Peningkatan Budaya Baca: Kunci Lahirkan Generasi Berdaya Saing Menurut Wakil Ketua MPR

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menyoroti pentingnya peningkatan budaya baca untuk menciptakan generasi penerus yang berdaya saing, di tengah data minat baca yang masih rendah di Indonesia.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Peningkatan Budaya Baca: Kunci Lahirkan Generasi Berdaya Saing Menurut Wakil Ketua MPR
Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat menekankan pentingnya implementasi Permendikbudristek 55/2024 tentang Pencegahan Kekerasan Perguruan Tinggi tanpa penundaan. Ia mengajak civitas academica menjadi agen perubahan. (AntaraNews)

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menekankan bahwa penguatan literasi melalui peningkatan budaya membaca sangat krusial. Hal ini akan melahirkan generasi penerus bangsa yang memiliki daya saing tinggi. Budaya membaca menjadi bekal penting dalam menghadapi berbagai tantangan masa depan yang semakin kompleks.

Lestari Moerdijat, yang akrab disapa Rerie, menyampaikan pentingnya hal ini di Jakarta pada Jumat. Ia menegaskan, "Budaya membaca anak bangsa harus terus dibangun agar generasi penerus memiliki kemampuan yang memadai menghadapi berbagai tantangan dalam setiap proses pembangunan."

Meskipun demikian, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa minat baca di Indonesia masih menjadi perhatian serius. Hanya 44,56 persen siswa yang memanfaatkan perpustakaan atau taman bacaan masyarakat sepanjang tahun 2024.

Data BPS tahun 2024 memperlihatkan bahwa pemanfaatan perpustakaan atau taman bacaan masyarakat oleh siswa masih di bawah 50 persen. Angka ini mencerminkan tantangan besar dalam upaya peningkatan literasi nasional. Tingkat kunjungan siswa SD ke perpustakaan tercatat paling rendah, hanya mencapai 37,31 persen.

Mahasiswa juga menunjukkan angka pemanfaatan yang relatif rendah, yakni 41,59 persen. Sementara itu, siswa SMP dan SMA sedikit lebih tinggi dengan masing-masing 52,01 persen dan 55,32 persen. Angka-angka ini mengindikasikan bahwa minat baca perlu didorong di semua jenjang pendidikan.

Sejalan dengan temuan BPS, survei GoodStats yang dilakukan pada Januari hingga Februari 2025 terhadap 1.000 responden juga menguatkan kondisi ini. Hasil survei menunjukkan bahwa hanya 20,7 persen masyarakat Indonesia yang rutin membaca setiap hari. Ini menjadi indikator kuat bahwa kebiasaan membaca belum menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari sebagian besar masyarakat.

Rendahnya minat baca di kalangan masyarakat Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor utama yang perlu dicermati. Salah satu faktor dominan adalah kurangnya waktu yang dialokasikan untuk membaca. Kesibukan sehari-hari seringkali menjadi penghalang bagi individu untuk meluangkan waktu membaca buku.

Selain itu, minimnya motivasi pribadi juga turut berkontribusi terhadap rendahnya budaya baca. Banyak individu yang belum merasakan manfaat langsung dari membaca, sehingga motivasi untuk menjadikannya kebiasaan masih kurang. Hal ini perlu menjadi perhatian dalam merancang program literasi.

Perkembangan teknologi digital juga menjadi penyebab signifikan tergantikannya buku fisik. Konten digital seperti video, media sosial, dan informasi cepat dari internet lebih mudah diakses dan seringkali dianggap lebih menarik. Fenomena ini menggeser preferensi masyarakat dari membaca buku ke konsumsi konten digital.

Lestari Moerdijat menegaskan bahwa catatan-catatan tersebut harus benar-benar diperhatikan oleh pihak-pihak terkait. Upaya konsisten diperlukan untuk menumbuhkan minat baca generasi penerus bangsa. Berbagai kendala ini memerlukan strategi yang tepat agar dapat diatasi secara efektif.

Anggota Komisi X DPR RI Lestari Moerdijat berharap budaya membaca dapat ditumbuhkan sejak dini. Lingkungan keluarga dan sekolah memegang peranan penting dalam membentuk kebiasaan ini. Orang tua dan guru diharapkan menjadi teladan serta fasilitator dalam memperkenalkan dunia buku kepada anak-anak.

Partisipasi aktif dari para pemangku kepentingan di tingkat pusat dan daerah, serta masyarakat luas, sangat dibutuhkan. Kolaborasi ini penting untuk mendukung upaya peningkatan literasi secara holistik. Program-program yang melibatkan berbagai pihak akan lebih efektif dalam mencapai tujuan ini.

Ketersediaan dan kemudahan akses terhadap buku-buku berkualitas menjadi kunci utama. Buku-buku tersebut harus variatif, relevan, dan menarik agar dapat memikat minat pembaca dari berbagai kalangan. Perpustakaan sekolah dan umum perlu diperkaya dengan koleksi yang beragam.

Membangun budaya membaca juga dapat dilakukan melalui alokasi waktu khusus untuk membaca buku bagi peserta didik di sekolah. Inisiatif ini akan membiasakan siswa untuk menjadikan membaca sebagai rutinitas. Dengan demikian, diharapkan minat baca akan tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi