Tradisi Unik Lebaran: Ritual Injak Bumi Jambi, Warisan Leluhur Penuh Doa
Merayakan Idul Fitri di Jambi tak lengkap tanpa Ritual Injak Bumi, tradisi sakral bagi bayi yang mulai belajar berjalan. Cari tahu makna mendalam dan harapan orang tua di baliknya.
Pada pagi Idul Fitri, setelah salat berjamaah, Masjid Jami Ba'alawi di Kelurahan Arab Melayu, Kota Jambi Seberang, menjadi pusat perhatian. Tradisi unik bernama "Injak Bumi" khusus dipersembahkan bagi bayi yang baru belajar berjalan. Ritual ini menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Lebaran masyarakat Melayu Jambi.
Ritual Injak Bumi adalah momen sakral di mana bayi-bayi diserahkan kepada para tokoh agama yang telah berkumpul di halaman masjid. Mereka akan dimintakan doa restu agar tumbuh sehat dan memiliki akidah kuat. Tradisi ini telah hidup jauh sebelum Indonesia merdeka, diwariskan secara turun-temurun di kawasan tersebut.
Orang tua bayi dengan antusias membawa buah hati mereka untuk mengikuti prosesi ini. Setelah ritual, mereka menaburkan bunga dan uang logam ke udara, menarik perhatian anak-anak kecil yang sedari tadi menunggu. Ini adalah wujud syukur dan harapan akan masa depan yang baik bagi sang anak.
Makna dan Pelaksanaan Ritual Injak Bumi
Ritual Injak Bumi di Jambi Seberang bukan sekadar perayaan Lebaran biasa, melainkan sebuah tradisi yang sarat makna spiritual. Para tokoh agama akan mengusap tubuh bayi, melantunkan doa dengan suara lirih, lalu menurunkannya ke tanah, sebelum mengembalikannya ke pelukan orang tua. Prosesi ini melambangkan harapan agar bayi siap menghadapi kehidupan.
Abu Umar, seorang warga Arab Melayu sekaligus ayah dari Muhammad Raska, menceritakan bahwa tradisi ini telah ada sejak nenek moyangnya menghuni kawasan Jambi Kota Seberang. Ia sendiri pernah melalui tahapan ini, dan kini giliran sang anak, Muhammad Raska. Hal ini menunjukkan kuatnya ikatan generasi dengan warisan budaya.
Melalui doa yang dipanjatkan para pemuka agama, orang tua berharap anak-anak mereka tumbuh sehat serta memiliki akidah yang kuat dalam mengarungi kehidupan sehari-hari. Mereka menginginkan anak-anak menjadi pribadi yang berguna bagi keluarga dan lingkungan. Harapan serupa juga disampaikan Megawati, ibu dari Arsyad, yang berharap anaknya dikaruniai kesehatan dan menjadi anak saleh.
Megawati menambahkan, keempat anaknya selalu mengikuti tradisi ini karena merasa ada yang kurang jika tidak didoakan. Ini menegaskan betapa pentingnya ritual Injak Bumi sebagai bagian dari khasanah budaya warga Jambi Seberang.
Warisan Leluhur dan Dimensi Spiritual
Tokoh agama setempat, Abdulah Hamid, menjelaskan bahwa tradisi Injak Bumi adalah upaya merawat warisan leluhur yang kaya dimensi spiritual. Ritual ini diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian rutin dalam kehidupan masyarakat. Ini adalah bentuk penghormatan terhadap bumi yang baru dipijak, khususnya bagi anak-anak atau pendatang baru.
Tradisi ini dipercaya sebagai sarana mengambil berkah dan wujud rasa hormat terhadap tempat tinggal baru. Adat ini tetap dijaga sebagai bagian dari syiar Islam yang berakulturasi dengan budaya lokal. Doa yang dipanjatkan bertujuan memberikan perlindungan dari gangguan gaib.
Doa yang dilantunkan meliputi: "A’udzu bikalimatillahittammati min syarri maa khalaq." Serta "Bismillahilladzi laa yadhurru ma’asmihi syai’un fil ardhi wa laa fissama’i wahuwas sami’ul ‘alim." Intinya adalah memohon perlindungan kepada Allah SWT dari gangguan setan, iblis, dan marabahaya lainnya saat seseorang mulai menempati atau menginjakkan kaki di suatu tempat baru.
Abdulah Hamid menegaskan bahwa tujuan utama dari pembacaan doa tersebut adalah menjauhkan diri dari gangguan-gangguan gaib. Ini mencerminkan kepercayaan kuat masyarakat terhadap kekuatan spiritual dalam menjaga keselamatan dan kesejahteraan.
Kekayaan Sejarah dan Nilai Luhur Melayu Jambi
Khatib Masjid Jami Ba'alawi, Majdi Hasan Musa, menyoroti bahwa masyarakat Melayu Jambi Seberang memiliki sejarah dan nilai luhur yang kaya. Di tepian Batanghari, dakwah pernah tumbuh dengan santun dan ilmu berkembang dengan adab. Ia berpesan agar generasi saat ini tidak hanya mewarisi tanah, tetapi juga tuntunan.
Majdi Hasan Musa juga menekankan pentingnya menjaga akhlak, bukan hanya membangun rumah megah. Melalui momentum Lebaran, ia mengajak masyarakat untuk saling mengunjungi dan menziarahi satu sama lain sebagai amalan utama. Hal ini mencakup pula berbicara dengan sopan dan beradab, sesuai nilai-nilai Melayu.
Orang Melayu sangat menitikberatkan adab dalam bertutur, dengan kata-kata yang lembut, hormat kepada orang tua, dan tidak meninggikan suara. Menggunakan bahasa halus dan menjaga perasaan orang lain adalah kunci. Saling memaafkan dan menghormati, terutama pada hari-hari perayaan, sangat ditekankan untuk menenangkan hati serta membersihkan hubungan antarmanusia.
Keluarga dianggap sebagai tiang negeri, dan mendidik anak dengan agama adalah prioritas. Majdi Hasan Musa berpesan untuk mengajarkan adab sebelum ilmu, dan menanamkan rasa malu sebelum bangga. Kekuatan keluarga Melayu terletak pada paduan agama, adat, kasih sayang, dan tanggung jawab bersama.
Sumber: AntaraNews