Kisah Pilu, Keluarga Cari Vica Korban Kecelakaan Kereta di RS Polri
Sejumlah keluarga kini tengah mencari informasi keberadaan anggota keluarga mereka di RS Polri setelah peristiwa tabrakan KRL dengan kereta Argo Bromo.
Suasana duka dan ketidakpastian menyelimuti Rumah Sakit Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur. Sejumlah keluarga korban kecelakaan kereta api di Bekasi mulai mendatangi gedung DVI untuk mencari kejelasan nasib anggota keluarga mereka yang hilang kontak sejak peristiwa nahas tersebut terjadi.
Salah satu keluarga yang hadir adalah Watarisin (70). Ia datang untuk memastikan, apakah keponakannya yang bernama Vica Acnia Pratiwi (23) menjadi salah satu dari sekian jenazah yang kini berada di ruang forensik.
Watarisin mengatakan, pihak keluarga kehilangan kontak dengan Vica sesaat setelah kabar kecelakaan kereta api tersiar luas. Vica diketahui sedang dalam perjalanan pulang bekerja menggunakan moda transportasi kereta api tersebut.
Coba Menghubungi Sejak Pagi
"Ditelepon dari adik saya. Adik besan kita, kan, bahwa dia ini keponakan pulang kerja, naik kereta," kata Watarisin kepada wartawan di RS Polri, Jakarta, Selasa (28/4).
Keluarga di Bekasi sempat melakukan pencarian mandiri sebelum akhirnya meminta bantuan Watarisin yang tinggal di dekat RS Polri. Hal ini dilakukan karena orang tua korban sedang berada di luar kota untuk urusan duka lainnya.
"Sekarang dia telepon saya minta hubungi di rumah sakit, karena dia jauh, Bekasi, saya dekat sini tinggal," ujarnya.
Upaya menghubungi ponsel Vica terus dilakukan oleh pihak keluarga sejak pagi hari. Namun, hingga saat ini, tidak ada jawaban maupun nada sambung yang menandakan keberadaan perempuan berusia 23 tahun tersebut.
"Setelah itu, dia kan dicari di rumah. Sudah ditelepon, teleponnya enggak ada, enggak ada balasan," ungkapnya.
Bapak Ibunya di Kampung
Hingga Selasa siang, Watarisin mengaku belum mendapatkan jawaban pasti dari tim DVI Polri mengenai status keponakannya. Meski data awal sudah diserahkan, proses pencocokan jenazah masih berlangsung.
"Belum, masih ditunggu itu, masih ada, masih informasi lagi dicek, tuh. Ah, ada-ada enggak apa nggak, kalau enggak ada, ya, syukurlah," ucapnya.
Dalam proses identifikasi ini, Watarisin telah menyerahkan sejumlah dokumen pribadi milik Vica kepada petugas antemortem. Data-data medis dan sidik jari menjadi kunci utama untuk mengenali korban yang ada di dalam.
"Tadi dia, KTP, ya, kan. Surat tanda tangan, sekarang dia masih minta anu ijazah kalau ada kan mau ngelihat sidik jari. Ah, itu aja, sudah dikirim apa belum sekarang itu?, lagi disusulkan," ungkapnya.
Watarisin menjelaskan, kedua orang tua Vica sedang dalam perjalanan menuju Jakarta. Mereka sebelumnya berada di kampung halaman karena ada anggota keluarga lain yang baru saja meninggal dunia.
"Bapaknya sama ibunya sekarang masih di kampung, lagi dalam perjalanan, karena mertuanya meninggal," jelasnya.
Kehadiran Watarisin di RS Polri bertujuan untuk memberikan kepastian lebih awal sebelum orang tua Vica tiba. Ia berharap ada keajaiban, namun tetap bersiap dengan segala kemungkinan terburuk yang disampaikan pihak kepolisian.
"Maka, kami lebih dahulu memastikan dia di sini, apa ada sih, apa enggak? Begitu saja," pungkasnya.