Korban Keracunan MBG di Sragen Bertambah, Sementara 251 Orang Sakit Perut, Mual, Pusing Hingga Diare
Akibat kejadian tersebut distribusi makanan program MBG di Kecamatan Gemolong, Sragen, dihentikan sementara.
Jumlah korban keracunan diduga akibat makanan makan bergizi gratis (MBG) di wilayah Kecamatan Gemolong, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah terus bertambah. Hingga Selasa, (12/8) petang tercatat ada sekitar 251 orang yang merasakan sakit perut, mual, pusing hingga diare.
Akibat kejadian tersebut distribusi makanan program MBG di Kecamatan Gemolong, Sragen, dihentikan sementara. Bupati Sragen Sigit Pamungkas bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) segera meninjau langsung kondisi korban dan lokasi dapur SPPG Mitra Mandiri, tempat makanan tersebut diolah.
"Hari ini kami mendapatkan laporan bahwa ada gejala-gejala keracunan di SD dan SMP di Gemolong, seperti mual, sakit perut melilit, hingga muntah. Intinya dugaan keracunan. Berdasarkan hasil pengamatan dan temuan di lapangan, kami mengambil kebijakan tegas untuk menghentikan sementara distribusi MBG dari penyedia tersebut selama dua hari ke depan," tandasnya.
Penghentian distribusi dilakukan guna mengamati perkembangan gejala yang mungkin masih timbul pada korban. Sementara itu guna mengantisipasi adanya korban baru, Puskesmas Gemolong disiagakan selama 24 jam penuh.
"Kita siagakan puskesmas respons cepat 24 jam. Mengantisipasi ada masyarakat yang bergejala, mudah-mudahan tidak ada," ungkap Bupati.
Sigit juga memastikan bahwa sampel makanan dengan menu nasi kuning, ayam suwir, susu, dan orek telur suwir yang dibagikan pada 11 Agustus, telah dikirim ke laboratorium di Semarang untuk diuji.
"Hasilnya tunggu beberapa waktu," ucapnya.
Disinggung penyebab terjadinya keracunan, Sigit menekankan pentingnya investigasi mendalam.
"Kita tidak bisa membuat satu kesimpulan tertentu. Kita perlu mendalami apakah problemnya ada di bahan baku, penyajian, atau prosesnya," jelasnya.
Pihaknya juga akan melaporkan insiden ini ke pemerintah pusat dan berupaya memperbaiki sistem pengawasan agar MBG di mana pun aman dan bergizi bagi anak-anak.
Meskipun jumlah korban cukup banyak, Sigit memastikan kondisi mereka stabil dan tidak ada yang memerlukan rawat inap.
"Mereka sementara diliburkan dari sekolah untuk memulihkan kondisi," pungkasnya.