Reuni Para Purnawirawan Jenderal TNI-Polri, Momen Hangat Tanpa Sekat Lintas Angkatan

Dalam sambutannya, Prabowo bernostalgia doktrin yang ia terima dari para jenderal senior.

Rahmat Baihaqi
Oleh Rahmat Baihaqi - Reporter
Reuni Para Purnawirawan Jenderal TNI-Polri, Momen Hangat Tanpa Sekat Lintas Angkatan
Momen Prabowo, Luhut, Wiranto hingga Hendropriyono Kompak Nyanyi Hymne Taruna (Istimewa)

Balai Kartini dipenuhi ratusan purnawirawan TNI dari berbagai satuan Selasa (5/6) sore. Kendaraan mobil silih berganti tiada henti menurunkan para mantan prajurit.

Suara sapaan memanggil menggema di lobby Balai Kartini. Mewarnai pertemuan mereka berpadu rindu bertemu kawan lama yang sudah terpisah jauh.

Sambil memakai seragam warna krem, lokasi acara halal bihalal bertabur 'bintang' dipenuhi prajurit yang sudah purnatugas lengkap dengan baret hijau tua dan brevet di dada kiri menjadi nostalgia mereka menceritakan masa-masa kejayaanya.

Namun ada yang tidak biasa dengan kehadiran mereka. Para purnawiran TNI tersebut kompak memakai pita warna merah putih yang diikat di tangan jadi tanda kehadiran peserta.

Presiden Prabowo Subianto yang juga seorang jenderal purnawirawan TNI berdarah Kopasus hadir dalam di acara halal bihalal itu. Sambil ditemani oleh Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.

Beberapa menteri juga hadir, seperti Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin, Penasihat Khusus Presiden Bidang Politik dan Keamanan Jenderal TNI (Purn) Wiranto, Mantan Kepala BIN Hendropriyono, Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan.

Kemudian, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Kepala BIN Herindra dan Penasihat Khusus Presiden Bidang Pertahanan Nasional Jenderal TNI (purn) Dudung Abdurrachman.

Tidak ketinggalan, Wakil Presiden ke-6 RI sekaligus mantan Panglima ABRI Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno juga ikut hadir kala usulan pemakzulan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Di ballroom acara, Prabowo nampak tidak segan-segan duduk dalam satu meja bundar yang sama dengan Try Sutrisno yang tengah santer diperbincangkan karena menyetujui delapan tuntutan mengatasnamakan Forum Purnawirawan Prajurit TNI. Salah satu pointnya mengenai pemakzulan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Bukan dengan Try saja, di satu meja itu Prabowo juga ditemani Pelaksana Tugas Ketua Umum Persatuan Purnawirawan TNI Angkatan Darat (PPAD), Mayjen (purn) TNI Komaruddin Simanjuntak dan Sri Sultan Hamengkubuwono ke-X.

Acara sambutan dimulai dari Muqodimah dari Mentei Agama (Menag) Nasaruddin Umar, Komarudin, dan dilanjut pidato Presiden Prabowo.

Seperti biasa, Prabowo mengabsen beberapa menterinya yang sama-sama memiliki background militer satu persatu hadir dan dilanjutkan Purnawirawan prajurit lainnya.

Dalam sambutannya, Prabowo bernostalgia doktrin yang ia terima dari para jenderal senior. Awalnya, Prabowo menegaskan semangat TNI tidak kenal menyerah. Harus bisa berdiri di atas kaki sendiri.

"Nanti ada yang bertanya, apa bisa? harus bisa," ungkap Prabowo.

"Nah, ini semangat yang ditanamkan oleh angkatan 45, semangat tidak kenal menyerah, harus bisa. Merdeka atau mati," sambungnya.

Prabowo menegaskan jangan mau menjadi kacung bangsa lain. "Kita berdiri di atas kaki kita sendiri, kita tidak mau jadi kacungnya bangsa lain. Kalau yang mau silakan, saya tidak mau," tegasnya.

Prabowo mengungkap doktrin itulah yang ditanamkan para jenderal seniornya dulu. Salah satunya mantan Wakil Presiden ke-6 RI Try Sutrisno.

"Ini salah. Salah pembina-pembina yang mendidik saya seperti ini. Salah Pak Try (Try Sutrisno), salah Pak Luhut (Luhut Binsar Pandjaitan), salah Pak Hendro (Hendropriyono), Pak Agung (Agum Gumelar)," ungkap Prabowo.

