Sambil Sekolah Jual Rokok dan Kemenyan, Berujung Jadi Jenderal TNI Bintang Empat
Bocah yang dulu berjualan rokok dan kemenyan itu menjadi orang nomor satu di tubuh TNI AD.
Penulis: Arsya Muhammad
Masa kecil Surono penuh dengan keprihatinan. Saat masih kanak-kanak, ibunya meninggal dunia. Ayahnya menyusul kemudian. Kehidupan serba sulit. Namun siapa sangka kelak menjadi seorang jenderal bintang empat.
Keluarga Reksodimedjo sebenarnya cukup terpandang di Banyumas. Pak Rekso bekerja sebagai penilai di Pegadaian di Kroya.
Di era kolonial, posisi ini cukup terpandang. Karena itu Surono bisa bersekolah di Holland Inlandsche School (HIS), kemudian MULO atau Meer Uitgebreid Lager Onderwijs. Sekolah menengah pertama dengan bahasa pengantar Belanda.
Namun kehidupan berubah saat ayahnya meninggal tahun 1938. Surono kemudian diasuh oleh neneknya. Dalam kondisi sulit, dia berusaha tetap bersekolah di MULO. Pakaian Surono nyaris yang paling sederhana. Kebanyakan kawan-kawannya di MULO adalah anak-anak Tionghoa.
“Untuk membantu orang tuanya, Surono berjualan rokok dan menyan untuk sajen,” demikian ditulis dalam Biografi Jenderal Surono Reksodimedjo, Perjalanan Hidup Anak Yatim Piatu Menjadi Jenderal yang diterbitkan Disjarah TNI AD.
Untungnya, saat bersekolah di MULO Surono mendapat beasiswa 5 gulden karena dinilai berprestasi. Selain itu dia mendapat keringanan membayar uang sekolah menjadi 2,8 gulden per bulan.
Setelah lulus MULO, sebenarnya Surono masih ingin melanjutkan ke sekolah menengah atas atau Algemene Middelbare School (AMS). Namun dia sadar diri, saat itu kondisinya serba sulit.
Sebagai anak yatim piatu yang tinggal dengan nenek, Surono merasa meneruskan sekolah saat itu tidak memungkinkan baginya.
Saat itulah Jepang masuk ke Indonesia. Surono muda diterima bekerja sebagai juru tulis di Kantor Karesidenan Banyumas, atau Banyumas Syu. Gajinya saat itu sekitar 13 gulden. Uang Belanda masih digunakan di awal-awal Jepang menguasai Indonesia.
Masuk Dinas Militer
3 Oktober 1943 Jepang membuka kesempatan bagi pemuda Indonesia untuk menjadi perwira militer. Pendidikan tentara sukarela Pembela Tanah Air (PETA) digelar di Bogor.
Para pemuda Indonesia yang mendengar kabar itu berbondong-bondong mendaftar. Termasuk Surono, yang dalam hati kecilnya sebenarnya bercita-cita menjadi tentara. Namun di era kolonial Belanda, niatnya mendaftar jadi tentara KNIL dilarang oleh keluarga. Alasannya setiap serdadu harus bersumpah setia pada Ratu Belanda.
Surono meninggalkan pekerjaannya sebagai juru tulis. Dia mendaftar ke Bogor dan diterima sebagai Shodancho atau komandan peleton. Setingkat letnan dalam ketentaraan. Setelah dilantik pada Bulan Desember 1943, Surono ditempatkan di Daidan Cilacap.
Saat Indonesia merdeka, Surono dan kawan-kawannya bergabung dengan Barisan Keamanan Raktay (BKR) di Banyumas.
Di sinilah Surono selalu mendampingi Soedirman yang kelak menjadi Panglima TNI.
Surono menemukan jalan hidupnya sebagai perwira militer. Dia berperang melawan Inggris dan Belanda yang mencoba kembali menguasai Indonesia lewat agresi militer I dan II.
Walau kelak sudah berpangkat Mayor, Surono masih bertekad untuk lulus SMA. Dia mengikuti pendidikan dan dinyatakan lulus SMA-C tahun 1956. Tahun berikutnya Surono mengikuti pendidikan Staf dan Komando di Amerika Serikat.
Karir militer Surono terbilang moncer. Dia menjadi Gubernur Akademi Militer Nasional (AMN) saat G30S/PKI meletus, kemudian menjadi Pangdam IV Diponegoro, setelah itu menjadi Pangkowilhan II Jawa dan Madura dengan pangkat Letnan Jenderal.
Pada bulan April 1973, Jenderal Surono dilantik menjadi Kepala Staf TNI Angkatan Darat menggantikan Jenderal Umar Wirahadikusuma. Dia pun menjadi jenderal bintang empat.
Bocah yang dulu berjualan rokok dan kemenyan itu menjadi orang nomor satu di tubuh TNI AD.