Menyelami Makna Tradisi Tedhak Siten Masyarakat Kendal, Gerbang Baru Kehidupan
Tradisi ini diharapkan dapat membantu anak untuk mengatasi kesulitan dalam hidupnya, terhindar dari rintangan, dapat mandiri dan tanggung jawab.
Tradisi ini diharapkan dapat membantu anak untuk mengatasi kesulitan dalam hidupnya, terhindar dari rintangan, dapat mandiri dan tanggung jawab.
Menyelami Makna Tradisi Tedhak Siten Masyarakat Kendal, Gerbang Baru Kehidupan
Tradisi Tedhak Siten
Tradisi Tedhak Siten merupakan warisan budaya nenek moyang di mana bayi yang berumur 8 bulan diperkenalkan menginjakkan kaki ke tanah.
Dalam pelaksanaannya terdapat ubo rampe yang harus dipersiapkan.
Ubo rampe merupakan simbol yang digunakan sebagai tanda bahwa anak menginjakkan kaki pertamanya dengan penuh harap dapat menjalani kehidupan yang akan datang dengan baik, sukses tanpa ada rintangan.
Tradisi ini dimaksudkan untuk mengenalkan anak pada pijakan bumi pertama kali.
Seiring bertambahnya usia, ia akan mengalami banyak perubahan dalam kehidupannya.
Tradisi ini diharapkan dapat membantu anak untuk mengatasi kesulitan dalam hidupnya, terhindar dari rintangan, dapat mandiri dan tanggung jawab.
(Foto : istockphoto.com)
Selain itu, diharapkan nantinya ia akan mendapat rezeki yang melimpah sehingga dapat berbagi terhadap sesama dan lingkungannya.
Tradisi dihadiri oleh beberapa anggota keluarga serta tetangga sekitar terutama yang memiliki anak kecil.
Setelah acara selesai, akan disediakan hidangan untuk para tamu yang mengandung makna sodaqoh.
Tedhak Siten di Kendal
Mengutip dari jurnal Makna Tradisi Tedhak Siten pada Masyarakat Kendal : Sebuah Analisis Fenomenologis Alfred Schutz yang ditulis oleh Tika Ristia Djaya, terdapat 2 acara yang dilakukan oleh masyarakat Kendal dalam melaksanakan tradisi Tedhak Siten, yaitu :
- Mengundang dukun bayi dan anak dipijat agar bisa cepat jalan
- Mengundang kyai untuk memberikan doa agar kelak anak dapat tumbuh dengan sehat dan dijauhkan dari rintangan hidup
Rangkaian acara Tedhak Siten pun memiliki maknanya tersendiri, antara lain :
- Berjalan menapaki tujuh jadah atau ketan dengan 7 warna yang berbeda.
Tahapan ini menandakan harapan agar anak dapat menghadapi segala rintangan hidup, sebab dunia adalah wilayah yang tidak pasti.
Warna yang berbeda-beda menandakan pertolongan yang dapat hadir dari banyak jalan
- Menaiki tangga yang terbuat dari tebu
- Ceker-ceker anak dimasukkan ke dalam kurungan ayam dan ia akan memilih apa yang ia sukai
(Foto : istockphoto.com)
- Undhik-undhik, anak akan dimandikan lalu melakukan genduri yaitu memberikan berkat kepada tamu undangan
- Di akhir acara, terdapat pembagian bingkisan dan perebutan uang koin yang dicampur dengan beras kuning
(Foto : istockphoto.com)