Netanyahu Kecam Pemimpin Dunia yang Akui Negara Palestina
Negara-negara barat seperti Inggris, Prancis, dan Kanada adalah contoh yang mengakui keberadaan Palestina.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengkritik beberapa pemimpin dunia yang baru-baru ini memberikan pengakuan terhadap negara Palestina.
Kecaman tersebut disampaikan saat ia berangkat menuju Amerika Serikat untuk menghadiri pertemuan di Gedung Putih serta memberikan pidato di Sidang Majelis Umum PBB.
Pernyataan Netanyahu ini muncul setelah konferensi tingkat tinggi yang diadakan di Prancis pada awal pekan, di mana sejumlah negara Barat secara resmi mengumumkan pengakuan terhadap Palestina, sebagaimana dilansir dari laman The Sun pada Kamis (25/9).
"Di Majelis Umum, saya akan menyampaikan kebenaran kami --- kebenaran rakyat Israel, kebenaran para prajurit kami, dan kebenaran bangsa kami," ungkap Netanyahu di Bandara Ben Gurion sebelum keberangkatannya.
Ia menuduh para pemimpin dunia "lebih memilih memberikan hadiah berupa negara kepada para pembunuh, pemerkosa, dan pembakar anak-anak, alih-alih mengutuk mereka."
Netanyahu menegaskan bahwa Israel tidak akan membiarkan hal tersebut terjadi. Sebelumnya, Netanyahu juga menyatakan bahwa pengakuan Palestina oleh Inggris dan Prancis tidak memiliki konsekuensi hukum apa pun bagi Israel dan menggambarkannya sebagai bentuk kapitulasi memalukan sejumlah pemimpin terhadap teror Palestina.
Dalam kunjungannya ke Washington, Netanyahu dijadwalkan untuk bertemu dengan Presiden AS Donald Trump untuk yang keempat kalinya.
"Saya akan membahas peluang besar yang terbuka berkat kemenangan kita, serta tujuan perang kita: memulangkan semua sandera, mengalahkan Hamas, dan memperluas lingkaran perdamaian yang mulai terbentuk," tambahnya.
Usulan untuk mencapai perdamaian
Utusan Amerika Serikat, Steve Witkoff, pada hari Rabu mengindikasikan adanya kemajuan signifikan terkait situasi di Gaza.
Ia mengungkapkan bahwa Presiden Trump telah menyampaikan sebuah proposal perdamaian kepada negara-negara Arab dan Islam.
"Kami menyebutnya rencana 21 poin Trump untuk perdamaian di Timur Tengah dan Gaza," kata Witkoff, yang juga menambahkan keyakinannya bahwa kemajuan dalam diplomasi dapat segera tercapai.
"Saya pikir ini menjawab kekhawatiran Israel serta negara-negara tetangga di kawasan. Kami berharap, bahkan cukup yakin, bahwa dalam beberapa hari ke depan akan ada terobosan yang bisa diumumkan," ungkapnya.
Di sisi lain, situasi di Gaza terus memburuk. Serangan udara yang dilakukan oleh Israel pada hari Kamis dilaporkan menewaskan setidaknya 11 orang di sebuah rumah yang menjadi tempat penampungan pengungsi sipil, seperti yang disampaikan oleh juru bicara pertahanan sipil setempat kepada AFP.
Dalam beberapa pekan terakhir, militer Israel telah meningkatkan operasi darat di Kota Gaza, yang menyebabkan ratusan ribu warga sipil terpaksa meninggalkan kota terbesar di wilayah tersebut untuk menyelamatkan diri.
Kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan kemanusiaan semakin mendesak dan memerlukan perhatian internasional yang lebih besar.