Tak Tahu Diri, Netanyahu & Trump Kukuh Seenaknya Mau Usir Warga Palestina dari Gaza
Rencana tersembunyi Trump-Netanyahu semakin mencuat, keduanya ingin relokasi warga Palestina ke luar negeri.
Pertemuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Perdana Menteri (PM) Israel pada Senin (7/7) kemarin menjadi perhatian dunia setelah keduanya disebut membahas agenda tertutup terkait situasi di Palestina.
Belakangan terkuak pertemuan tersebut adalah rencana kontroversial mereka untuk memindahkan warga Palestina yang terkepung ke negara-negara tetangga.
Dikutip dari Al Jazeera, Selasa (8/7) pertemuan mereka terjadi saat pasukan zionis menewaskan 60 warga sipil Palestina pada Senin (7/7) kemarin dan terjadi pertemuan antara negosiator Israel serta Hamas di Qatar dalam rangka membahas gencatan senjata di Gaza.
Kabarnya, Israel dan Hamas sedang mempertimbangkan untuk gencatan senjata pasca konflik di Gaza telah menewaskan sedikitnya 57.523 orang dan melukai 136.617 orang, menurut Kementerian Kesehatan Gaza. Selain itu, diperkirakan 1.139 orang tewas di Israel selama serangan 7 Oktober 2023, dan lebih dari 200 orang ditawan.
Netanyahu Tolak Kemerdekaan Palestina
Pertemuan Donald Trump dan Benjamin Netanyahu di Gedung Putih juga sempat membahas kesepakatan gencatan senjata, prospek negara Palestina, dan apa yang akan terjadi pada rakyat Palestina di Gaza.
Dengan tegas, Netanyahu mengatakan bahwa Israel tidak menginginkan negara Palestina setelah apa yang terjadi pada 7 Oktober 2023 lalu.
Ia mengatakan bahwa selama karier politiknya masih bertahan, ia akan mencoba mencegah negara Palestina.
Lebih lanjut, ia memastikan Israel dan AS secara aktif berupaya mencari negara yang akan menerima warga Palestina dari Gaza.
Israel menyebut hal ini sebagai "migrasi sukarela" warga Palestina dari tanah air mereka meski kebijakan ini disinyalir sebagai upaya pembersihan etnis.
Netanyahu juga mempertegas Israel akan terus memelihara perang di Gaza hingga semua tujuan bisa tercapai.
Kedua pemimpin juga sedang mempertimbangkan kemungkinan relokasi warga Palestina ke negara lain sebagai bagian dari proses ini.
Presiden AS Donald Trump mengatakan jika ia tidak tahu apakah akan ada negara Palestina yang merdeka.
Sejatinya ada banyak isu yang dibahas oleh kedua negar. Perdana Menteri Israel juga akan berada di Washington, DC, hingga hari Kamis untuk diskusi lebih lanjut dengan anggota pemerintahan dan bertemu dengan anggota Kongres.
Dukung Trump Raih Nobel Perdamaian
Pernyataan Trump yang secara eksplisit menolak kemerdekaan Palestina bertolak belakang dengan rencana Netanyahu mengusulkan Trump meraih Nobel Perdamaian.
Netanyahu dalam pertemuan dengan Trump mengatakan telah mengirimkan surat yang menominasikan Trump meraih Nobel Perdamaian ke Komite Hadiah Nobel Perdamaian.
Dalam suratnya kepada Komite Hadiah Nobel Perdamaian, Netanyahu memuji "dedikasi luar biasa dan teguh Trump dalam memajukan perdamaian, keamanan, dan stabilitas di seluruh dunia.
Ia menulis bahwa Kesepakatan Abraham adalah salah satu pencapaian Trump yang "paling Utama" dalam menciptakan perdamaian.
"Visi dan kepemimpinan Presiden Trump yang berani mempromosikan diplomasi inovatif yang didefinisikan bukan oleh konflik dan ekstremisme, tetapi oleh kerja sama, dialog, dan kesejahteraan bersama," tulisnya dikutip dari Times of Israel.
Mengetahui usulan itu, Trump mengaku terhormat setelah menerima surat dari Netanyahu.
"Merupakan suatu kehormatan besar," kata Trump dikutip dari Al Jazeera, Selasa (8/7).