Zona Nyaman Driver Ojol Mencari Nafkah di Mal Jakarta
Di tengah padatnya aktivitas pusat perbelanjaan, kehadiran ojol saat ini sangat sulit dipisahkan dari ekosistem mal.
Suasana padat menyelimuti kawasan Pondok Indah pada Jumat (15/5) siang. Antrean mobil terlihat mengular memasuki parkir Pondok Indah Mall 1 (PIM 1), sementara suara klakson seakan saling bersahutan di tengah arus kendaraan yang tersendat.
Namun, pemandangan berbeda justru terjadi di seberangnya, depan PIM 2. Sepanjang beberapa meter di pinggir jalan, belasan pengemudi ojek online (ojol) berjejer tanpa rasa khawatir diusir.
Sebagian ada yang duduk di atas motor sambil mengobrol satu sama lain. Beberapa dari mereka ada yang sedang menurunkan penumpang, ada yang menjemput, ada pula yang standby sambil bersantai menunggu notifikasi masuk ke ponselnya.
Di tengah padatnya aktivitas pusat perbelanjaan, kehadiran ojol saat ini sangat sulit dipisahkan dari ekosistem mal. Meskipun, tidak semua mal memberikan ruang yang sama untuk mereka. Ada mal yang disebut ramah ojol, walaupun ada juga yang dinilai terlalu ketat.
Salah satu pengemudi ojol, Jaelani (44) mengaku sering ‘mangkal’ di sekitaran Pondok Indah Mall (PIM), khususnya PIM 2. Meskipun, ada waktu tertentu Ia berpindah titik lain untuk mencari penumpang yang lebih menjanjikan.
Menurutnya, area PIM 2 menjadi salah satu titik yang nyaman untuk menunggu para penumpang. Selain ramai, kawasan ini juga relatif aman.
Ruang Bebas
Jaelani mengaku, petugas keamanan mal pun tidak mengganggu atau mengusir keberadaan para ojol yang berada di area tersebut. Bahkan, para penumpang pun menjadikan area tersebut sebagai titik penjemputan.
“Kalau di sini aman, security aman. Aman bener di sini, emang di sini ditunjukin di sini (titik penjemputan),” kata Jaelani kepada Liputan6.com.
Dalam sehari, Jaelani mampu mendapatkan 20 hingga 30 penumpang saat jam-jam sibuk, seperti pagi atau sore hari. “Minimal 20, 25, 30 nyampe,” kata Jaelani.
Menurut Jaelani, pengelola mal sebenarnya menyediakan parkiran khusus ojol, termasuk di PIM 2. Namun, fasilitas tersebut biasanya itu diperuntukkan bagi mereka yang mengambil pesanan makanan, bukan penumpang. Sementara bagi pengemudi yang fokus ambil penumpang, area depan lobi 2 PIM 2 dinilai cukup nyaman untuk menunggu pesanan masuk.
Meski demikian, pengalaman Jaelani mencari penumpang tidak selalu sama. Ia pun pernah merasakan pahitnya ditegur petugas keamanan salah satu mal.
Bukan di PIM, Jaelani mengatakan bahwa dirinya juga pernah “ditegur” oleh sekuriti suatu mal tertentu. Kala itu, Ia sedang menunggu pesanan masuk. Meski tidak ingat kejadian pastinya seperti apa, Jaelani mengatakan kejadian ini di salah satu Mal di Senayan. Menurutnya, mal tersebut kurang ramah bagi pengemudi ojol.
Dia menjelaskan, beberapa mal memang hanya memperbolehkan untuk menurunkan atau menjemput penumpang saja, setelah itu harus langsung pergi. Fasilitas parkir yang tersedia umumnya diperuntukkan bagi pengemudi ojol yang ingin mengambil atau mengirim makanan maupun barang.
Bebas Pakai Jaket Ojol di Dalam Mal
Di sisi lain, cerita berbeda dirasakan oleh Subur (40), salah satu pengemudi ojol yang sering mengambil pesanan makanan atau barang di Cilandak Town Square. Dalam sehari, empat hingga lima kali pesanan didapatkan dari mal ini.
Subur bersyukur bisa pengelola mal memberikan parkir gratis untuk para ojol. Selain parkiran khusus, ada aturan lain yang membuatnya makin senang, yaitu tidak mempermasalahkan aturan pakaian bagi para ojol.
“Untuk Citos sendiri di mal ini disediakan buat ojol (parkir), untuk restonya juga enak-enak sih,” kata Subur kepada Liputan6.com saat ditemui, Jumat (15/5).
Mereka bebas lalu lalang di dalam mal menggunakan jaket mitra masing-masing. Bagi ojol, kebebesan terlihat sederhana, tapi mereka merasa lebih dihargai.
Dari pantauan Liputan6.com, Jumat (15/5), tampak banyak pengemudi ojol lalu lalang di dalam mal mengambil pesanan tanpa melepas jaket. Situasi ini seakan tidak memberi sekat antara pengunjung maupun ojol. Semua memiliki hak yang sama.
