Gara-Gara Dana Belum Turun dari Kepala BGN, Puluhan SPPG di Jateng Belum Beroperasi Sediakan MBG
Subbag Program Disdikbud Jateng, Roberto Agung Nugroho mengatakan pihaknya tidak diketahui pasti dimana saja SPPG yang belum beroperasi
174 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang aktif menjalankan layanan bagi program makan bergizi gratis (MBG) dan 27 SPPG yang belum beroperasi. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Jawa Tengah berkoordinasi dengan Dinas Ketahanan Pangan (Dishanpan) Jateng selaku leader program MBG.
Subbag Program Disdikbud Jateng, Roberto Agung Nugroho mengatakan pihaknya tidak diketahui pasti dimana saja SPPG yang belum beroperasi karena menjadi kewenangan penuh dari BGN.
"Leading sectornya kan ada di Hanpan (ketahanan pangan) ya. Tetapi dari kami tetap berkoordinasi terus untuk memastikan tahapan pelaksanaan MBG di setiap wilayah," kata Roberto, Senin (16/6).
Pihak Disdikbud Jateng memastikan sampai dengan 29 Mei 2025 terdapat 202 SPPG yang beroperasi di sejumlah kabupaten/kota.
Dari jumlah tersebut, ada kisaran 174 SPPG yang aktif menjalankan layanan bagi program makan bergizi gratis (MBG) dan 27 SPPG yang belum beroperasi lantaran masih menunggu pencairan dana dari Badan Gizi Nasional (BGN).
"Jadi di Jawa Tengah itu sesuai data yang kami terima per 29 Mei ada sebanyak 202 SPPG yang terverifikasi. Lalu sekitar 174 SPPG yang aktif. Dan 27 SPPG belum operasional menunggu pencairan dana dari BGN," ungkapnya.
Mengenai pelaksanaan MBG selama musim libur panjang anak sekolah tahun ini, pihaknya menekankan juga ikut diliburkan. Kemudian beroperasi kembali ketika tahun ajaran baru dimulai pertengahan Juli nanti.
"Kalau anak sekolah libur, otomatis MBG juga tidak aktif. Makanannya mau dipakai buat siapa, siswanya sudah libur semua," jelasnya.
Terkait keterlibatan kantin sekolah dalam peran MBG, pihaknya tak bisa direalisasikan mengingat syarat-syaratnya tidak bisa dipenuhi. Sebab, kantin sekolah memiliki kapasitas ruang yang kecil dengan jumlah makanan yang dihasilkan masih terbatas.
"Kantin sekolahan tidak memenuhi syarat buat MBG. Karena bentuknya kecil, makanan yang disajikan juga terbatas. Jadi sulit kalau mau berpartisipasi di program MBG," pungkasnya.