Monumen bersejarah di Samarinda menyimpan kisah transformasi luar biasa dari sebuah kawasan. Masjid Shirathal Mustaqiem di Samarinda Seberang adalah saksi bisu perubahan signifikan tersebut. Bangunan ini menjadi narator utama dalam cerita kampung maksiat yang kini menjelma pusat peribadatan dan adab masyarakat Kota Tepian.
Pada penghujung abad ke-19, area yang sekarang dikenal sebagai Kampung Mesjid Samarinda Seberang bukanlah tempat untuk merapalkan doa. Kawasan ini justru dikenal sebagai pusat kemelut moral dengan berbagai aktivitas negatif. Riwayat tutur masyarakat setempat secara turun-temurun mengisahkan masa lalu yang kelam di sana.
Sabung ayam, perjudian, serta berbagai kegiatan yang jauh dari nilai agama menjadi denyut nadi kehidupan sehari-hari warganya kala itu. Namun, berkat ketekunan seorang ulama, kabut gelap kemaksiatan perlahan tersibak. Masjid Shirathal Mustaqiem Samarinda kini berdiri kokoh sebagai simbol perubahan.
Advertisement
Advertisement
Asal Mula Kampung Maksiat Samarinda Seberang
Jauh sebelum menjadi pusat keagamaan, Samarinda Seberang memiliki reputasi yang berbeda. Kawasan ini, yang kini dikenal sebagai Kampung Mesjid, pada abad ke-19 merupakan sarang aktivitas terlarang. Masyarakat setempat secara turun-temurun menceritakan bagaimana area ini pernah menjadi pusat kemelut moral.
Ketua Kelompok Sadar Wisata Masjid Shirathal Mustaqiem Samarinda, Mazbar, menjelaskan kondisi masa lalu. "Sabung ayam, perjudian, dan berbagai aktivitas yang jauh dari nilai-nilai agama menjadi denyut nadi kehidupan sehari-hari warganya," ujarnya. Ia menambahkan bahwa tempat ini dulunya adalah kampung maksiat yang pekat tenggelam dalam ingar-bingar hawa nafsu duniawi.
Situasi ini menggambarkan betapa mendalamnya pengaruh praktik-praktik tersebut di tengah masyarakat. Kehidupan sosial di Samarinda Seberang kala itu didominasi oleh kegiatan yang bertentangan dengan norma agama. Namun, kondisi ini tidak berlangsung selamanya, ada secercah harapan yang datang dari seorang ulama.
Advertisement
Advertisement
Peran Pangeran Bendahara dalam Transformasi Moral
Di tengah pekatnya kemaksiatan, muncullah sosok karismatik bernama Said Abdurachman bin Assegaf. Beliau adalah seorang bangsawan, pendakwah, dan saudagar muslim keturunan Arab dari Kesultanan Pontianak. Awalnya, Said Abdurachman datang ke Samarinda Seberang untuk berniaga, mencari penghidupan di rute perdagangan Nusantara.
Selama berinteraksi dengan penduduk, mata batin Said Abdurachman menangkap realitas yang menggugah nuraninya. Ia melihat potensi strategis Samarinda Seberang sebagai pusat penyebaran Islam di tanah Kutai. Niat murni untuk berdagang perlahan bergeser menjadi panggilan jiwa untuk berdakwah.
Dengan pendekatan humanis, keteladanan akhlak, serta kajian dakwah yang menyejukkan, Said Abdurachman mulai merangkul masyarakat. Ketekunan dan ketaatannya dalam menjalankan syariat Islam membuatnya cepat ditokohkan. Para pelaku maksiat pun perlahan meninggalkan kebiasaan lama mereka dan mulai mendengarkan petuah agama.
Advertisement
Pengaruh positif sang ulama sampai ke telinga Sultan Aji Muhammad Sulaiman, penguasa Kerajaan Kutai saat itu. Pada tahun 1880, Sultan Kutai mengangkat Said Abdurachman Assegaf sebagai Kepala Adat dan Agama Samarinda Seberang. Ia juga dianugerahi gelar kehormatan "Pangeran Bendahara", sebuah amanah suci untuk syiar Islam.
Advertisement
Pembangunan Masjid Shirathal Mustaqiem Sebagai Poros Ibadah
Setelah diangkat sebagai Pangeran Bendahara, Said Abdurachman menyadari kurangnya sarana ibadah yang memadai. Ia meyakini bahwa pembangunan peradaban umat tidak akan mungkin tanpa pusat pijakan spiritual. Visi ini mendorongnya untuk menyuarakan ide besar pembangunan sebuah masjid di Samarinda Seberang.
Ide tersebut segera diwujudkan dengan peletakan batu pertama pembangunan Masjid Shirathal Mustaqiem pada tahun 1881. Secara filosofis, lokasi masjid ini didirikan tepat di lahan yang dulunya sering digunakan sebagai arena perjudian. Ini merupakan langkah berani untuk membersihkan tanah maksiat menjadi tempat sujud kepada Ilahi.
Pembangunan masjid ini menjadi tonggak sejarah penting bagi masyarakat Samarinda Seberang. Setelah wafatnya Pangeran Bendahara, semangat pembangunan dan pemakmuran masjid dilanjutkan oleh tokoh setempat bernama Kapitan Jaya. Kehidupan beragama di kawasan ini terus tumbuh pesat, menciptakan lingkungan yang kondusif, religius, dan damai.
Advertisement
Advertisement
Warisan Abadi dan Makna Masjid Shirathal Mustaqiem
Lebih dari satu abad telah berlalu sejak pendiriannya, Masjid Shirathal Mustaqiem tetap berdiri kokoh di Kelurahan Mesjid, Samarinda Seberang. Bangunan ini bukan sekadar cagar budaya tertua di Kota Samarinda, melainkan monumen perjuangan. Masjid ini juga menjadi simbol karomah seorang ulama besar.
Hikayat Pangeran Bendahara Said Abdurachman bin Assegaf adalah bukti sejarah yang tak terbantahkan. Dengan kesabaran, ilmu, dan keikhlasan, sebuah wilayah yang dulunya diwarnai pekatnya kemaksiatan berhasil diubah. Kini, ia menjadi pusat ibadah yang diharumkan oleh lantunan ayat suci.
Menara segi delapan setinggi 21 meter masjid ini masih berdiri tegap, menyatu dengan bangunan utama. Masjid ini telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional, menegaskan nilai sejarah dan budayanya. Gema azan dari menara itu seakan terus mengingatkan warga Samarinda akan kekuatan iman dan hidayah.
Advertisement
Sumber: AntaraNews