Menengok Fasilitas Ojek Online di Mal Jakarta
Meski sederhana, fasilitas ini sangat berarti bagi mereka. Gratis, tanpa biaya, dan pastinya aman.
Di tengah kemewahan dan sibuknya aktivitas pusat perbelanjaan di Jakarta, ada sudut kecil yang sering luput dari perhatian. Di sanalah motor para ojek online (ojol) terparkir rapi. Singgah sebentar mengambil pesanan, lalu bergerak ke tempat tujuan. Tidak luas, tapi bermanfaat.
Terlihat motor-motor tersebut berjejer rapi saling berhimpitan, hanya menyisakan helm yang menggantung di kaca spion. Meski sederhana, fasilitas ini sangat berarti bagi mereka. Gratis, tanpa biaya, dan pastinya aman.
Para ojol tersebut datang dan pergi silih berganti. Ada yang datang lalu bergegas masuk mal, ada pula yang telah kembali sambil membawa pesanan, lalu pergi mengantarkannya.
Bagi pengunjung mal, area itu mungkin hanya tempat singgah atau bersenang-senang. Namun bagi para pengemudi ojol, titik tersebut adalah ruang tempat mengais rezeki, mereka berharap order makanan, paket, atau penumpang terus berdatangan.
Salah satu pengemudi ojol yang ditemui di Cilandak Town Square, Subur (40) mengaku senang atas fasilitas yang disediakan. Apalagi bagi dia yang sering kali mengambil pesanan di Citos. Alih-alih membayar parkir berulang kali, fasilitas ini justru didapatkan secara gratis.
Kondisi ini juga membuatnya tidak pusing lagi dimana harus memarkirkan motornya, saat ingin mengambil pesanan makanan. Apalagi jarak antara parkiran dan mal sangat dekat. Para ojol jadi tidak terburu-buru harus mengejar waktu. Walaupun, bisa saja kondisi parkiran padat sehingga harus bergantian.
Namun, tidak semua mal memiliki pola yang sama untuk parkir ojol. Di lokasi lain, kondisi parkir bagi ojol justru menghadirkan tantangan tersendiri, salah satunya parkiran ojol di Pondok Indah Mall 1 (PIM 1).
Sejumlah motor berbagai tipe berjajar dengan rapi dengan menyisakan helm di masing-masing motor. Tampak pula seorang petugas keamanan berjaga di pos tersebut. Setiap ojol yang datang tak luput dari perhatiannya.
Petugas keamanan tersebut wajib mengecek satu per satu ojol yang baru datang. Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan apakah mereka benar-benar memiliki pesanan yang harus diambil atau diantar.
Rizki (42), seorang ojol yang ditemui Liputan6.com di kawasan PIM 1 menceritakan pengalamannya. Ia merasa senang bahwa pengelola mal memberikan space untuk parkir ojol. Meski terbilang kecil, tapi cukup untuk mereka menitipkan motornya sementara.
Berbeda dengan Citos, di PIM 1, jarak parkiran ojol menuju dalam mal menjadi salah satu keluhan yang dirasakannya. Rizki mengatakan, jarak dari tempat parkir kerap kali menjadi hambatan yang membuatnya sesegera mungkin mengambil pesanan. Tidak jarang, ia terpaksa mempercepat langkahnya, demi mengejar waktu.
“Kalau parkiran sih aman. Aman karena ada security-nya,” jelas dia kepada Liputan6.com. Selain itu, biaya parkir gratis juga menguntungkan baginya.
Walaupun terhambat karena jarak, fasilitas parkir ini membuat para ojol lebih leluasa ketika meninggalkan kendaraan untuk mengambil pesanan. Tanpa was-was ada risiko kehilangan. Apalagi jika terpaksa parkir sembarangan di pinggir jalan.
Ojol Butuh Ruang Tunggu
Selain tempat parkir untuk ojol mengambil pesanan, kebutuhan ojol tidak berhenti sampai situ saja. Di titik lain PIM, sejumlah ojol menggunakan sisi jalur pinggir jalan sebagai tempat menunggu penumpang.
Sejumlah pengemudi ojol tampak mangkal di depan lobi dua PIM 2. Sebagian dari mereka bermain ponselnya, ada pula yang berbincang satu sama lain. Selain itu, terlihat beberapa pengemudi menurunkan atau menjemput para penumpang.
Kali ini bukan tempat parkir khusus, melainkan trotoar pinggir jalan yang sering dimanfaatkan ojol untuk mangkal sambil menunggu penumpang. Lokasi ini juga menjadi titik buat ojol untuk menurunkan atau menjemput penumpang.
“Ini dia titik shelternya di sini. Berarti kalau orang mau nurunin atau mau jemput titik ini, lobi dua ini. Kalau lobi satu di depan situ, pintu keluarnya,” kata salah satu ojol, Jaelani (44), kepada Liputan6.com
Jaelani mengungkapkan, sebenarnya pengelola mal menyediakan parkiran khusus ojol, termasuk di PIM 2. Namun, biasanya itu digunakan bagi mereka yang mengantarkan atau mengambil pesanan barang maupun makanan.
Sedangkan fasilitas untuk ojol yang menunggu penumpang kondisinya berbeda. Tak ada tempat khusus untuk mangkal. Karena itu, tak jarang banyak dari mereka standby di sekitar lobi sambil berharap ada notifikasi penumpang yang masuk.
