Pandemi Covid-19 memberikan dampak besar terhadap bisnis restoran yang dimiliki oleh Santi, seorang warga dari Kelurahan Kerten, Kecamatan Laweyan, Kota Solo, Jawa Tengah. Namun, Santi tidak menyerah begitu saja. Dia menemukan kesempatan melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Alih-alih mendirikan dapur sendiri, Santi melihat potensi lain dari program ini. Dia menyadari bahwa berkontribusi sebagai penyokong dapur MBG juga bisa memberdayakan masyarakat di sekitarnya. Dengan tekad tersebut, dia mulai menawarkan diri untuk menjadi pemasok buah-buahan bagi dapur MBG.
Keahlian Santi dalam menyesuaikan diri dengan kebutuhan dapur membuat usaha yang dirintisnya mendapatkan kepercayaan dari satu dapur MBG, atau yang dikenal dengan satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG).
"Saya cuma satu dapur awalnya. Saya dipercaya untuk setiap hari menyuplai buah-buah lokal," ungkap Santi saat ditemui di Toko Buah Segar Nusantara, kios buah yang dia bangun di Kerten.
Setiap permintaan dari dapur MBG selalu dia terima dengan baik. Buah apa pun yang dipesan oleh SPPG berusaha dia penuhi. Ini adalah langkah adaptasi pertama yang dia lakukan. "Alhamdulillah, ini sudah hampir di 30-an dapur yang setiap hari kita suplai," tuturnya dengan penuh syukur.
Advertisement
Dukung Petani Lokal
Santi menjalin kemitraan dengan sejumlah petani buah lokal untuk mendukung usahanya. "Kalau yang dari lokal, kita kerja sama dengan petani langsung, kelompok tani," ungkapnya.
Beberapa jenis buah yang menjadi langganan toko buahnya antara lain semangka, melon, dan pisang, di mana masing-masing buah tersebut dipasok dari kelompok tani yang berbeda. Untuk semangka, Santi bekerja sama dengan kelompok tani di Tuban, sedangkan pisang dipasok dari petani di Lampung. Melon, di sisi lain, berasal dari petani di Ngawi.
"Awal sih kita belajar dulu untuk bagaimana bisa sesuai dengan permintaan dapur," cerita Santi mengenai perjalanan awalnya dalam merintis usaha ini.
Seiring berjalannya waktu, Santi terus berupaya memperbaiki layanan yang ditawarkan. Misalnya, ketika dapur MBG mengeluhkan ukuran jeruk yang terlalu besar dan tidak muat dalam ompreng, Santi segera mencari solusi dengan mengganti pasokan jeruk yang lebih kecil. "Isinya yang sesuai, 10 sampai 12 buah (jeruk)," jelasnya.
Begitu pula dengan pisang, dia memastikan untuk memasok pisang dengan ukuran yang tepat agar tetap dapat memenuhi kebutuhan gizi tanpa mengurangi kualitas. Meskipun sempat menghadapi tantangan ketika harga buah lokal meroket akibat pasokan yang terbatas, Santi tetap berkomitmen untuk mencari dan menjalin kerja sama dengan lebih banyak petani. "Waktu puasa kemarin, pisang langka. Agak kesulitan juga," tambahnya.
Memberdayakan Ekonomi Masyarakat Sekitar
Santi bertekad untuk memastikan usahanya tidak mengalami kegagalan seperti usaha sebelumnya. Kini, usahanya telah mempekerjakan sekitar 20 orang dari lingkungan sekitar. "Alhamdulillah, sebagian besar kita dari tetangga. Tetangga sekitar," kata Santi.
Pekerja di kiosnya mencakup berbagai posisi, mulai dari administrasi, penyortir buah, pengemudi, asisten pengemudi, hingga pengangkut buah. Dia juga mengucapkan terima kasih kepada Presiden RI Prabowo Subianto atas program yang sangat membantu petani dan masyarakat. "Program ini sangat membantu, terutama petani-petani. Dan berguna untuk masyarakat," ujarnya.
Heni, seorang penyortir buah berusia 51 tahun dari Boyolali, menjadi salah satu karyawan yang bekerja di kios Santi. Dia telah bergabung sejak awal perjalanan usaha Santi. "Saya janda anak tiga. Saya sebagai tulang punggung keluarga. Dulu pengangguran, sekarang dapat peluang kerja. Bisa nyenengin diri sendiri dan anak," kata Heni.
Dia berharap program MBG ini dapat terus berlanjut, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anak Indonesia, tetapi juga untuk membantu masyarakat kecil seperti dirinya. "Pengin nyicil dandani rumah," ungkapnya dengan penuh harapan.