Petugas keamanan tampak membiarkan para ojol berjalan seperti pada umumnya. Aktivitas pengunjung juga tidak terganggu atas keberadasnnya. Suasana ini semakin menguatkan bahwa mal bukan hanya tempat mencari kesenangan, melainkan ada pihak menggantungkan pendapatan di dalamnya.
Sebenarnya harapan Subur tak muluk-muluk. Menurutnya, setiap mal memang punya aturan masing-masing. Tapi parkiran untuk pengemudi ojol sudah cukup baginya. Karena yang terpenting, bisa ambil pesanan tanpa perlu bingung dimana harus menitipkan motornya.
Shelter Jadi Titik Aman
Ruang aman bagi ojol juga terlihat di area parkir khusus sekitar Mal Kota Kasablanka. Di lokasi ini, terdapat shelter yang disediakan untuk ojol memarkirkan motornya, meski tak dikelola langsung oleh manajemen mal.
Nanang (48), salah satu pengemudi ojol (Grab) sekaligus penjaga shelter, menyebut bahwa pos dibuat langsung oleh perusahaan sebagai fasilitas untuk mitra. Tempat ini muncul dari keresahan para mitra yang merasa kurang nyaman dan seringkali kesulitan mencari tempat parkir.
Di lokasi ini, Nanang pun cukup selektif mengecek setiap ojol yang ingin memarkirkan motornya. Ia memastikan, setiap kendaraan yang masuk diwajibkan memakai atribut, minimal jaket. Bukan pilih kasih, tapi memastikan tempat ini betul-betul dimanfaatkan dengan baik.
Setelah turun dari motor, beberapa di antara mereka pun kembali laporan ke Nanang. Mereka menunjukan bukti bahwa ada pesanan yang harus diselesaikan.
Meskipun dibangun oleh (Grab), tak jarang ojol dari mitra lain turut memarkirkan kendaraannya di shelter ini. Nanang mengatakan awalnya memang dilarang, meski akhirnya diperbolehkan. Alasannya simpel, lebih baik diizinkan dibandingkan harus berkonflik sesama ojol.
Sementara aturan berpakaian dari pihak Mal Kokas, seperti melepas atau membalik jaket ojol, tidak menjadi persoalan, termasuk bagi Sukardi (45). Ia pun merasa tidak terganggu, selagi masih bisa mengambil pesanannya. Petugas keamanan justru sering membantu para ojol yang tampak kebingungan, apalagi bagi yang jarang ke lokasi tersebut.
“Saya bongkar jaket ya, jadi sampai sana (mal) ya dilayani dengan baik sih, malah diarahkan. Saya mau nyari resto ini, 'oh iya naik lantai sana'. Malah seperti itu,” ungkap Sukardi kepada Liputan6.com.
Selain itu, dengan adanya shelter ini ia merasa tidak perlu was-was saat ingin mengambil pesanan di Mal Kokas. Apalagi tidak perlu mengeluarkan biaya parkir tambahan.
Selama menjadi ojol, Sukardi mengaku bersyukur belum pernah merasakan kejadian-kejadian pahit, seperti bertemu satpam galak maupun bayar parkir mahal, termasuk diusir petugas keamanan mal karena mangkal di titik tertentu.
Meskipun tidak memungkinkan mangkal di depan area mal, bukan berarti tidak ramah bagi ojol. Kondisi kepadatan jalan juga harus menjadi perhatian. Tampak sejumlah pengemudi menurunkan penumpang di pinggir jalan depan Kokas, meski setelah itu harus segera beranjak.
Tampak pula petugas keamanan yang membantu arus lalu lintas, guna mengatur lalu lalang kendaraan dari atau menuju mal, termasuk pada ojol yang menjemput atau menurunkan penumpangnya.
Ketegangan yang Pernah Terjadi
Di sela obrolan, Nanang mengingat kejadian beberapa tahun silam yang melibatkan petugas keamanan dan mitra Grab Car. Kala itu, pengemudi GrabCar dipukul oleh seorang security. Usut punya usut, insiden ini disebabkan karena kesalahpahaman.
Saat itu customer sudah memesan taksi online. Namun, penumpang tak kunjung datang ketika mobil tersebut berada di lobi. Dengan alasan aturan, petugas keamanan pun memintanya pergi. Keduanya saling ngotot, situasi semakin memanas hingga kontak fisik tak dapat dihindarkan.
“Udah kejadian udah lama udah bertahun-tahun berapa tahun lalu ya iya. Kan sempat ramai,” tuturnya.
Namun kini, kebersamaan tersebut kembali dirajut. Bukan hanya pihak mal kepada perusahaan, melainkan antar sesama mitra. Bagi Nanang, rasa saling mengerti menjadi hal sederhana yang justru paling berarti.
Di tengah padatnya Jakarta dan ketatnya berbagai aturan yang ada, para pengemudi ojol sebenarnya tidak menuntut banyak. Ruang aman menunggu penumpang, titik penjemputan jelas, hingga merasa dihargai dalam bekerja, sudah cukup bagi mereka.
Bagi ojol, keramahan mal bukan soal fasilitas mewah yang disediakan, tetapi yang paling berarti adalah diberi ruang untuk bekerja dengan tenang, tanpa dianggap mengganggu.