Lulus SMA Usia 8 Tahun, Raih PhD Umur 15, Remaja Ini Ingin Ciptakan “Manusia Super” Berbasis AI
Remaja asal Belgia itu resmi meraih gelar PhD di bidang fisika kuantum akhir 2025 lalu.
Laurent Simons kembali menjadi sorotan dunia akademik. Di usia 15 tahun, remaja asal Belgia itu resmi meraih gelar doktor (PhD) di bidang fisika kuantum dan kini melangkah lebih jauh dengan ambisi yang tak biasa: mengembangkan manusia “super” melalui kecerdasan buatan dan ilmu kedokteran.
Dilansir Indian Defence Review, Selasa (13/1), Simons menyelesaikan PhD fisika teoretis di Universitas Antwerp pada akhir 2025. Disertasinya membahas Bose polarons in superfluids and supersolids, sebuah kajian mendalam tentang perilaku partikel dalam kondensat Bose–Einstein, yang relevan bagi riset komputasi kuantum dan sistem suhu ultra-rendah.
Seluruh proses akademik ditempuh melalui jalur normal, dengan pembelaan terbuka dan penilaian resmi universitas.
PhD di Munich
Sebelum itu, Simons telah mencuri perhatian sejak kecil. Ia menamatkan sekolah menengah pada usia delapan tahun, lalu menyelesaikan program sarjana dan magister fisika dalam waktu kurang dari dua tahun.
Ia juga sempat menjalani magang riset di Max Planck Institute for Quantum Optics, salah satu pusat riset terkemuka di Eropa.
Tak lama setelah mempertahankan disertasinya, Simons memulai PhD kedua di Munich, kali ini di bidang ilmu kedokteran dengan fokus kecerdasan buatan.
Dalam wawancara televisi di Belgia, ia secara terbuka menyebut tujuannya adalah “menciptakan manusia super”, dengan fokus utama pada upaya mengalahkan penuaan.
Pengobatan Regeneratif
Meski terdengar futuristik, belum ada indikasi bahwa riset Simons melibatkan eksperimen klinis atau uji coba pada manusia.
Penelitiannya sejauh ini disebut berfokus pada pendekatan komputasional dan konseptual, seperti pemodelan AI untuk diagnostik, umur panjang, dan pengobatan regeneratif—bidang yang kini tengah berkembang pesat secara global.
Langkah Simons menempatkannya di persimpangan riset AI, biomedis, dan perdebatan etika tentang peningkatan kemampuan manusia. Sejauh ini, tidak ada keberatan resmi dari institusi akademik tempatnya bernaung.
Namun, kasusnya tetap memunculkan diskusi baru tentang batas etika, pengawasan riset lintas disiplin, dan peran ilmuwan yang masih berusia sangat muda dalam bidang yang berpotensi mengubah masa depan manusia.
Reporter Magang: Ahmad Subayu