Dampak Nyata MBG di Laweyan, Kios Buah Ini Angkat Ekonomi Warga dan Berdayakan Petani Lokal

Santi, warga dari Kelurahan Kerten di Laweyan, Kota Solo, telah menjadi pemasok buah melalui program MBG yang sukses meningkatkan perekonomian tetangganya.

Muhammad Farih Fanani
Oleh Muhammad Farih Fanani - Reporter
Dampak Nyata MBG di Laweyan, Kios Buah Ini Angkat Ekonomi Warga dan Berdayakan Petani Lokal
Kios Buah Laweyan, Miniatur Sempurna Dampak Keberadaan MBG: Berdayakan Petani Lokal, Angkat Ekonomi Tetangga (© 2026 Liputan6.com)

Pandemi Covid-19 telah memberikan dampak yang signifikan terhadap usaha restoran milik Santi, seorang warga dari Kelurahan Kerten, Kecamatan Laweyan, Kota Solo, Jawa Tengah. Meskipun demikian, Santi tidak menyerah dan justru mencari peluang baru. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memberikan kesempatan yang tidak ia lewatkan. Alih-alih mendirikan dapur sendiri, Santi melihat peluang untuk berkontribusi pada keberlangsungan dapur MBG dengan memberdayakan masyarakat di sekitarnya.

Dia pun berinisiatif untuk menjadi pemasok buah bagi dapur MBG. Dengan kemampuannya beradaptasi dengan kebutuhan dapur, usaha yang ia rintis segera mendapatkan kepercayaan dari satu dapur MBG atau satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG).

"Saya cuma satu dapur awalnya. Saya dipercaya untuk setiap hari menyuplai buah-buah lokal," ungkap Santi saat ditemui di Toko Buah Segar Nusantara, kios buah yang ia dirikan di Kerten. Permintaan dari dapur MBG selalu ia penuhi tanpa penolakan. Buah apa pun yang dipesan oleh SPPG, dia berusaha untuk memenuhinya. Ini merupakan langkah adaptasi yang pertama kali ia lakukan.

"Alhamdulillah, ini sudah hampir di 30-an dapur yang setiap hari kita suplai," tuturnya dengan penuh rasa syukur.

Santi telah menjalin kemitraan dengan banyak petani buah lokal. "Kalau yang dari lokal, kita kerja sama dengan petani langsung, kelompok tani," ungkapnya.

Beberapa jenis buah yang menjadi langganan antara lain semangka, melon, dan pisang. Untuk ketiga jenis buah tersebut, Santi memiliki kerja sama dengan berbagai kelompok tani. Kerja sama untuk semangka dilakukan dengan kelompok tani di Tuban, sedangkan untuk pisang, dia menggandeng petani dari Lampung. Melon dipasok dari petani yang berasal dari Ngawi.

"Awal sih kita belajar dulu untuk bagaimana bisa sesuai dengan permintaan dapur," cerita Santi saat mengawali usaha toko buahnya. Seiring berjalannya waktu, Santi terus berupaya meningkatkan layanan. Misalnya, ketika dapur MBG mengeluhkan ukuran jeruk yang terlalu besar dan tidak sesuai dengan kapasitas ompreng, Santi segera menggantinya dengan jeruk yang lebih kecil.

"Isinya yang sesuai, 10 sampai 12 buah (jeruk)," tambahnya. Untuk pisang, dia juga memastikan ukuran pisang yang dipasok dapat masuk ke dalam ompreng sambil tetap menjaga nilai gizi yang cukup.

Di tengah perjalanan usahanya, Santi sempat mengalami kenaikan harga buah yang signifikan, terutama untuk buah lokal akibat pasokan yang berkurang. Hal ini menjadi tantangan bagi Santi untuk terus mencari dan menjalin kerja sama dengan lebih banyak petani.

"Waktu puasa kemarin, pisang langka. Agak kesulitan juga," katanya. Meskipun menghadapi berbagai tantangan, Santi bertekad agar usahanya tidak mengalami kebangkrutan seperti usaha sebelumnya. Usaha buah yang dirintisnya kini telah mempekerjakan sekitar 20 orang warga setempat.

"Alhamdulillah, sebagian besar kita dari tetangga. Tetangga sekitar," ungkap Santi. Pekerjaan yang tersedia meliputi administrasi, penyortiran buah, pengemudi, asisten pengemudi, hingga pengangkut buah.

"Terima kasih Pak Prabowo (Presiden RI Prabowo Subianto). Program ini sangat membantu, terutama petani-petani. Dan berguna untuk masyarakat," tambahnya.

Salah satu karyawan Santi, Heni (51 tahun), yang berasal dari Boyolali, merupakan penyortir buah yang telah bekerja di kios Santi sejak awal usaha tersebut.

"Saya janda anak tiga. Saya sebagai tulang punggung keluarga. Dulu pengangguran, sekarang dapat peluang kerja. Bisa nyenengin diri sendiri dan anak," kata Heni. Dia berharap program MBG dapat terus berlanjut, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anak Indonesia, tetapi juga untuk membantu masyarakat kecil seperti dirinya.

"Pengin nyicil dandani rumah," ujarnya dengan penuh harapan.

Rekomendasi