untuk beralih ke komoditas lain yang memiliki nilai ekonomi setara.

Senada, Direktur Minuman, Tembakau, dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian Merrijantij Pungungan Pintaria mengatakan target kadar nikotin maksimal 1 miligram dan tar 10 miligram diperkirakan baru dapat dicapai dalam jangka panjang.

"Target kadar nikotin 1 miligram dan tar 10 miligram mungkin baru dapat dicapai dalam jangka waktu sekitar 30 tahun. Karena itu, kebijakan harus mempertimbangkan aspek kesehatan, ekonomi, serta keberlangsungan tenaga kerja, baik di sektor hulu maupun industri," ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa pembatasan kadar tar hingga 10 miligram berpotensi berdampak besar terhadap industri rokok kretek yang selama ini menggunakan standar berbeda.

 

Rekomendasi