Bagi Jaelani, area pinggir sebenarnya cukup nyaman untuk mengantarkan atau menjemput penumpang. Namun, Ia berharap lebih dari itu. Jaelani masih berharap terdapat fasilitas penunjang lain dapat disiapkan, seperti shelter yang lebih memadai.
Tempat ini nantinya bukan sekadar untuk menunggu penumpang, tapi juga berteduh jika tiba-tiba hujan melanda. Ketersediaan fasilitas stop kontak juga menjadi perhatian baginya. Sebagai pengemudi ojol, memastikan ponsel tetap hidup adalah keharusan.
“Ya kalau di sini fasilitasnya paling ya, misalkan kayak charger HP, misalkan apa gitu tempatnya biar lebih nyaman lagi, ada buat berteduh nantinya,” tambah dia.
Kebutuhan sederhana tersebut seringkali luput dari perhatian. Padahal, dengan mobilitas tinggi, fasilitas tersebut dapat membuat mereka lebih tenang dalam bekerja. Di sisi lain, penumpang dari PIM akan lebih mudah mendapatkan ojol tanpa perlu menunggu lama.
Shelter dengan Segala Fasilitasnya
Di sisi lain Jakarta, sebuah fasilitas tampak lebih terstruktur di pusat perbelanjaan lainnya. Pemandangan berbeda di tempat parkir pengemudi ojek online (ojol), khususnya (Grab) di area Mal Kota Kasablanka. Bukan sekadar menitipkan motor, tempat ini merupakan Shelter Grab yang sengaja dibangun untuk memudahkan mobilitas para mitra.
Berdasarkan pantauan, fasilitas shelter ini terbilang lengkap. Pengemudi ojol tak hanya sekedar memarkirkan kendaraannya. Ada toilet yang dapat digunakan, tempat duduk untuk bersantai sejenak, stop kontak untuk kembali mengisi daya, bahkan air minum untuk melepas dahaga. Lebih dari itu, aspek keamanan juga sangat diperhatikan di shelter ini. Terbukti dengan adanya CCTV di salah satu sudut area parkiran.
Nanang (48), salah satu pengemudi ojol (Grab) sekaligus penjaga shelter, menyebut bahwa pos sebenarnya dibuat langsung oleh perusahaan sebagai fasilitas untuk mitra, bukan dari pengelola mal.
Apalagi, kata Nanang, beberapa minggu belakang pihak Dinas Perhubungan (Dishub) sering melakukan penyisiran bagi pemotor yang parkir sembarangan. Karena itulah, adanya fasilitas ini sangat menguntungkan para mitra ojol.
Pihak mal pun menyambut baik. Meski shelter ini hanya diperuntukan untuk pengemudi yang ingin drop off atau pick barang maupun makanan, bukan untuk penumpang.
Rasa aman dan nyaman juga dirasakan oleh Anton (56) dengan keberadaan shelter ini. Selain membantu mobilitas ojol sehingga lebih mudah, shelter ini juga memberikan rasa aman pada kendaraannya. Tak ada lagi rasa khawatir helm atau barang hilang.
“Sangat diuntungkan Bang karena kita itu kalau kadang-kadang di tempat lain itu parkir di luar Bang di luar mall di luar mall kita khawatir apa segala macam,” kata Anton kepada Liputan6.com.
Antara Parkir Gratis dan Oknum Ojol
Meski berbeda dari segi fasilitas penunjang, ada persamaan antara cerita Nanang di Mal Kokas dan Rizki di PIM 1, yakni permasalahan biaya parkir yang sering kali membuat pengemudi ojol mengelus dada.
Karena itulah, ketersediaan tempat parkir bagi ojol menjadi sangat berarti bagi mereka. Selain nyaman, mereka tidak perlu lagi meminta biaya parkir tambahan kepada customer yang seringkali menjadi perdebatan.
Namun, dibalik ketersediaan berbagai fasilitas penunjang, praktik lapangan seringkali tidak berjalan ideal.
Nanang tidak tutup mata, masih banyak mitra yang nakal dengan meminta biaya parkir kepada customernya. Dari berbagai cerita yang Ia dapat, para pengemudi ojol ini dengan sengaja meminta biaya kepada customer padahal sebenarnya gratis. Tidak jarang, oknum-oknum seperti ini akunnya kena banned.
Di sela cerita, Nanang kembali memanggil salah satu ojol yang datang parkir di tempat tersebut. Tidak pakai basa-basi, Ia langsung meminta ojol tersebut menunjukan akunnya sebagai bukti ada pesanan. Dia mengaku pernah menemukan beberapa akun terkunci, yanh diduga disalahgunakan oleh para ojol untuk meminta biaya parkir kepada customer-nya.
Nanang bersyukur, pengelola mal dan pihak Grab khususnya mitra ojol yang berada di lapangan bisa saling mengerti mengenai lahan parkir tersebut. Ia kembali menegaskan, meskipun dibiayai dari perusahaan, Nanang tetap terbuka untuk ojol dari mitra lainnya. Baginya, menghindari konflik lebih baik.
Perbedaan fasilitas penunjang bagi ojol di sejumlah pusat perbelanjaan di Jakarta masih terjadi. Masing-masing mal memiliki gaya dan cara tersendiri. Di satu sisi, ada fasilitas yang tertata rapi. Sedangkan di sisi lainnya hanya memanfaatkan ruang-ruang terbatas.
Fasilitas yang didapatkan bisa saja berbeda-beda. Namun, pada akhirnya tujuan mereka tetap sama, memastikan penghasilan yang didapat bisa dibawa pulang untuk keluarga.