Belajar dari Orang Betawi Tempo Dulu Kenalkan Agama Islam ke Anak, Lewat Dongeng Sebelum Tidur hingga Syair

Saat islam dikenalkan sedari dini, maka ke depan sang anak akan lebih memahami dan bisa mempraktikkan ajarannya dengan baik.

Nurul Diva
Oleh Nurul Diva - Reporter
Belajar dari Orang Betawi Tempo Dulu Kenalkan Agama Islam ke Anak, Lewat Dongeng Sebelum Tidur hingga Syair
Ilustrasi keluarga Islam (freepik.com)

Ada banyak kisah parenting yang menarik untuk disimak, salah satunya berasal dari masyarakat tradisional Betawi. Sejak zaman dahulu, mereka sudah mengenalkan ajaran agama Islam kepada anak sedari dini.

Seperti diketahui bersama, kultur keislaman melekat kuat di budaya orang Betawi. Bahkan, ajaran tersebut juga dekat dalam tradisi-tradisi yang masih bertahan sampai sekarang seperti nyorog, munggahan, dan ruwahan yang identik saat bulan Ramadan.

Kuatnya akulturasi Islam ini karena nenek moyang mereka selalu mengajarkan manusia agar senantiasa dekat dengan Allah yang akan membuat batin tenang dan mendapat kemudahan hidup.

Itulah mengapa para orang tua selalu berusaha mengenalkan agama Islam dimulai dari membacakan dongeng kepada anak-anak yang masih berusia bayi. Yuk kenalan lebih dekat lagi.

Ada banyak cara yang dilakukan para orang tua di Betawi agar anaknya kelak mengenal ajaran agama Islam. Salah satunya adalah saat menidurkan anak melalui pembacaan dongeng.

Dongeng-dongeng tersebut bisa berupa kisah kebaikan, mengenalkan pahala, maupun kisah anak yang selalu beruntung ketika rutin menjalankan salat.

Saat islam dikenalkan sedari dini, maka ke depan sang anak akan lebih memahami dan bisa mempraktikkannya dengan baik.

Dalam buku Betawi Tempo Doeloe: Menelusuri Sejarah Kebudayaan Betawi karya Abdul Chaer, dikatakan bahwa orang tua Betawi juga mengganti lagu nina bobo dengan syair-syair bernada Islam.

Menurut Chaer, liriknya kebanyakan tentang doa orang tua kepada anak tersebut agar ke depan rezekinya melimpah.

“Ya Allahu, Ya Robbi. Beri rezei biar lebi, supaye bise pegi haji, sambil ziarah ke kuburan Nabi,” sebut Chaer.

Seluruh isi dari dongeng maupun syair yang disampaikan sarat dengan nilai kebaikan. Ketika anak hendak tidur, para ibu juga menceritakan tentang perbuatan apa saja yang mengandung pahala.

Kemudian, sang ibu juga menceritakan apa saja yang menimbulkan dosa seperti ketika meninggalkan salat.

“Dung indung Siti Aise, mandi di kali rambutnye base, kagak sembayang kagak pause, di dalem kubur mendapet sikse,” tambah Chaer.

Kemudian, cara tradisional lain adalah ketika kedua orang tuanya hendak salat, sang anak didudukkan atau direbahkan di dekat mereka. Di sini, anak akan melihat kedua orang tuanya salat dan akan terbawa saat dewasa.

Kemudian, anak ketika sudah bisa berbicara mulai dibacakan surat Al-Fatihah per kalimat dan anak diminta mengikutinya. Lama-lama, ketika terbaca secara berulang-ulang, ilmu akan masuk dan mudah diamalkan.

“Ya Allah, ya Rahma, Nabi Muhammad akhir zaman, minta mati, minta beriman, masuk sorga serta junjungan,” tulis Chaer.

Adapun kebiasaan turun temurun warga asli Betawi tersebut sebenarnya berawal dari kuatnya peradaban Islam di masa silam. Ketika itu, masyarakat Betawi memang terdiri dari banyak suku bangsa salah satunya wilayah Timur Tengah.

Mengutip jejakislam.net, perkembangan awal masyarakat Betawi mulanya terbentuk dari pernikahan berbeda budaya yang terjadi di masa Sunda Kelapa. Saat itu banyak para pedagang asal melayu hingga Hadramaut, Yaman.

Menurut sejarawan, almarhum Ridwan Saidi, terdapat juga salah satu ulama yang saat itu paling berpengaruh dan sangat awal dalam penyebaran Islam di tanah Betawi yakni Syekh Quro.

Itulah mengapa orang Betawi memiliki budaya Islam yang melekat kuat, karena dalam sejarahnya terjadi penyebaran yang masif melalui perdagangan hingga pernikahan.

Rekomendasi