BGN Alokasikan Rp855 Miliar per Hari untuk MBG Awal 2026
BGN menyalurkan Rp855 miliar per hari untuk Program Makan Bergizi awal 2026. Anggaran diproyeksikan naik seiring bertambahnya penerima manfaat.
Badan Gizi Nasional (BGN) mengalokasikan anggaran sekitar Rp855 miliar per hari untuk pelaksanaan Program Makan Bergizi (MBG) pada awal 2026.
Dana tersebut digunakan untuk mendistribusikan makanan bergizi kepada penerima manfaat di berbagai daerah di Indonesia.
Kepala BGN, Dadan Hindayana, mengatakan besaran anggaran harian akan meningkat seiring bertambahnya jumlah penerima manfaat program.
“Di Januari ini, hari ini kita mendistribusikan di seluruh Indonesia dan akan menggunakan uang kurang lebih Rp855 miliar satu hari per hari ini sampai kemudian naik nanti di Mei akan ada Rp1,2 triliun per hari karena jumlah menerima manfaatnya terus naik,” kata Dadan usai meninjau pelaksanaan MBG di SDN 01 Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara, Kamis (8/1).
Serap Produk Lokal dan Tenaga Kerja
Dadan menjelaskan, sekitar 70 persen dari total anggaran MBG dialokasikan untuk pengadaan bahan baku makanan. Sebagian besar bahan tersebut berasal dari produk pertanian dalam negeri.
“Sebanyak 95 hingga 99 persen bahan baku MBG berasal dari produk lokal seperti beras, sayur, telur, daging, dan susu,” ujarnya.
Program MBG juga disebut telah menyerap ribuan tenaga kerja melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berfungsi sebagai dapur MBG. Setiap SPPG, kata Dadan, minimal melibatkan 15 penyuplai dari sektor pertanian, peternakan, dan perikanan untuk memenuhi kebutuhan satu kali penyajian.
“Satu SPPG memerlukan minimal 15 supplier mulai dari beras, minyak, telur, daging, ayam, susu, bumbu, dan lain-lain. Dengan begitu, program MBG tidak hanya memenuhi gizi anak, tapi juga mendorong ekonomi daerah,” ujar Dadan.
Selain penggunaan bahan lokal, BGN mewajibkan keterlibatan tenaga profesional seperti ahli gizi, akuntan, dan operator SPPG untuk menjaga mutu layanan dan keamanan pangan. Program MBG juga dirancang mencakup edukasi gizi bagi anak-anak.
“Jadi ini dorongan ekonomi yang luar biasa. Saya kira ini memerlukan keterlibatan semua pihak dan Alhamdulillah kita sudah memiliki Keppres ya tentang tata kelola makan bergizi,” ucap Dadan.