Kepala BGN Sebut Kasus Keracunan MBG Terbanyak di Jawa Barat, Ungkap Penyebabnya
Menurutnya, di daerah tersebut penyebab keracunan bukan berasal dari air, melainkan dari makanan yang mengandung nitrit tinggi.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana mengungkapkan, wilayah terbanyak kasus keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah provinsi Jawa Barat (Jabar).
"Betul masalah lebih banyak di Jawa Barat. Garut, Cianjur, Bandung Barat, dan ditambah dengan Sleman," kata Dadan dalam rapat di Komisi IX DPR kompleks parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (12/11/2025).
Menurutnya, di daerah tersebut penyebab keracunan bukan berasal dari air, melainkan dari makanan yang mengandung nitrit tinggi.
"Nah itu, daerah endemik untuk kejadian, karena itu yang paling tinggi. Bahkan bukan hanya masalah air, tapi ternyata infeksi nitrit cukup tinggi. Dan itu mungkin disebabkan oleh praktik budi daya petani, yang terlalu banyak memberikan nitrogen sehingga kandungan nitrit di dalam tanaman itu cukup tinggi," tegasnya.
BGN Siapkan Anggaran Rp29,5 Triliun untuk MBG Hingga Akhir 2025
Sebelumnya, Dadan Hindayana menyatakan, pihaknya menyiapkan anggaran Rp29,5 triliun untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga akhir tahun 2025.
Hal itu diungkapkan Dadan dalam Rapat Kerja (Raker) bersama Komisi IX DPR RI, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (12/11/2025).
Awalnya, Dadan membeberkan serapan anggaran BGN sangat baik.
"Banyak pihak yang awalnya meragukan bahwa kita bisa menyerap anggaran Rp71 triliun. Karena kita lihat Januari saja kita hanya menyerap Rp52 miliar. Februari hanya Rp1,1 triliun, Maret itu Rp1,8 triliun, April saja masih Rp2,5. Alhamdulillah sekarang kita sudah menyerap Rp43,474 triliun, sudah mencakup 61,2%" kata Dadan.
Optimis Penyerapan Anggaran Lebih dari Rp43 Triliun Akhir Bulan ini
Dadan optimis penyerapan anggaran bakal lebih dari Rp43 triliun pada akhir bulan ini.
"Nah berikutnya, dalam beberapa hari tersisa, 1 bulan 20 hari, kita akan membutuhkan kurang lebih untuk bantuan pemerintah makan bergizinya saja, kita akan butuh Rp29,5 triliun," kata Dadan.
Dadan menyebut total anggaran yang bisa terserap hingga akhir tahun mencapai hampir Rp. 30 triliun.
"Jadi di akhir November ini kita akan menyerap tambahan Rp8,5 triliun. Eh, sampai tanggal 15 Desember kita akan serap tambahan Rp10 triliun dan kemudian di akhir Desember kita akan serap Rp11 triliun. Sehingga total akan kita butuhkan dalam 50 hari terakhir ini 29,5 triliun," pungkasnya.