Jimly Asshiddiqie Prihatin Menurunnya Budaya Membaca hingga Nasib Para Penulis di Tanah Air
Hingga saat ini, tercatat puluhan judul buku telah ia rampungkan dengan berbagai gagasan segar di dalamnya.
Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI), Jimly Asshiddiqie membagikan kisah menggelitik sekaligus memprihatinkan mengenai dunia literasi di Indonesia. Meski telah melahirkan puluhan karya tulis ilmiah, ia menyebut minat baca masyarakat masih menjadi tantangan besar bagi para penulis.
Hal ini disampaikan dalam sambutannya saat acara Launching Buku 'Etika Yang Melembaga' '70 tahun Prof. Jimmly Asshiddiqie Warisan Gagasan dan Penguatan DKPP' di Gedung Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP), Jakarta, Jumat (17/4).
Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi ini mengungkapkan produktivitasnya dalam menulis. Hingga saat ini, tercatat puluhan judul buku telah ia rampungkan dengan berbagai gagasan segar di dalamnya.
"Nah jadi saya rasa yang saya sudah tulis itu banyak sekali, 83 buku. Rata-rata isinya banyak ide baru. Alhamdulillah sedikit sekali yang baca. Sangat aduh, kebiasaan orang Indonesia membaca itu rendah sekali," kata Jimmly dalam sambutannya.
Jimly menyoroti rendahnya budaya membaca di tanah air yang berdampak langsung pada nasib para penulis. Menurutnya, laporan penjualan buku yang ia terima menunjukkan tren yang terus merosot dari tahun ke tahun, bahkan untuk buku yang tergolong populer.
"Terakhir saya dapat laporan dari Kompas. Jadi penerbit yang paling rajin dan profesional melaporkan hasil penjualan itu Kompas. Yang lain-lain itu aduh ya kan," tuturnya.
Ia mencontohkan salah satu karya monumentalnya yang menjadi rujukan utama bagi mahasiswa hukum di seluruh penjuru negeri. Ironisnya, transparansi mengenai hasil penjualan dari berbagai pihak masih dianggapnya sangat minim.
"Kayak buku saya yang paling dipakai di seluruh Indonesia, Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara, itu jadi buku wajib seluruh Fakultas Hukum. Alhamdulillah saya tidak tahu itu royaltinya berapa itu, enggak pernah lapor," ujarnya.
Sedikit Penerbit Konsisten
Jimly menjelaskan, hanya sedikit penerbit yang konsisten memberikan laporan berkala. Namun, nilai materi yang diterima dari hasil penjualan buku-buku tersebut justru kian memprihatinkan dan tidak sebanding dengan proses kreatif penulisan.
"Tapi kalau Kompas itu tiap tahun. Tapi jumlah yang dilaporkan itu setiap tahun turun terus, dari misalnya ada buku saya Kompas itu Konstitusi Ekonomi, Konstitusi Keadilan Sosial, itu Kompas tuh. Nah itu lama-lama makin lama makin turun," jelasnya.
Royalti Buku
"Tahun kemarin saya terima Rp500.000 untuk satu buku, jadi total-total Rp900.000. Waduh trennya turun terus, jangan-jangan suatu hari habis ini," ungkap Jimly.
Kondisi ini membuatnya memberikan kesimpulan pahit mengenai profesi penulis di Indonesia. Minimnya apresiasi dan rendahnya daya beli buku membuat profesi ini sulit untuk dijadikan sandaran hidup utama.
"Jadi penulis buku di Indonesia itu enggak bisa hidup. Tapi ya sudahlah kita ikhlaskan sajalah," pungkasnya.