MPR Dorong Penguatan Ekosistem Literasi Nasional Demi Kemajuan Peradaban Bangsa
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menyerukan pembangunan ekosistem literasi di Indonesia pada Hari Buku Nasional, guna menopang kemajuan peradaban bangsa yang berkelanjutan.
Pada momen Hari Buku Nasional 17 Mei, Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menyuarakan pentingnya membangun ekosistem literasi yang kuat di Indonesia. Dorongan ini bertujuan untuk menopang kemajuan peradaban bangsa secara menyeluruh. Lestari Moerdijat menekankan bahwa kemampuan literasi merupakan fondasi utama bagi kemajuan suatu negara.
Menurut Lestari, kondisi literasi di Tanah Air saat ini masih memerlukan perhatian serius dan upaya maksimal. Data menunjukkan adanya penurunan indeks kegemaran membaca masyarakat yang mengkhawatirkan. Hal ini menjadi indikator penting dalam menilai kualitas peradaban sebuah bangsa.
Oleh karena itu, langkah-langkah konkret perlu segera diimplementasikan untuk meningkatkan minat baca dan kemampuan berpikir kritis. Pembangunan ekosistem literasi yang komprehensif diharapkan dapat menjadi solusi efektif. Ini akan memastikan Indonesia memiliki daya saing global yang kuat.
Tantangan Literasi di Indonesia yang Mendesak
Lestari Moerdijat menyoroti bahwa kondisi literasi di Indonesia masih jauh dari optimal. Berdasarkan survei Perpustakaan Nasional yang diolah Badan Pusat Statistik, indeks kegemaran membaca masyarakat mengalami penurunan signifikan. Angka tersebut merosot dari 72,44 pada tahun 2024 menjadi 54,80 pada tahun 2025.
Perbandingan dengan negara lain juga menunjukkan kesenjangan yang cukup lebar dalam hal waktu membaca. World Population Review 2025 melaporkan bahwa rata-rata orang Indonesia membaca buku selama 129 jam per tahun. Angka ini jauh di bawah India dengan 352 jam per tahun dan Amerika Serikat yang mencapai 357 jam per tahun.
Selain itu, kemampuan akademik siswa juga menjadi perhatian serius. Hasil Tes Kemampuan Akademik 2025 dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menunjukkan bahwa kemampuan inferensial siswa berada pada angka 43,21 persen. Sementara itu, kemampuan mengevaluasi dan mengapresiasi teks hanya mencapai 45,32 persen. Lestari menegaskan, kondisi ini merupakan ancaman nyata bagi daya saing bangsa di kancah global.
Strategi Membangun Ekosistem Literasi Nasional
Meskipun menghadapi tantangan, Lestari Moerdijat percaya bahwa generasi muda Indonesia memiliki minat baca yang besar dan harus dimanfaatkan secara optimal. Anggota Komisi X DPR RI ini mengusulkan beberapa langkah nyata untuk membangun ekosistem literasi yang berkelanjutan. Salah satunya adalah mendorong komunitas baca, baik berbasis digital maupun fisik, untuk menciptakan budaya literasi yang hidup.
Selain itu, Lestari menyarankan agar institusi pendidikan, mulai dari sekolah hingga perguruan tinggi, mengubah metode pembelajaran. Tugas-tugas yang diberikan sebaiknya diarahkan untuk mendorong aktivitas berpikir kritis. Hal ini lebih dari sekadar membaca teks secara pasif, melainkan mendorong analisis mendalam.
Akses terhadap bahan bacaan juga menjadi kunci penting dalam upaya peningkatan literasi. Oleh karena itu, perlu dipastikan ketersediaan perpustakaan yang lengkap dan mudah dijangkau oleh masyarakat. Lestari juga mendorong pemerintah untuk mempertimbangkan penghapusan pajak buku dan peringanan harga kertas. Langkah ini diharapkan dapat membuat harga buku menjadi lebih terjangkau bagi semua kalangan masyarakat.
Kolaborasi Lintas Sektor untuk Gerakan Literasi
Untuk mencapai tujuan besar ini, Lestari Moerdijat menekankan pentingnya kolaborasi yang kuat dan sinergis dari berbagai pihak. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan seluruh elemen masyarakat diharapkan dapat bekerja sama. Kolaborasi ini bertujuan untuk menjadikan literasi sebagai gerakan nasional yang terukur dan berkelanjutan.
Gerakan literasi tidak hanya berfokus pada kemampuan membaca, tetapi juga membentuk masyarakat yang mampu berpikir kritis dan adaptif. Dengan demikian, Indonesia dapat mencetak generasi yang tidak hanya melek huruf. Mereka juga mampu menganalisis informasi dan berkontribusi positif bagi kemajuan bangsa.
Sumber: AntaraNews