Wagub Taj Yasin Minta Cakupan Imunisasi Diperkuat Agar Kasus Campak di Jateng Bisa Ditekan

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, puncak kasus terjadi pada Januari 2026 dengan jumlah mencapai 792 suspek

Danny Adriadhi Utama
Oleh Danny Adriadhi Utama - Reporter
Wagub Taj Yasin Minta Cakupan Imunisasi Diperkuat Agar Kasus Campak di Jateng Bisa Ditekan
Wagub Taj Yasin Minta Cakupan Imunisasi Diperkuat Agar Kasus Campak di Jateng Bisa Ditekan (Merdeka.com)

Kasus suspek campak di Jawa Tengah menunjukkan tren peningkatan dalam tiga tahun terakhir.

Sebab sebagian besar wilayah masih dalam kondisi terkendali, saat ini Kejadian Luar Biasa (KLB) campak tercatat terjadi di tiga kabupaten, yakni Cilacap, Klaten, dan Pati. Sementara dua daerah lain, Brebes dan Kudus, berstatus suspek.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, puncak kasus terjadi pada Januari 2026 dengan jumlah mencapai 792 suspek

Atas kondisi tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memperkuat langkah pencegahan melalui peningkatan cakupan imunisasi dan edukasi masyarakat.

Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen menyampaikan, kewaspadaan terhadap campak perlu ditingkatkan, mengingat daya tularnya yang sangat tinggi. 

“Maka penguatan imunisasi menjadi kunci, tidak hanya untuk campak tetapi juga penyakit menular lainnya seperti TBC,” kata Taj Yasin di Kantor Gubernur Jateng, Senin (30/3) 

Dalam kunjungan itu membahas mengenai Kesiapsiagaan Daerah dalam Pencegahan dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) Campak di Provinsi Jawa Tengah.  

Menurut dia tingginya kasus campak merupakan dampak dari terganggunya layanan imunisasi saat pandemi Covid-19. Oleh karena itu, Pemprov Jateng kini mendorong percepatan pemulihan cakupan imunisasi di seluruh wilayah.

"Ini menjadi momentum untuk mengejar ketertinggalan. Kami terus menggerakkan kembali imunisasi dan memperkuat kampanye kepada masyarakat,” ungkapnya.

Upaya tersebut juga didukung dengan capaian imunisasi yang cukup baik. Pada 2025, cakupan vaksinasi MR bayi di Jawa Tengah mencapai 106,7 persen atau melampaui target.

Meski demikian, masih terdapat kantong-kantong wilayah dengan cakupan rendah yang berpotensi menjadi titik penularan.

Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan, Maria Endang Sumiwi, mengapresiasi kinerja Jawa Tengah dalam menjaga cakupan imunisasi di tengah populasi besar.

"Jawa Tengah ini berhasil, karena dengan populasi besar, cakupan imunisasi di bawah 95 persen hanya di sedikit kabupaten/kota,” katanya.

Sementara itu, Ketua Komisi IX DPR RI, Felly Estelita Runtuwene menilai, upaya Pemprov Jateng sudah berjalan baik, namun perlu diperkuat melalui edukasi publik yang lebih masif dan kolaboratif.

"Edukasi harus terus dilakukan, melibatkan guru, orang tua, hingga influencer. Ini tidak bisa hanya dilakukan pemerintah sendiri,” ujarnya.

Ia juga menyoroti masih adanya penolakan imunisasi oleh sebagian orang tua, yang berpotensi memperluas penularan di masyarakat. Oleh karena itu, peran sekolah dan tenaga pendidik dinilai penting dalam memberikan pemahaman kepada orang tua.  

Rekomendasi