Terungkap di Raker DPR, 75 Kasus Keracunan MBG Terjadi Sejak Januari 2025
Kasus-kasus tersebut tersebar di berbagai wilayah di Indonesia dan kini tengah menjadi perhatian serius pemerintah.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, mengungkapkan bahwa sepanjang Januari hingga September 2025, tercatat sebanyak 75 kasus keracunan anak yang diduga terjadi setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG). Kasus-kasus tersebut tersebar di berbagai wilayah di Indonesia dan kini tengah menjadi perhatian serius pemerintah.
Hal itu disampaikan Dadan dalam Rapat Kerja (Raker) bersama dengan Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (1/10).
"Terlihat sebaran kasus terjadinya gangguan pencernaan atau kasus di SPPG. Terlihat dari 6 Januari sampai 31 Juli itu tercatat ada kurang lebih 24 kasus kejadian, sementara dari 1 Agustus sampai malam tadi itu ada 51 kasus kejadian. Jadi yang terakhir, kejadian kemarin ada di Pasa Rebo dan juga di Kadungora," kata Dadan dalam rapat.
Lalu, untuk kasus yang terjadi di Kadungora itu disebutnya hal yang tidak terduga. Karena, sebetulnya Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tersebut memberikan makan sebanyak dua kali.
"Yang pertama masak segar, kemudian karena mau ada renovasi dia membagikan makanan untuk hari ini, dan salah satu makanan yang dibagikan adalah susu," sebutnya.
"Susunya langsung diminum, dan itu kemudian menimbulkan gangguan pencernaan," sambungnya.
Kemudian, jika dilihat dari sebaran kasus tersebut maka untuk di wilayah satu tercatat yang mengalami keracunan atau gangguan pencernaan sebanyak 1.307.
Diketahui, untuk wilayah satu berada di Sumatera, wilayah dua di Pulau Jawa dan wilayah tiga di Indonesia bagian timur.
"Wilayah 2 ini sudah bertambah, tidak lagi 400–147, ditambah dengan yang di Garut mungkin 60 orang. Kemudian wilayah 3 ada 1.003 orang dan kita catat tanggal per tanggal dari kasus kejadian ini," ujarnya.
Dirinya menjelaskan, untuk di wilayah satu tercatat mulai ada kejadian pada 18 Februari 2025, yaitu di Tanjung Kumpang, Sumatera Selatan sebanyak 8 orang yang mengalami kejadian.
Kemudian, kejadian terakhir dijelaskannya terjadi pada 25 September 2025 ada dua kasus yaitu di Karimun Lakam Timur sebanyak 14 orang.
Sedang, satu kasus atau kejadian lainnya berada di Kota Palembang, Sumatera Selatan yaitu Kaldoni sebanyak 12 orang.
"Kemudian yang tercatat lebih dominan memang terjadi di wilayah 2, karena memang pertumbuhan SPPG di wilayah 2 ini juga sangat dominan di 2 bulan terakhir ini," jelasnya.
"Dan kita sudah mulai mencatat kejadian itu pada 14 Januari, jadi 8 hari dari pertama kali dilaunching, ada 6 orang yang terdeteksi mengalami gangguan kesehatan. Kemudian 16 Januari," tambahnya.
Selanjutnya yang terakhir, kejadian terjadi pada 30 September 2025 termasuk di wilayah Pasar Rebo, Jakarta Timur.
"Yang di slide ini baru tercatat di SPPG Ciham Plus Pasa Rebo 15 orang. Ini kebetulan 1 kelas, dan kemudian juga di Kadungora tadi malam itu 30 orang," sebutnya.
Berikutnya, pada wilayah tiga tercatat ada sebanyak 17 kasus. Pihaknya mendeteksi kejadian itu mulai terjadi pada 13 Januari 2025 di Nunukan sebanyak 90 orang.
"Kemudian tanggal 24 Januari di Ujung Bulu 4 orang, Jadi 4 orang, 1 orang pun kami catat yang sakit itu. Kemudian 27 Januari di Minasatene 7 orang. Dan terakhir di Mamuju ada 27 orang," ungkapnya.
"Yang paling besar terkait dengan kejadian di wilayah 3 ini ada di Banggai, yang jumlahnya kurang lebih 330 orang," sambungnya.
Penyebab Diakibatkan Supplier Diganti
Menurutnya, penyebab terjadinya masalah tersebut karena supplier yang diganti. Sehingga, menu yang disajikan yaitu ikan cakalang.
"Supplier lamanya sudah biasa mensuplai ikan cakalang dengan kualitas baik. Kemudian karena ingin mengakomodir potensi sumber daya lokal, narayan lokal, maka supplier diganti dengan supplier lokal," ujarnya.
"Kelihatannya secara kualitas supplier bahan baku belum bisa menandingi supplier lama, sehingga terjadilah gangguan terkait alergi pada penerima manfaat yang mencapai 338 orang," katanya.