Direktur Lokataru Delpedro Marhaen Ditahan, Polisi Ungkap Dugaan Penghasutan Kerusuhan DPR
Penahanan dilakukan setelah keenamnya ditetapkan sebagai tersangka.
Polda Metro Jaya resmi menahan Direktur Lokataru, Delpedro Marhaen, bersama lima orang lainnya terkait dugaan penghasutan yang memicu kerusuhan di depan Gedung DPR/MPR. Penahanan dilakukan setelah keenamnya ditetapkan sebagai tersangka.
Selain Delpedro, lima orang lainnya adalah Mujaffar Salim (MS), admin akun Instagram @blokpolitikpelajar; Syahdan Husein (SH), admin akun Instagram @gejayanmemanggil; KA, admin Instagram @AliansiMahasiswaPenggugat; FL, admin TikTok @fighaaaaa; dan RAP, admin Instagram @RAP.
"Benar, telah dilakukan penahanan enam orang tersangka yang pernah disampaikan inisialnya kemarin," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Ade Ary Syam Indradi, Kamis (4/9).
Menurut polisi, Delpedro dan kelima tersangka lainnya menyebarkan flyer digital berisi ajakan kerusuhan dengan caption "Polisi butut, jangan takut."
"Tujuan isi flyer dan caption yang berupa hasutan kepada pelajar yang merupakan anak untuk jangan takut aksi dan mengajak melawan bersama yang berujung pada terjadinya kerusuhan yang mengancam jiwa dan keselamatan anak," ujar Ade Ary, Selasa (2/9).
Polisi juga mengungkapkan ada pihak-pihak yang membuat tutorial pembuatan bom molotov serta menawarkan imbalan uang kepada masyarakat agar ikut aksi.
"Jadi ada juga beberapa pihak yang masih dilakukan pendalaman terkait memberikan iming-iming imbalan uang dengan rentang nominal Rp62.500 hingga Rp200.000 bagi anak-anak dan dewasa yang mau hadir melakukan aksi," jelasnya.
Kronologi Kerusuhan
Kerusuhan bermula ketika ratusan pelajar mendatangi Gedung DPR tanpa pemberitahuan resmi. Polisi mengamankan 337 orang, terdiri dari 202 anak sekolah, 26 mahasiswa, dan sisanya warga umum. Mereka dipulangkan setelah proses pendataan dan konseling.
"Aksi yang berujung ricuh ini sama sekali tidak diawali dari proses penyampaian pendapat. Jadi datang langsung ricuh. Polda Metro Jaya telah melakukan upaya pengamanan 337 orang," ujar Ade Ary.
Namun ajakan melalui media sosial terus berlanjut. Pada 28 Agustus 2025, kerusuhan kembali terjadi. Polisi mengamankan 794 orang, mayoritas pelajar dari berbagai daerah, termasuk Cirebon, Indramayu, Purwakarta, Cianjur, hingga Serang.
"Saat itu kami menyampaikan di lapangan secara bertahap. Jam 8.30 sudah ada 100 sekian yang diamankan. Rekan-rekan bisa membayangkan dampak ajakan hasutan dari akun-akun yang digunakan para tersangka sehingga jam 8.30 sudah diamankan," tutur Ade Ary.
Kericuhan berlanjut. Pada 29 Agustus, polisi menangkap 11 orang. Kemudian, pada 30–31 Agustus, 205 orang diamankan, dengan 25 di antaranya ditetapkan sebagai tersangka pengrusakan fasilitas umum. Total, 38 orang kini resmi menjadi tersangka.
"Tadi siang sudah kami jelaskan ada 38 tersangka yang sudah ditahan oleh penyidik terkait dengan peristiwa anarkis, pengrusakan umum, pengrusakan fasilitas umum, hingga pengrusakan kantor-kantor kepolisian serta tindak pidana melawan petugas yang sedang melaksanakan tugas," ungkapnya.
Barang Bukti Disita
Polisi menyita flashdisk berisi ajakan rusuh, pisau karambit, lima anak panah, rekaman CCTV, hasil visum, dan video tutorial pembuatan bom molotov.