Kesal, Netanyahu Sindir PM Belgia Pemimpin Lemah Karena Dukung Palestina
Belgia merupakan salah satu negara di Eropa Barat yang berencana untuk mengakui keberadaan Negara Palestina pada bulan September ini.
Tidak tanggung-tanggung. PM Israel Benyamin Netanyahu menyebut Perdana Menteri Belgia Bart De Wever sebagai seorang pemimpin lemah.
Hal itu, lantaran De Wever memutuskan untuk mengakui Palestina sebagai negara, dengan menyatakan, "Perdana Menteri Belgia de Wever adalah seorang pemimpin lemah yang berusaha menenangkan terorisme Islam dengan mengorbankan Israel. Dia ingin memberi makan buaya teroris sebelum buaya itu melahap Belgia," melalui unggahan di akun resmi media sosialnya di platform X.
Belgia, pada Selasa (2/9), menjadi negara Barat terbaru yang menyatakan niatnya untuk mengakui Negara Palestina dalam Sidang Majelis Umum PBB yang akan datang, setelah langkah serupa diambil oleh Australia, Kanada, dan Prancis.
Dalam pernyataan di X, Menteri Luar Negeri Belgia Maxime Prevot menjelaskan bahwa keputusan ini diambil sebagai respons terhadap tragedi kemanusiaan yang sedang terjadi di Gaza, dan menegaskan bahwa sanksi tegas sedang diterapkan terhadap pemerintah Israel.
Israel Tetap Lanjutkan Aktivitas
Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, pada hari Rabu mengajak untuk melakukan aneksasi terhadap sebagian besar wilayah Tepi Barat yang diduduki, setelah adanya upaya internasional untuk mengakui keberadaan Negara Palestina.
Di tengah tekanan yang semakin meningkat baik dari dalam maupun luar negeri untuk menghentikan serangan brutal yang telah berlangsung hampir dua tahun di Gaza, Israel justru memperkuat operasi militernya dan bersiap untuk merebut Kota Gaza, di mana PBB telah melaporkan adanya kelaparan.
Konflik yang terjadi di Gaza dipicu oleh serangan yang dilakukan oleh Hamas pada tanggal 7 Oktober 2023, yang menurut klaim Israel mengakibatkan kematian 1.219 orang. Di sisi lain, serangan balasan yang dilancarkan oleh Israel sejak hari itu, berdasarkan data dari otoritas kesehatan Gaza, telah menewaskan sedikitnya 63.746 warga Palestina, dengan laporan menyebutkan bahwa mayoritas dari mereka adalah warga sipil.