Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 di Kabupaten Aceh Tamiang berlangsung dalam suasana yang berbeda tahun ini. Umat Khonghucu di Kelenteng (Pekong) Seruway merayakan Imlek dengan kesederhanaan, beradaptasi dengan kondisi pascabencana banjir.
Bencana banjir besar yang melanda wilayah tersebut pada akhir November 2025 lalu meninggalkan dampak signifikan. Kondisi ini membuat perayaan Imlek kali ini fokus pada doa dan harapan pemulihan bagi masyarakat setempat.
Meskipun demikian, tradisi ibadah tetap dilaksanakan dengan khidmat. Doa keselamatan dipanjatkan untuk seluruh keluarga, menunjukkan keteguhan iman di tengah tantangan pemulihan daerah.
Advertisement
Advertisement
Penjaga Kelenteng Seruway, Asan (35), dari Yayasan Vihara Dharma Buddha Tua Pe Kong Seruway, mengungkapkan perbedaan mencolok dalam perayaan Imlek tahun ini. Jumlah jemaat yang datang mengalami penurunan drastis dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Sebelum bencana, kelenteng ini biasanya ramai dikunjungi hingga seratusan orang yang datang untuk merayakan. Namun, setelah banjir, suasana menjadi lebih sepi, mencerminkan dampak pemulihan yang masih berlangsung di masyarakat.
Jemaat yang biasanya datang tidak hanya dari Aceh Tamiang, tetapi juga dari berbagai daerah lain seperti Medan, Sumatera Utara, bahkan ada yang dari Jakarta. Penurunan jumlah ini menunjukkan luasnya dampak bencana terhadap komunitas.
Advertisement
Advertisement
Meskipun dalam kesederhanaan, ritual ibadah Imlek tetap dijalankan sesuai tradisi yang telah diwariskan. Kegiatan meliputi penyalaan dupa, pembakaran kertas doa, serta sembahyang untuk memohon keselamatan.
Doa-doa tersebut dipanjatkan untuk seluruh anggota keluarga, mulai dari anak-anak hingga orang tua, sebagai bentuk harapan akan perlindungan dan kesejahteraan. Puncak perayaan dimulai sejak pukul 19.00 WIB hingga tengah malam.
Kelenteng Seruway sendiri memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi bagi komunitas Tionghoa di Aceh Tamiang. Dibangun pada tahun 1897, kelenteng ini diyakini sebagai salah satu rumah ibadah umat Khonghucu tertua di kabupaten tersebut.
Advertisement
Asan, yang telah mengabdikan diri menjaga kelenteng ini selama delapan tahun, menekankan pentingnya menjaga tradisi. Meskipun sederhana, perayaan tetap mengutamakan doa dan penghormatan terhadap situasi pascabencana.
Advertisement
Momentum Tahun Baru Imlek kali ini menjadi ajang untuk memanjatkan harapan akan pemulihan cepat bagi wilayah Aceh Tamiang. Masyarakat berharap agar segala aktivitas dapat kembali normal seperti sedia kala.
Pemulihan pascabencana tidak hanya mencakup infrastruktur, tetapi juga kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Kembalinya aktivitas ibadah dan sosial yang ramai menjadi salah satu indikator penting pemulihan tersebut.
Doa dan harapan yang dipanjatkan dalam perayaan sederhana ini mencerminkan semangat komunitas untuk bangkit. Mereka berharap agar tahun baru membawa berkah dan kekuatan untuk menghadapi tantangan ke depan.
Advertisement
Sumber: AntaraNews