Netanyahu Akhirnya Sebut Palestina Bisa Merdeka di Wilayah Arab Saudi karena Alasan Ini

Netanyahu menyampaikan pernyataan itu kemarin dalam wawancara dengan stasiun televisi Israel.

Pandasurya Wijaya
Oleh Pandasurya Wijaya - Reporter
Netanyahu Akhirnya Sebut Palestina Bisa Merdeka di Wilayah Arab Saudi karena Alasan Ini
Poland joined other EU countries in allowing the Israeli leader entry without threat of arrest, this time for a ceremony commemorating the liberation of Auschwitz — which Netanyahu had no intention of attending anyway. (© 2025 merdeka.com)

Dalam wawancara dengan stasiun televisi Israel, Channel 14 kemarin, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menanggapi berbagai diskusi tentang posisi Arab Saudi dalam pendirian negara Palestina merdeka.

Menurut Netanyahu, karena Saudi menolak usulan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang ingin memindahkan warga Palestina dari Gaza, maka jika Saudi berkomitmen atas pembentukan negara Palestina maka negara Teluk itu bisa mendirikan negara Palestina di dalam wilayah mereka.

"Mereka (Saudi) bisa mendirikan negara Palestina di dalam wilayah mereka karena mereka punya wilayah yang cukup luas," kata Netanyahu, seperti dilansir laman Middle East Eye, Jumat (7/2).

Kementerian Luar Negeri Arab Saudi Rabu lalu menegaskan, negara kerajaan tersebut tidak akan membuka hubungan diplomatik dengan Israel tanpa komitmen pendirian negara Palestina.

Kementerian Arab Saudi juga menegaskan sikap negara kerajaan tersebut tegas dan tak tergoyahkan. Demikian dikutip dari The Jerusalem Post, Rabu (5/2).

Hal ini disampaikan setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan ingin mengusir warga Palestina di Gaza ke Mesir dan Yordania. Dalam konferensi pers bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Trump juga mengatakan akan membangun Jalur Gaza secara ekonomi setelah penduduknya diusir dipindah ke luar negeri.

Saudi juga menolak upaya pengusiran rakyat Palestina dari tanah air mereka. Sikap negara kerajaan ini terhadap Palestina tidak dapat dinegosiasikan.

Pernyataan tersebut juga menyatakan, putra mahkota Arab Saudi, Pangeran Muhammad bin Salman menegaskan posisi negaranya secara 'jelas dan eksplisit' yang tidak memungkinkan interpretasi apa pun dalam keadaan apa pun terkait Palestina.

Setiap usulan pemindahan warga Palestina adalah masalah yang sangat sensitif baik di kalangan warga Palestina maupun negara-negara Arab.

AS telah berbulan-bulan melakukan upaya diplomasi dengan Arab Saudi untuk normalisasi hubungan dengan Israel dan mengakui eksistensi negara Zionis penjajah tersebut. Namun, perang genosida Israel di Gaza sejak 7 Oktober 2023 membuat Riyadh mempertimbangkan kembali upaya normalisasi tersebut.

Trump ingin Saudi mengikuti langkah sejumlah negara Arab lainnya seperti Uni Emirat Arab dan Bahrain yang telah menormalisasi hubungan dengan Israel melalui Perjanjian Abraham pada 2020.

Rekomendasi