Bahkan, Prabowo menyebut para seniornya dengan sebutan 'abang'. "Ini abang-abang yang beri contoh. Menanamkan kepada kita semangat itu. Jadi kalai Prabowo semangat seperti ini jangan salahkan Prabowo, salahkan Pak Try, Pak Hendropriyono, Pak Luhut, Pak Wiranto," tuturnya.

"Iya kan. Lho ini bapak-bapak didik saya seperti ini apa boleh buat saya tidak mau tunduk kepada bangsa manapun," tegasnya.

Prabowo juga sempat menyanjung Try Sutrisno dan mengaku merasa beruntung bareng teman satu angkatannya pernah digembleng dan dididik langsung senior Angkatan '45 saat menempuh Pendidikan militer.

"Angkatan 45 bukan saja dari tentara, bukan saja dari polisi tapi generasi yang memimpin perebutan kemerdekaan kita. Mereka yang di kelompok bersenjata dan mereka yang tidak bersenjata tapi sama-sama berjuang," ungkap Jenderal berdarah kopasus itu.

Menurut Prabowo, Angkatan '45 ini memiliki ciri khas khusus. Salah satunya Prabowo mengatakan, Try Sutrisno yang memiliki jiwa patriotisme dan kepercayaan diri melawan penjajah seperti Jepang dan Belanda yang saat itu disebut sebagai negara adikuasa.

"Saya kira pak Try, Sri Sultan, ayahanda dari Sri Sultan adalah pejuang, seorang jenderal TNI menghadapi Belanda di Yogyakarta banyak di antara kita pasti pernah mengalami itu. Tapi yang saya rasakan adalah yang pertama patriotisme yang berkobar kobar, cinta tanah air yang luar biasa dan kepercayaan diri," ujar Prabowo.

Selain itu, Prabowo mengatakan, generasi '45 yang merasa bahwa penerus dari perjuangan ratusan tahun dari semua suku daerah. Angkatan '45 ini yang menyatakan bahwa Indonesia tidak mau tunduk terhadap penjajah

"Angkatan 45 berani mengambil sikap, padahal negara belum punya anggaran, belum punya administrasi belum punya organisasi, senjata direbut kadang-kadang mengangkat dirinya pada saat orang tidak berani mereka di usia muda berani tampil," kata Prabowo.

Secara keseluruhan, pidato Prabowo mengenai nostalgianya ketika masih menjadi prajurit aktif dan perjuangan senior-seniornya saat membela tanah air sambil menyisipkan program sekolah rakyat.

Di balik acara reunian itu, Komarudin menegaskan acara halalbihalal bersama ratusan purnawirawan TNI tidak ada hubungannya dengan isu pemakzulan yang diajukan oleh Forum Purnawirawan Prajurit TNI.

"Bahwa acara ini halalbihalal yang tiap tahunnya dilaksanakan oleh purnawirawan, kalau tahun kemarin ada di Balai Sudirman, tahun ini di Balai Kartini, jadi tidak ada dikaitkan dengan respon 8 pernyataan Purnawirawan," tegas dia.

Namun menurut Komarudin pernyataan delapan poin oleh para seniornya di TNI adalah hal yang wajar-wajar saja. Sebab mereka berpandangan masih memiliki rasa kepedulian terhadap bangsa dan ingin membantu pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

"Secara demokrasi wajar-wajar saja mereka sudah berbuat untuk bangsa ini juga pengen membangun bangsa ini itu respons mereka. Tetapi itu bukan berarti mereka tidak setuju dengan pemerintahan saya kira mereka ingin membangun bangsa ini, membantu pemerintah seperti yang sekarang," tegas dia.

Lebih lanjut, Komarudin mengatakan jiwa korsa TNI sudah terbentuk dan mendarah daging sejak awal menjadi prajurit aktif hingga sudah purna tugas. Sehingga sekalipun sudah purnawirawan, Komarudin bersama rekan-rekan sejawat lainnya masih terus mengabdi kepada bangsa.

"Kalau tentara itu walaupun sudah pensiun, tetapi dia terus mengabdi. Jadi isi di artinya di masing-masing sesungguhnya berpedoman kepada Sapta marga sumpah prajurit, delapan wajib TNI, dan kepolisian tribrata. Jadi langkanya dan pola pikirannya pasti sama," ungkap dia.

Rekomendasi